Langkah mereka terhenti serentak.
Jalan berlapis batu yang baru saja dilalui Liora, Ravi, Ardea, dan Nadara
tiba–tiba berubah tanpa suara—seperti ada tangan tak terlihat yang menata ulang
reruntuhan. Batu yang sebelumnya retak kini tersusun rapi, membentuk lorong
yang tidak ada beberapa menit lalu.
“Aku yakin ini tidak ada tadi,”
gumam Ardea sembari mengangkat tombaknya sedikit lebih tinggi.
Nadara memeriksa pola di dinding.
“Ini… bekas aktivasi. Lorong ini muncul karena seseorang membukanya.
Tapi bukan kita.”
Liora mundur setengah langkah. Ada
sesuatu dalam lorong itu yang terasa akrab… namun menakutkan. “Ada memori yang
bergerak di dalamnya,” bisiknya. “Bukan milikku. Milik seseorang yang pernah
menyentuh tubuhku—atau sumber ingatan itu sendiri.”
“Masuk,” ujar Ravi akhirnya.
Lorong itu memanjang seperti spiral
tak berujung. Dindingnya bersinar redup, bukan dari cahaya, tetapi dari
kenangan yang menempel pada setiap permukaannya. Setiap langkah terasa seperti
melintasi orang–orang yang pernah hidup dan mati untuk menjaga rahasia arka.
Setelah beberapa saat, mereka sampai
pada ruang bundar besar. Di tengahnya berdiri sesuatu yang membuat mereka semua
terdiam.
Seorang manusia.
“Ini tidak benar,” bisik Nadara.
“Manusia tidak bisa masuk sejauh ini tanpa terhapus oleh resonansi arka.”
“Berarti ada seseorang yang…
dilindungi arka,” gumam Ardea. “Atau seseorang yang dianggap bagian dari
arka.”
Liora mematung. Ada memori dalam
tubuhnya yang berdenyut cepat saat melihat jejak kaki itu. Sesuatu mencoba
kembali ke permukaan, namun tertahan.
“Ravi…” Liora memandangnya dengan
mata membesar. “Jejak ini… pernah berjalan bersamamu.”
Ravi mengernyit. “Aku? Aku tidak—”
Cahaya biru membentuk sosok
samar—seperti hologram, tapi hidup. Siluet pria muda, punggungnya menghadap
mereka, berdiri di samping jejak itu. Bahunya sedikit condong, seolah pernah
memikul beban berat. Lengan kirinya memegang sesuatu seperti peta atau fragmen
kristal.
Liora mundur. “Aku… mengenalnya.
Tapi aku tidak tahu dari mana.”
Nadara mencatat cepat. “Jika
resonansi ini memilih untuk muncul, berarti salah satu dari kita memiliki
hubungan langsung dengannya.”
Hening.
“Ini tidak seharusnya terjadi.”
Nadara menyentuh lantai kristal yang kini hanya lantai biasa. “Arka tidak
pernah menampilkan memori individu tanpa alasan.”
“Pertanyaannya,” Ardea menimpali,
“siapa dia? Dan kenapa jejaknya tersisa?”
Ravi memejamkan mata. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Aku rasa… ini bukan musuh,” ucap
Ravi pelan. “Tapi seseorang yang memulai perjalanan yang sama dengan kita.
Atau… seseorang yang dulu mempunyai hubungan dengan Liora.”
Karena satu hal:
Yang berarti…
“Seseorang berada di dalam arka
ini,” kata Ardea, suaranya serak. “Dan dia hanya beberapa langkah di depan
kita.”
Mereka saling menatap.
Lorong di belakang mereka tiba–tiba
berubah bentuk lagi, perlahan menutup seperti mulut raksasa yang ingin
mengurung mereka di sini.
“Pergi,” Ravi menarik Liora. “Kita
tidak boleh terjebak lagi.”
Namun saat mereka berbalik, dari
ujung lorong muncul cahaya biru lain—lebih stabil dari sebelumnya. Cahaya itu
berdetak pelan, seperti jantung yang mencoba menuntun mereka.
Ravi mengangkat obor. “Dia…
memanggil lagi.”
“Dia?” Nadara menatap. “Kau yakin
itu dia, bukan sesuatu yang lain?”
“Perasaanku,” ujar Ravi, “tidak
pernah salah soal ini.”
Ardea mendesis pendek. “Kalian sadar
kan? Kita sedang mengikuti seseorang yang bisa mengubah bentuk lorong arka
sesuka hati.”
Liora menelan ludah. “Dan entah
kenapa… arka lebih menurut padanya daripada pada kita.”
Dan tiba–tiba Nadara berhenti.
Ravi menoleh. “Maksudmu?”
Nadara menatap lurus ke kegelapan.
“Orang yang kita ikuti… bukan
penjelajah tersesat. Dia seseorang yang seharusnya sudah punah berabad-abad
yang lalu.”

0 Komentar