Surat
Keluhan Palsu
Sejak keluar dari Komunitas Dapur Mingguan,
kamu seperti menemukan kembali energi jahat yang sejak lama macet di
persimpangan hidupmu. Rasanya seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun
terkurung dalam kamar pengap. Dunia tiba-tiba tampak luas, liar, dan siap kamu
acak-acak. Atau setidaknya, itu harapanmu. Kenyataannya, semesta masih
berkeliaran di sekitarmu, menatapmu dari balik awan, siap membalikkan semua
niat burukmu menjadi kartu ucapan selamat ulang tahun.
Kamu memutuskan sudah saatnya melakukan tindakan jahat berskala lebih luas.
Bukan lagi kekacauan kecil yang gagal total seperti minggu-minggu sebelumnya.
Bukan lagi niat buruk yang berubah menjadi amal. Kamu butuh sesuatu yang besar,
sistematis, dan membingungkan. Sesuatu yang akan membuat perangkat desa sibuk,
warga resah, dan hari-hari mereka penuh keluhan.
Karena itulah kamu memilih cara paling klasik dan paling pengecut yang
pernah diciptakan manusia: surat keluhan anonim.
Tapi kamu tidak berhenti pada satu surat. Tidak dua. Tidak lima.
Kamu menulis ratusan. Seratus? Dua ratus? Kamu bahkan tidak
menghitungnya lagi. Kamu menulis sampai tanganmu kram dan bahasa tubuhmu
berubah seperti penulis skripsi yang sudah kehilangan harapan hidup.
Isinya keluhan tentang apa saja:
lampu jalan redup, got mampet, pos ronda berdebu, taman tidak terurus, bangku
retak, rumput terlalu tinggi, ubin retak setengah senti. Kamu bahkan mengeluh
tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kamu lihat secara langsung.
Kamu menulis seolah-olah sedang menciptakan biografi kerusakan desa.
Setiap malam kamu mengirimkan tumpukan amplop itu ke kotak saran balai desa.
Bentuknya begitu banyak sampai kamu khawatir kotaknya akan muntah. Dan ketika
akhirnya kotak itu penuh dan mulai sesak seperti koper jamaah haji, kamu merasa
kemenangan mengalir pelan di tubuhmu.
Kamu membayangkan perangkat desa kebingungan, rapat darurat digelar, notulen
berjatuhan, staf desa saling menatap dengan tatapan “siapa warga tak berfaedah
ini”. Kamu membayangkan kekacauan administratif yang kamu idamkan.
Tapi semesta, seperti biasa, tidak setuju dengan ambisimu.
Beberapa hari kemudian, kamu berjalan melintasi jalan desa dengan niat
menikmati runtuhnya peradaban kecil itu. Tapi yang kamu temui justru
pemandangan paling tidak masuk akal sepanjang hidupmu.
Warga berbondong-bondong keluar rumah. Ada yang bawa cangkul. Ada yang bawa
sapu lidi. Ada yang bawa ember. Ada yang mengangkat rumput liar seperti sedang
memanen sayur.
Dipimpin oleh Pak RT yang suaranya selalu bergetar penuh semangat, mereka
melakukan gotong royong berskala raksasa.
Bukan gotong royong biasa. Ini seperti festival bersih-bersih yang
digerakkan oleh motivasi supernatural.
Lampu jalan sudah diganti.
Got sudah dibersihkan sampai kamu bisa bercermin di airnya.
Pos ronda dicat ulang seperti rumah baru pasangan muda.
Taman desa berubah jadi versi sederhana dari taman kota di brosur wisata.
Rumput dipotong. Ubin diperbaiki. Papan nama diluruskan.
Semua tampak begitu tertata, begitu bersih, begitu sempurna sampai kamu
merasa sedang berjalan di mimpi orang lain. Mimpi seseorang yang jauh lebih
waras darimu.
Kamu terpaku di depan balai desa, memandang poster besar yang baru ditempel
pagi itu:
“Terima kasih kepada warga yang mengirim banyak laporan! Kritik dan
saran Anda memicu aksi gotong royong paling besar tahun ini!”
Matamu menyipit. Kamu merasakan detak jantungmu semakin keras, seperti
sedang dipukul dari dalam dada.
Di bawah tulisan itu, ada kalimat yang lebih kejam daripada seluruh isi
surat keluhanmu:
“Kita semua patut berterima kasih kepada warga misterius yang begitu
peduli pada desa ini. Semangatnya menginspirasi kita semua.”
Warga misterius.
Kamu.
Peduli.
Kamu?
Menginspirasi?
Kamu merasa lututmu melemah. Kamu ingin jatuh. Kamu ingin menjerit. Kamu
ingin mengatakan bahwa yang kamu lakukan adalah fitnah massal, bukan aksi
sosial. Kamu ingin mengumandangkan bahwa kamu sebenarnya sedang berusaha
menjadi jahat, bukan pahlawan lingkungan.
Tapi warga justru tersenyum padamu saat kamu lewat. Ada yang menepuk bahumu.
Ada yang memberi senyum tulus. Ada yang berkata, “Beruntung ada orang yang
peduli kayak gitu ya.”
Peduli?
Kamu ingin pingsan.
Rasanya kamu seperti dilempar masuk ke skenario karma yang salah alamat.
Niat jahatmu bukan hanya gagal, tapi dipromosikan menjadi teladan sosial. Dalam
kebengongan, tanpa sadar tanganmu ikut mengangkut rumput-rumput liar yang sudah
terkumpulkan ke tempat pembuangan yang telah disiapkan. Sampai selesai.
Kamu berjalan pulang dengan kepala berat dan langkah limbung, sambil
bertanya-tanya kapan semesta akhirnya akan membiarkanmu menjadi jahat walau
hanya satu menit. Tapi bahkan pertanyaan itu pun seperti ditertawakan oleh
langit yang cerah tidak masuk akal.
Dan untuk pertama kalinya sejak ambisi gilamu dimulai, kamu benar-benar
merasa lelah. Lelah karena dipuji. Lelah karena disalahpahami. Lelah karena
hidupmu seperti komedi gelap yang ditulis oleh seseorang yang sangat membenci
logika.

0 Komentar