DUNIA SEBELUM KITA (XV)


 

Cahaya yang Menetap

Angin senja bergerak perlahan, menyelusup di antara puncak rumput yang bergoyang seperti gelombang kecil di lautan hijau muda. Langit memerah keemasan, seolah matahari menolak pergi sebelum memastikan dunia baru ini benar-benar siap berdiri sendiri. Kira berdiri di atas batu datar, tempat ia dulu sering menunggu tanda-tanda dari langit. Kini, tak ada lagi cahaya turun menembus awan, tak ada lagi bisikan ilahi di angin.

Namun hatinya tidak kosong.

Lumi duduk tak jauh, menatap lembut sungai yang mengalir jernih. Aliran itu membawa pantulan surya yang bergetar, seperti serpihan cahaya yang belum sempat menyatu dengan udara. Di sisi lain, Ravi berdiri memandang cakrawala. Anak muda itu belum sepenuhnya memahami mengapa ia dipilih untuk melanjutkan perjalanan peradaban. Tapi ia sudah merasakannya — panggilan halus itu, seperti gerakan arus yang menarik kapal kecil tanpa suara.

“Setelah ini… tidak akan ada lagi cahaya yang turun secara langsung,” bisik Lumi. “Kita harus belajar menyalakan cahaya dari dalam diri sendiri.”

Kira mengangguk. “Memang begitu seharusnya. Dunia harus tumbuh… bukan hanya dibentuk.”

Mereka hening. Untuk pertama kalinya, keheningan itu tidak menyesakkan. Seperti tanah yang baru saja diguyur hujan pertama: basah, subur, penuh kemungkinan. Angin mengangkat helai rambut Kira, dan ia merasa bukan lagi sebagai saksi peradaban lama, melainkan sebagai jembatan yang mengizinkan yang lama berlalu dan yang baru tumbuh.

Di kejauhan, burung-burung menari di udara, menandakan awal kehidupan yang biasa — tapi justru itulah keajaiban dunia baru: biasa. Tidak megah, tidak penuh tanda, tidak diseret takdir besar. Justru karena itu penuh harapan.

Ravi menatap mereka berdua dan berkata lirih, “Kalian pernah dibimbing cahaya. Tapi aku… aku harus mencari cahaya itu sendiri, ya?”

“Bukan mencari,” jawab Lumi lembut. “Menjadi.”

Kira menutup mata sejenak. Ia membayangkan Tana, Rohag, semua jiwa yang membentuk dunia ini dari kekosongan penuh keajaiban hingga menjadi bumi yang menuntut keringat dan cinta. Ia tidak memanggil mereka; ia hanya mengingat. Dan itu cukup. Mereka telah menjadi tanah, angin, sungai, dan napas cerita.

Ketika ia membuka mata, matahari perlahan tenggelam. Cahaya terakhirnya menempel pada wajah ketiganya, lalu memudar. Tidak dramatis, tidak penuh gemuruh. Hanya tenang — seperti berkat yang tidak perlu kata-kata.

Dunia tidak lagi menunggu mukjizat.

Karena kini, manusia itu sendiri adalah mukjizatnya.

Dan dengan langkah kecil Ravi menuruni lereng menuju lembah yang belum dinamai, dimulailah kisah manusia yang hidup bukan untuk mengingat cahaya… tapi untuk menyalakannya dari dalam. Dunia baru bergerak. Tanpa sorak sorai langit, tanpa tanda. Hanya bumi, waktu, dan hati yang berani mulai lagi.

Begitulah sejarah tidak tertulis yang melanjutkan dirinya:

pelan, sederhana, dan abadi.

(end)

-------------------------

start 

Posting Komentar

0 Komentar