PERCAYALAH, AKU JAHAT (13)



Surat Keluhan Palsu

Sejak keluar dari Komunitas Dapur Mingguan, kamu seperti menemukan kembali energi jahat yang sejak lama macet di persimpangan hidupmu. Rasanya seperti membuka jendela setelah bertahun-tahun terkurung dalam kamar pengap. Dunia tiba-tiba tampak luas, liar, dan siap kamu acak-acak. Atau setidaknya, itu harapanmu. Kenyataannya, semesta masih berkeliaran di sekitarmu, menatapmu dari balik awan, siap membalikkan semua niat burukmu menjadi kartu ucapan selamat ulang tahun.

Kamu memutuskan sudah saatnya melakukan tindakan jahat berskala lebih luas. Bukan lagi kekacauan kecil yang gagal total seperti minggu-minggu sebelumnya. Bukan lagi niat buruk yang berubah menjadi amal. Kamu butuh sesuatu yang besar, sistematis, dan membingungkan. Sesuatu yang akan membuat perangkat desa sibuk, warga resah, dan hari-hari mereka penuh keluhan.

Karena itulah kamu memilih cara paling klasik dan paling pengecut yang pernah diciptakan manusia: surat keluhan anonim.

Tapi kamu tidak berhenti pada satu surat. Tidak dua. Tidak lima.
Kamu menulis ratusan. Seratus? Dua ratus? Kamu bahkan tidak menghitungnya lagi. Kamu menulis sampai tanganmu kram dan bahasa tubuhmu berubah seperti penulis skripsi yang sudah kehilangan harapan hidup.

Isinya keluhan tentang apa saja:
lampu jalan redup, got mampet, pos ronda berdebu, taman tidak terurus, bangku retak, rumput terlalu tinggi, ubin retak setengah senti. Kamu bahkan mengeluh tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kamu lihat secara langsung.

Kamu menulis seolah-olah sedang menciptakan biografi kerusakan desa.

Setiap malam kamu mengirimkan tumpukan amplop itu ke kotak saran balai desa. Bentuknya begitu banyak sampai kamu khawatir kotaknya akan muntah. Dan ketika akhirnya kotak itu penuh dan mulai sesak seperti koper jamaah haji, kamu merasa kemenangan mengalir pelan di tubuhmu.

Kamu membayangkan perangkat desa kebingungan, rapat darurat digelar, notulen berjatuhan, staf desa saling menatap dengan tatapan “siapa warga tak berfaedah ini”. Kamu membayangkan kekacauan administratif yang kamu idamkan.

Tapi semesta, seperti biasa, tidak setuju dengan ambisimu.

Beberapa hari kemudian, kamu berjalan melintasi jalan desa dengan niat menikmati runtuhnya peradaban kecil itu. Tapi yang kamu temui justru pemandangan paling tidak masuk akal sepanjang hidupmu.

Warga berbondong-bondong keluar rumah. Ada yang bawa cangkul. Ada yang bawa sapu lidi. Ada yang bawa ember. Ada yang mengangkat rumput liar seperti sedang memanen sayur.
Dipimpin oleh Pak RT yang suaranya selalu bergetar penuh semangat, mereka melakukan gotong royong berskala raksasa.

Bukan gotong royong biasa. Ini seperti festival bersih-bersih yang digerakkan oleh motivasi supernatural.

Lampu jalan sudah diganti.
Got sudah dibersihkan sampai kamu bisa bercermin di airnya.
Pos ronda dicat ulang seperti rumah baru pasangan muda.
Taman desa berubah jadi versi sederhana dari taman kota di brosur wisata.
Rumput dipotong. Ubin diperbaiki. Papan nama diluruskan.

Semua tampak begitu tertata, begitu bersih, begitu sempurna sampai kamu merasa sedang berjalan di mimpi orang lain. Mimpi seseorang yang jauh lebih waras darimu.

Kamu terpaku di depan balai desa, memandang poster besar yang baru ditempel pagi itu:

“Terima kasih kepada warga yang mengirim banyak laporan! Kritik dan saran Anda memicu aksi gotong royong paling besar tahun ini!”

Matamu menyipit. Kamu merasakan detak jantungmu semakin keras, seperti sedang dipukul dari dalam dada.

Di bawah tulisan itu, ada kalimat yang lebih kejam daripada seluruh isi surat keluhanmu:

“Kita semua patut berterima kasih kepada warga misterius yang begitu peduli pada desa ini. Semangatnya menginspirasi kita semua.”

Warga misterius.
Kamu.

Peduli.
Kamu?

Menginspirasi?

Kamu merasa lututmu melemah. Kamu ingin jatuh. Kamu ingin menjerit. Kamu ingin mengatakan bahwa yang kamu lakukan adalah fitnah massal, bukan aksi sosial. Kamu ingin mengumandangkan bahwa kamu sebenarnya sedang berusaha menjadi jahat, bukan pahlawan lingkungan.

Tapi warga justru tersenyum padamu saat kamu lewat. Ada yang menepuk bahumu. Ada yang memberi senyum tulus. Ada yang berkata, “Beruntung ada orang yang peduli kayak gitu ya.”

Peduli?
Kamu ingin pingsan.

Rasanya kamu seperti dilempar masuk ke skenario karma yang salah alamat. Niat jahatmu bukan hanya gagal, tapi dipromosikan menjadi teladan sosial. Dalam kebengongan, tanpa sadar tanganmu ikut mengangkut rumput-rumput liar yang sudah terkumpulkan ke tempat pembuangan yang telah disiapkan. Sampai selesai.

Kamu berjalan pulang dengan kepala berat dan langkah limbung, sambil bertanya-tanya kapan semesta akhirnya akan membiarkanmu menjadi jahat walau hanya satu menit. Tapi bahkan pertanyaan itu pun seperti ditertawakan oleh langit yang cerah tidak masuk akal.

Dan untuk pertama kalinya sejak ambisi gilamu dimulai, kamu benar-benar merasa lelah. Lelah karena dipuji. Lelah karena disalahpahami. Lelah karena hidupmu seperti komedi gelap yang ditulis oleh seseorang yang sangat membenci logika.

 

back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar