JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (18)

 

Es Es - Ikon Blog

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Langkah mereka terhenti serentak. Jalan berlapis batu yang baru saja dilalui Liora, Ravi, Ardea, dan Nadara tiba–tiba berubah tanpa suara—seperti ada tangan tak terlihat yang menata ulang reruntuhan. Batu yang sebelumnya retak kini tersusun rapi, membentuk lorong yang tidak ada beberapa menit lalu.

“Aku yakin ini tidak ada tadi,” gumam Ardea sembari mengangkat tombaknya sedikit lebih tinggi.

Nadara memeriksa pola di dinding. “Ini… bekas aktivasi. Lorong ini muncul karena seseorang membukanya. Tapi bukan kita.”

Liora mundur setengah langkah. Ada sesuatu dalam lorong itu yang terasa akrab… namun menakutkan. “Ada memori yang bergerak di dalamnya,” bisiknya. “Bukan milikku. Milik seseorang yang pernah menyentuh tubuhku—atau sumber ingatan itu sendiri.”

Ravi merasakannya juga. Ada tarikan halus, semacam panggilan yang pernah menyapanya ketika sosok bersayap gelap memanggil namanya.
Tapi panggilan ini berbeda. Lebih… manusiawi.

“Masuk,” ujar Ravi akhirnya.


Lorong itu memanjang seperti spiral tak berujung. Dindingnya bersinar redup, bukan dari cahaya, tetapi dari kenangan yang menempel pada setiap permukaannya. Setiap langkah terasa seperti melintasi orang–orang yang pernah hidup dan mati untuk menjaga rahasia arka.

Setelah beberapa saat, mereka sampai pada ruang bundar besar. Di tengahnya berdiri sesuatu yang membuat mereka semua terdiam.

Sebuah jejak kaki.
Hanya satu.
Terbenam dalam lantai kristal, seperti milik seseorang yang memakai sepatu biasa—bukan artefak, bukan makhluk, bukan penjaga.

Seorang manusia.

“Ini tidak benar,” bisik Nadara. “Manusia tidak bisa masuk sejauh ini tanpa terhapus oleh resonansi arka.”

“Berarti ada seseorang yang… dilindungi arka,” gumam Ardea. “Atau seseorang yang dianggap bagian dari arka.”

Liora mematung. Ada memori dalam tubuhnya yang berdenyut cepat saat melihat jejak kaki itu. Sesuatu mencoba kembali ke permukaan, namun tertahan.

“Ravi…” Liora memandangnya dengan mata membesar. “Jejak ini… pernah berjalan bersamamu.”

Ravi mengernyit. “Aku? Aku tidak—”

Namun kalimatnya terhenti.
Sebuah bayangan memecah udara dari sisi ruangan.

Cahaya biru membentuk sosok samar—seperti hologram, tapi hidup. Siluet pria muda, punggungnya menghadap mereka, berdiri di samping jejak itu. Bahunya sedikit condong, seolah pernah memikul beban berat. Lengan kirinya memegang sesuatu seperti peta atau fragmen kristal.

Liora mundur. “Aku… mengenalnya. Tapi aku tidak tahu dari mana.”

Nadara mencatat cepat. “Jika resonansi ini memilih untuk muncul, berarti salah satu dari kita memiliki hubungan langsung dengannya.”

Sosok itu berbalik.
Namun sebelum wajahnya terlihat jelas—

Cahaya runtuh.
Semuanya padam.

Hening.


“Ini tidak seharusnya terjadi.” Nadara menyentuh lantai kristal yang kini hanya lantai biasa. “Arka tidak pernah menampilkan memori individu tanpa alasan.”

“Pertanyaannya,” Ardea menimpali, “siapa dia? Dan kenapa jejaknya tersisa?”

Ravi memejamkan mata. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Aku rasa… ini bukan musuh,” ucap Ravi pelan. “Tapi seseorang yang memulai perjalanan yang sama dengan kita. Atau… seseorang yang dulu mempunyai hubungan dengan Liora.”

Liora hanya bisa menggigit bibir. Jantungnya tidak berhenti berdebar.
Jejak manusia itu terasa lebih menakutkan daripada entitas besar mana pun.

Karena satu hal:

Jejak itu—masih hangat.
Seolah baru ditinggalkan kurang dari satu jam.

Yang berarti…

“Seseorang berada di dalam arka ini,” kata Ardea, suaranya serak. “Dan dia hanya beberapa langkah di depan kita.”

Mereka saling menatap.

Lorong di belakang mereka tiba–tiba berubah bentuk lagi, perlahan menutup seperti mulut raksasa yang ingin mengurung mereka di sini.

“Pergi,” Ravi menarik Liora. “Kita tidak boleh terjebak lagi.”

Namun saat mereka berbalik, dari ujung lorong muncul cahaya biru lain—lebih stabil dari sebelumnya. Cahaya itu berdetak pelan, seperti jantung yang mencoba menuntun mereka.

Ravi mengangkat obor. “Dia… memanggil lagi.”

“Dia?” Nadara menatap. “Kau yakin itu dia, bukan sesuatu yang lain?”

“Perasaanku,” ujar Ravi, “tidak pernah salah soal ini.”

Ardea mendesis pendek. “Kalian sadar kan? Kita sedang mengikuti seseorang yang bisa mengubah bentuk lorong arka sesuka hati.”

Liora menelan ludah. “Dan entah kenapa… arka lebih menurut padanya daripada pada kita.”


Mereka melangkah mengikuti cahaya, mendekati ruang yang lebih luas.
Dari kejauhan, terdengar bunyi ketukan ritmis—seperti seseorang mengetuk benda keras mengikuti pola tertentu.

Dan tiba–tiba Nadara berhenti.

“Ravi.”
Nada suaranya berubah dingin. “Pola ketukan itu… itu kode kuno dari para Penafsir Arka. Kode yang hanya diajarkan pada garis keturunan tertentu.”

Ravi menoleh. “Maksudmu?”

Nadara menatap lurus ke kegelapan.

“Orang yang kita ikuti… bukan penjelajah tersesat. Dia seseorang yang seharusnya sudah punah berabad-abad yang lalu.”


back  --------------------------  next

Posting Komentar

0 Komentar