JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (20)

 

Es Es - Ikon Blog

JEJAK YANG MENGIKAT NAMA MEREKA

Lorong di depan mereka terasa seperti menelan suara. Setelah pilar kristal memunculkan memori hidup yang seharusnya tidak ada lagi, suasana menjadi berat—terlalu berat—seolah arka sendiri menahan napas.

Ravi menatap gelap di ujung lorong. “Dia masih hidup,” ucapnya, mengulang kata-kata Nadara, tapi kini dengan getaran yang tak ia sembunyikan. “Dan dia tidak sendirian.”

“Kalau begitu,” Ardea memutar tombaknya, “kita tidak boleh diam di sini.”

Namun langkah pertama yang ia ambil bergema aneh. Suara pantulannya tidak lurus—seolah ada langkah lain yang mengikuti, tapi setengah detik terlambat.

Liora mengusap lengan. “Ardea… kau dengar itu?”

“Ya,” jawabnya pelan. “Tapi suaranya… seperti datang dari bawah lantai.”

Nadara berdiri di depan pilar kristal, jemarinya bergerak menyentuh simbol-simbol yang masih bergetar lemah. “Arka mengubah struktur ruangnya lagi. Ini pertanda bahwa sesuatu sedang bergerak di dalamnya.”

“Pemuda itu?” Ravi bertanya.

Nadara menggeleng. “Bukan hanya dia. Ada yang lebih besar bergerak bersamanya.”

Ardea mendecak. “Bagus. Satu makhluk misterius belum cukup.”

“Tolong jangan bercanda,” Liora menggenggam dadanya. “Rasanya… ada sesuatu yang menarikku ke arah sana.”

Ravi mendekat, memegang bahunya. “Kalau kau merasa tidak kuat—”

“Aku kuat,” potong Liora. “Tapi tubuhku tidak suka kebohongan. Dan sekarang, seluruh arka ini terasa… jujur.”

Mereka saling berpandangan.

Arka jujur?

Ravi menghela napas keras. “Baik. Kita lanjut sebelum arka memutuskan menelan kita.”

==========

Lorong bergerak sebelum mereka melangkah.

Lantai di depan mereka memanjang, seperti pita yang ditarik tangan tak terlihat. Cahaya biru menipis menjadi garis-garis sempit yang berdenyut lambat. Udara berubah lebih dingin dan mengandung bau logam basah.

Ravi berjalan pertama. Liora berada tepat di belakangnya. Nadara menyesuaikan ritme langkahnya, dan Ardea menjaga belakang.

Namun semakin jauh mereka masuk, semakin aneh lorong itu terasa.

Atapnya berubah tinggi—lalu rendah.

Dindingnya kadang bergetar—kadang seperti bernapas.

Dan beberapa kali, Ravi menghentikan langkahnya karena merasa ada seseorang berjalan di sampingnya.

Padahal tidak ada siapa pun.

“Rasanya… kita tidak sendirian,” ucap Ravi.

“Kita memang tidak,” jawab Nadara. “Arka sedang… mengingat kita. Melihat kita. Menilai kita.”

“Seperti… memilih?” Liora bertanya.

Nadara tidak menjawab.

==========

 

Sebuah bunyi halus terdengar.

“Drrr—krek—krrr…”

Ardea menajamkan pendengaran. “Dari mana itu?”

“Dari dinding,” Ravi menunjuk.

Dinding yang ia tunjuk tiba-tiba memunculkan retakan tipis cahaya. Retakan itu membuka perlahan seperti kelopak bunga yang patah. Dari dalamnya muncul… bukan makhluk, bukan bayangan.

Tapi memori.

Bentuknya seperti siluet manusia, transparan, bergerak lambat—seperti seseorang yang berjalan melewati ruang berbeda, tetapi tercetak ke dinding mereka.

Liora hampir tersandung mundur. “Itu…”

“Abaikan!” Nadara menariknya. “Itu bukan makhluk hidup. Itu sisa jejak, seperti bayangan langkah yang terekam lantai.”

“Jadi seseorang pernah berjalan di sini?” Ravi bertanya.

Nadara menatap dinding itu dalam-dalam.

“Bukan seseorang,” ucapnya. “Beberapa orang.”

Ravi memicingkan mata. Jejak itu memanjang—dua sosok—ukuran tubuh mereka berbeda. Yang satu tinggi, yang satu lebih kecil. Mereka seperti berjalan seiring… menuju arah yang sama dengan mereka.

Liora menelan ludah. “Mereka…”

“Jangan tebak,” kata Nadara cepat. “Jejak bisa menipu. Bisa sembarang menempel.”

Tapi wajahnya tidak meyakinkan.

Ardea memperhatikan retakan yang menutup kembali. “Kalau itu memori, artinya seseorang pernah melintasi lorong ini sebelum kita?”

Nadara mengangguk berat. “Dan waktunya… tidak terlalu lama.”

Ravi merasakan kulit tengkuknya meremang. “Jadi pemuda itu benar-benar baru saja berada di sini.”

“Itu kemungkinan besar.” Nadara menatap gelap di depan. “Dan dia meninggalkan jejak bukan tanpa alasan.”


Getaran lembut mengguncang lantai.

Bukan gempa.

Bukan juga langkah kaki.

Lebih mirip… denyut jantung raksasa.

“Dengar,” bisik Liora, matanya membelalak. “Itu ritme yang sama seperti dalam tubuhku…”

Ravi langsung menoleh cepat. “Liora?”

Ia menggeleng, bingung dan takut. “Bukan aku—bukan tubuhku pergolakannya. Tapi resonansinya sama. Seperti… seperti ada sesuatu yang diselaraskan denganku.”

Ardea bergerak refleks, berdiri sedikit di depan Liora. “Kalau ada yang berani—”

“Tunggu,” Nadara mengangkat tangan. “Itu bukan ancaman. Itu panggilan.”

“Panggilan dari siapa?” tanya Ravi.

Nadara menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Dari pusat arka.”

Ravi merasakan udara menegang.

“Pusat arka memanggil… Liora?”

“Nanti saja kita bicarakan.” Nadara menurunkan suaranya. “Yang penting sekarang: semua resonansi diarahkan ke satu titik… semakin kuat.”

Ardea menatap kegelapan yang semakin menutup lorong di depan mereka. “Kita mengejar pemuda misterius itu, bukan?”

“Ya.” Ravi mengangguk.
“Tapi dia tidak lari,” lanjut Nadara. “Dia menunggu kita.”

“Kenapa?”

“Aku takut dia tidak menunggu kita,” Nadara menatap Liora.
“Dia… menunggu dia.”

Liora menggigit bibir. Tangannya bergetar. “Aku tidak mengenalnya…”

“Tapi tubuhmu mengenali,” kata Nadara lembut. “Dan itu lebih berbahaya.”

==========

 

Arka berubah bentuk.

Ada suara retak panjang di atas kepala mereka. Simbol-simbol biru jatuh seperti serpihan cahaya dan membentuk pola aneh di udara.

Ravi mengangkat obor lebih tinggi. “Apa lagi itu?”

“Sistem peringatan,” jawab Nadara. “Arka sedang mengganti struktur ruang.”

Dan benar saja.

Lorong di depan mereka bergerak perlahan, memanjang… kemudian membentuk percabangan.

Tiga jalan.

Semua gelap.

Semua berdenyut dengan energi yang sama.

Ravi menggeram. “Tentu saja. Arka selalu membuat segalanya rumit.”

Nadara memejamkan mata, mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar bagi yang lain. “Jalan tengah… itu yang paling stabil.”

“Dan paling berbahaya?” Ardea menyeringai masam.

“Biasanya begitu.”

Liora mendekat ke jalan tengah. Tubuhnya berhenti bergetar. Napasnya berubah stabil, seolah ia akhirnya menemukan ritme yang cocok.

“Di sini,” katanya perlahan.

Ravi langsung maju dan berdiri di sampingnya. “Kalau itu membuatmu tenang, kita ambil jalur ini.”

Ardea memutar tombaknya. “Dan kalau ada yang menunggu di ujung, aku yang pertama memukul.”

Nadara menghela napas, lalu ikut berjalan. “Dia tidak akan memukul. Kalau seseorang menunggu, dia memanggil.”

Ucapan itu membuat Liora kembali menggigil.

==========

 

Mereka berjalan semakin dalam.

Semakin gelap.

Semakin sempit.

Cahaya biru meredup sampai hampir padam.

Ravi merasa suara napasnya sendiri seperti terlalu keras.
Seperti ada sesuatu yang mendengarkan.

Ardea beberapa kali menoleh ke belakang. “Rasanya seperti ada yang berjalan di belakang kita.”

“Tidak ada apa pun,” jawab Ravi tanpa yakin.

“Tidak ada yang terlihat,” koreksi Ardea.

Nadara mempercepat langkahnya. “Ayo. Kita harus keluar dari jalur ini sebelum perubahan ruang berikutnya.”

Liora berkata pelan, “Kenapa aku merasa lorong ini… mengenal kita satu per satu?”

Nadara menatapnya, tatapan yang tidak biasanya penuh kecemasan.

“Karena itu kenyataannya.”

==========

 

Akhir lorong mulai terlihat.

Sebuah ruangan samar dengan cahaya biru lembut menunggu di depan mereka.

Ravi menajamkan mata. “Itu…”

Namun sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, udara bergeser.
Simbol-simbol di dinding menyala.

Lantai bergetar.

Dan suara yang dalam, seperti gema dari tempat sangat jauh—sangat tua—mengalun pelan.

Liora terpaku. “Aku… mendengar sesuatu.”

“Liora?” Ravi memegangi lengannya.

Ia menatap ruang itu dengan mata membesar. “Ada seseorang… memanggilku.”

Nadara menutup mulutnya, dan ketakutannya terlihat jelas.

Ravi mengangkat obor, memandang ke depan—
dan seberkas cahaya biru menari di ruangan itu.

Siluet seseorang.
Bukan jelas.
Bukan penuh.
Tetapi cukup untuk membuat mereka semua berhenti bernapas.

Seseorang berdiri di dalam ruangan itu.
Diam.
Menunggu.

Ravi menyipitkan mata.

Dan ketika siluet itu bergerak sedikit—
sebagian wajahnya terlihat samar.

Ardea bersumpah pelan. “Itu dia…”

Ravi merasakan jantungnya berhenti sekejap.

Pemuda itu.
Yang hilang.
Yang membakar memori pada pilar.
Yang wajahnya mereka lihat sekilas sebelum digerus cahaya.

Liora menutup mulutnya dengan tangan. “Kenapa… aku merasa dia mengenalku?”

Ravi menariknya mundur setengah langkah.

Nadara berbisik,

“Karena dia tahu namamu… bahkan sebelum kita menyebutnya.”

Lalu cahaya biru padam seketika—

Dan kegelapan menggulung ruangan itu.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar