JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (22)

 

Es Es - Ikon Blog

Ketika Bayangan Itu Membuka Mata

Sumur cahaya meledak ke udara seperti denyut jantung Arka yang akhirnya terbangun setelah ratusan tahun tertidur. Cahaya biru membentuk pusaran besar di atas mereka, dan dari dalam cahaya itu, sesuatu keluar dari tubuh Liora.

Bukan sosok utuh.
Bukan bayangan hitam biasa.

Tetapi siluet manusia yang tersusun dari serpihan-serpihan cahaya, seperti riak air yang mencoba menjadi tubuh. Wajahnya belum jelas, hanya garis-garis abstrak yang bergetar seakan berusaha mengingat bentuknya sendiri.

Liora terhuyung, memegang kepalanya. “Dia… dia ingin keluar…!”

Ravi menangkap bahunya. “Bertahan, Liora! Kau bukan wadahnya!”

Bayangan itu bergerak.
Tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Justru berdiri menghadap penjaga tua itu.

Pria tua itu memejamkan mata berat. “Aku tahu kau akan muncul.”

Bayangan itu bergetar… sebelum memunculkan suara seperti gema dari beberapa suara sekaligus:

“Tidak ada lagi waktu…”

Nadara mundur satu langkah. “Dia bicara?”

“I-iya…” Ardea menelan ludah. “Dan suaranya… bukan suara satu orang.”

Bayangan itu berbalik perlahan ke arah Liora.

Seketika tubuh gadis itu menegang keras—seperti seseorang menarik napasnya dari dalam.

“Liora!” Ravi mengguncangnya.

Bayangan itu menjangkau Liora, dan saat ujung jarinya yang bercahaya menyentuh bahu gadis itu—

Brak!

Ardea menebasnya cepat dengan tombaknya, memotong kontak.

Cahaya di ruangan meredup sesaat akibat benturan energi.

Ardea mendesis, “Jangan sentuh dia!”

Bayangan itu mundur… namun tidak menyerang balik.
Ia hanya menatap Ardea dengan bentuk wajah yang samar, seolah bertanya mengapa ia melakukan itu.

Penjaga tua itu mengangkat tangan. “Cukup.”

Ia menatap Ravi, Ardea, dan Nadara satu per satu.

“Kalian salah memahami ini. Bayangan itu bukan ingin mengambil tubuh Liora… tetapi ingin menyatu kembali dengannya.”

Ravi terdiam.
Nadara mengernyit.
Ardea menegang.

Liora mengguncang kepala. “Aku… aku tidak mengenal dia…”

Penjaga tua itu menatapnya dengan kesedihan tak terjelaskan.

“Liora… kau mengenalnya.”
Ia meletakkan tangan di dada.
“Atau lebih tepatnya… bagian dari dirimu mengenalnya.”

Bayangan itu bergetar kuat, lalu berbicara lagi:

“Sebelum Arka runtuh… aku berjanji akan kembali kepadamu…”

Ravi memutar kepala cepat ke Liora. “Apa maksudnya itu?”

Liora menutup telinga. “Aku tidak mau! Suara itu… rasanya terlalu dekat… tapi juga asing! Seperti… seperti sesuatu yang pernah kucintai tapi tidak pernah kuingat!”

Ravi merasakan sesuatu yang menusuk dadanya.

Kecemburuan?
Ketakutan?
Atau kekhawatiran bahwa ia akan kehilangan Liora sebelum ia benar-benar mengenalnya?

Bayangan itu meraih Liora lagi—kali ini lebih cepat.

Ravi mencoba mendorong Liora menjauh—tapi sentuhan bayangan itu lebih dulu mencapai tubuh gadis itu.

Liora tersedak keras.

Dan tiba-tiba—
seluruh ruangan memancarkan cahaya putih menyilaukan.

Ravi, Ardea, dan Nadara terlempar mundur oleh letusan energi.

Penjaga tua itu berteriak, “JANGAN PAKSA! KALIAN BERDUA BELUM SIAP—”

Namun terlambat.

Liora menjerit.

Bayangan itu menghilang.

Cahaya mereda.

Dan ketika semuanya kembali terlihat—

Liora berdiri di tengah ruangan.

Sendirian.

Mata gadis itu bersinar biru muda.
Bukan seperti biasa.
Lebih dalam.
Lebih tua.
Lebih… mengenal ruangan itu daripada dirinya sendiri.

Ravi bangkit, terpincang. “Liora…?”

Gadis itu menatapnya—

dan tersenyum tipis.

Bukan senyum Liora.

Senyuman seseorang lain yang kini berbicara melalui tubuhnya.

“Akhirnya aku kembali.”

Ardea menyumpah pelan. “Sial… DI SINI TERJADI FUSI.”

Nadara menutup mulutnya. “Liora… tidak sepenuhnya hilang. Tapi dia tidak sendirian lagi.”

Ravi menggenggam obornya lebih kuat.

“Liora… kalau kau masih bisa mendengar kami… bertahanlah. Kami akan menyelamatkanmu.”

Tubuh Liora—atau sosok yang kini mengendalikan tubuh itu—memiringkan kepala.

“Ravi…”
suara itu lembut namun bergema,
“…kau tidak mengerti. Aku tidak datang untuk melukai.”

Ia tersenyum lagi.

“Aku datang karena hanya Liora yang bisa membuka jalan menuju inti Arka… dan hanya aku yang tahu bagaimana caranya.”

Cahaya biru menyebar dari telapak kaki Liora, merambat ke seluruh chamber.

Penjaga tua itu gemetar.

“Dia baru saja mengaktifkan jalur menuju inti.”

Ardea memaki.

Nadara menggenggam lengan Ravi.

Ravi menatap lurus ke arah gadis itu.

Apa pun yang terjadi selanjutnya—
tak ada jalan kembali.

Sementara Penjaga tua itu lenyap memudar, membentuk bayangan lalu kabut lalu menipis dan hilang tak berbekas. Tugasnya selesai.

Liora ambruk. Ravi bergerak menangkap nya.

"Liora sudah kembali," kata Nadara, "Tunggu ia bangun."


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar