Kesederhanaan datang seperti memilih jalan kaki di
jarak pendek. Bukan protes pada kendaraan, hanya merasa lebih cepat sampai.
Tapi langkah yang pelan sering dibaca sebagai komentar, seolah setiap kaki yang
melangkah sedang menghakimi roda.
Niat awalnya mudah. Tidak berlebihan, tidak menonjol, tidak ribut. Pilihan
dibuat supaya hari tidak terasa berat. Barang secukupnya, kata secukupnya,
keinginan secukupnya. Kesederhanaan terasa seperti jalan pintas menuju hidup
yang lebih ringan. Tidak ada spanduk, tidak ada deklarasi. Hanya langkah kecil
yang diambil sambil berharap tidak diperhatikan.
Masalah muncul ketika pilihan itu dibaca sebagai pernyataan. Seolah setiap
keputusan kecil membawa mikrofon. Menolak kemewahan dianggap sindiran. Memilih
yang praktis ditafsirkan sebagai kritik diam-diam. Bahkan diam pun tampak
seperti strategi komunikasi. Kesederhanaan yang tadinya niat pribadi berubah
menjadi etalase yang tidak pernah diminta.
Ada kebingungan di sana. Mengapa hidup apa adanya bisa terlihat seperti
pertunjukan? Mengapa tidak membeli dianggap memamerkan kemampuan menahan diri?
Di titik itu muncul kesadaran canggung: mungkin dunia terlalu terbiasa dengan
suara keras, sehingga keheningan pun terdengar seperti klaim. Aku mulai
menyadari bahwa niat jarang ikut terbaca bersama tindakan.
Kebiasaan pun berubah sedikit. Kesederhanaan mulai dilakukan dengan
hati-hati, bukan agar tetap sederhana, tapi agar tidak tampak sok sederhana.
Ironisnya, kehati-hatian ini justru menambah beban. Pilihan yang tadinya ringan
kini dipenuhi pertimbangan: apakah ini akan disalahpahami, apakah ini akan
dianggap pamer. Kesederhanaan jadi pekerjaan penuh waktu.
Ada hari-hari ketika ingin bersikap biasa saja, lalu mendapati bahwa biasa
saja sudah tidak netral. Ia punya reputasi. Ia membawa asumsi. Bahkan
ketidakinginan untuk menonjol bisa dibaca sebagai cara halus untuk menonjol.
Seperti mengenakan pakaian polos di ruangan penuh kostum, lalu dituduh sedang
membuat pernyataan mode.
Lucunya, tidak ada yang benar-benar diminta dari siapa pun. Tidak ada
ajakan, tidak ada ceramah. Hanya pilihan-pilihan kecil yang terasa masuk akal.
Namun pilihan itu terus diberi konteks tambahan oleh mata yang melihat.
Kesederhanaan kehilangan sifat alaminya karena terlalu sering dijelaskan oleh
orang lain.
Di sela semua itu, muncul rasa bersalah yang aneh. Bersalah karena memilih
sedikit. Bersalah karena terlihat mampu menahan diri. Bersalah karena dianggap
nyaman dengan keadaan yang tidak semua orang pilih. Rasa bersalah ini tidak
pernah diminta, tapi tetap dipikul. Seolah-olah hidup yang tidak ribut perlu
meminta izin lebih dulu.
Ada upaya untuk merapikan penampilan agar tidak tampak terlalu rapi. Upaya
untuk bersikap biasa agar tidak terlihat disengaja. Sebuah usaha keras untuk
tampak tidak berusaha. Di sana paradoks itu bekerja tanpa suara: semakin ingin
sederhana, semakin tampak sebagai konsep.
Pada titik tertentu, lelah juga menghitung tafsir orang. Kesederhanaan yang
terus-menerus dibela bukan lagi kesederhanaan. Ia sudah berubah menjadi
argumen. Aku sempat bertanya dalam hati, sejak kapan hidup perlu penjelasan
kaki halaman agar tidak disalahartikan.
Pelan-pelan, perhatian dialihkan kembali ke niat awal. Hidup yang terasa
cukup, bukan hidup yang terlihat cukup. Tidak semua kesalahpahaman perlu diluruskan.
Tidak semua tafsir perlu ditanggapi. Kesederhanaan, jika terlalu sibuk dibela,
akan kehilangan manfaat utamanya: ruang bernapas.
Akhirnya disadari bahwa dianggap pamer mungkin risiko yang tak terhindarkan.
Sama seperti dianggap berlebihan ketika memilih lebih. Tafsir orang lain
bergerak bebas, sementara niat hanya tinggal di satu kepala. Aku memilih
berhenti mengatur kesan, dan kembali mengurus pilihan.
Kesederhanaan tidak lagi diperlakukan sebagai identitas, apalagi pernyataan
moral. Ia hanya cara berjalan yang terasa pas di kaki sendiri. Jika di mata
orang lain terlihat seperti sesuatu yang lain, biarlah.

0 Komentar