Balai warga sore itu terasa lebih
ramai dari biasanya, seolah udara berkumpul lebih banyak daripada orang.
Kursi-kursi plastik biru disusun membentuk setengah lingkaran, tak sepenuhnya
rapi, seperti barisan gigi yang pernah bertarung dengan permen lengket. Di
tengah ruangan, sebuah spanduk bertuliskan “Evaluasi Dapur Mingguan”
bergoyang pelan diterpa angin dari kipas tua yang berputar malas.
Kau datang sedikit lebih awal. Tidak
terlalu awal agar tidak menimbulkan kesan antusias, tetapi cukup untuk
menunjukkan bahwa kau masih mempunyai etika waktu—meskipun kau yakin semesta
sama sekali tak peduli pada konsep ketepatan jadwalmu.
Kau duduk di kursi paling pinggir, posisi favoritmu untuk mengamati atau
melarikan diri. Bau sayur sisa kegiatan minggu lalu masih samar terjebak di
celah dinding, bercampur dengan bau plastik panas dari kursi yang sudah terlalu
sering dipakai.
Rapat dimulai dengan nada yang
sangat serius, seakan-akan dapur komunitas adalah proyek pembangunan jembatan
antarnegara. Ibu Sari membacakan hasil survei kepuasan warga. Semua mengatakan
sup minggu lalu enak. Beberapa bahkan menulis komentar berlebih, seperti “Jika
ini dibuat harian, saya rela pindah rumah ke dekat balai warga.”
Kau hampir tersedak udara ketika mendengarnya.
Raka duduk sedikit jauh di depanmu.
Ia terlihat gelisah, seperti seseorang yang ingin bicara tapi takut suaranya
terlalu jujur. Tatapannya sesekali mengarah padamu—bukan tatapan benci,
melainkan kebingungan murni, seperti seseorang yang baru pertama kali melihat
cermin dan curiga bayangannya bukan miliknya.
Kau masih menyimpan celemek terbalik
itu di tasmu. Di sana, kain itu tampak seperti bukti kejahatan yang gagal. Kau
memegang gagang tas dengan jemari yang dingin, sambil menunggu waktu yang tepat
untuk melakukan apa yang telah kau pikirkan sejak seminggu lalu: mengundurkan
diri.
Giliranmu tiba ketika rapat memasuki
sesi “harapan untuk pertemuan berikutnya”.
Kau berdiri. Kursi plastik di bawahmu menggesek lantai, menciptakan bunyi melengking
yang membuat semua orang berhenti berbicara.
Kau mengucapkan kalimat itu dengan
lembut, tanpa drama, tanpa jeda yang berlebihan.
“Aku… ingin mengundurkan diri dari
kegiatan Dapur Mingguan.”
Ruangan mengerut seperti kertas
basah.
Tatapan-tatapan tak percaya berjatuhan dari segala arah.
Ibu Sari menurunkan kacamatanya, Ibu Dewi melongo, Raka mendongak tajam, beberapa orang bahkan
berhenti mencatat.
Kau melanjutkan dengan alasan formal
yang terdengar masuk akal:
ingin fokus pada kegiatan lain, ingin memberikan kesempatan bagi yang lebih
ahli, ingin berperan di bidang yang berbeda. Kata-kata itu mengalir mulus,
seperti seseorang yang benar-benar tulus ingin mundur demi kebaikan umum.
Padahal tidak ada yang lebih jauh
dari kebenaran.
Sebenarnya kau pergi karena dapur komunitas
itu terlalu aman. Terlalu steril bagi obsesi gelapmu. Kau telah mencoba
menciptakan kekacauan—dari bumbu super asin sampai eksperimen aneh lainnya—tetapi
semuanya selalu berakhir menjadi kebaikan.
Semesta tampaknya menikmati menertawakanmu.
Dan kau tidak tahan menjadi karakter
lelucon bagi kosmos.
Kau butuh panggung baru. Ide baru.
Kekacauan baru.
Sesuatu yang lebih besar daripada sekadar panci sup yang bersinar indah.
Sebelum kau sempat melangkah kembali
ke kursi, seluruh ruangan dipenuhi suara keberatan. Para ibu menatapmu dengan
wajah sedih, beberapa bapak melirikmu seolah kehilangan pekerja terbaik mereka.
Kau bisa merasakannya: getaran ketulusan yang seharusnya menyenangkan bagi
seseorang yang ingin berbuat baik, tapi bagimu justru terasa seperti pelukan
bertenaga listrik rendah—menggelitik dan menyebalkan.
Dan kemudian, sesuatu yang tak kau
duga terjadi.
Raka berdiri.
Ia menunduk, seperti seseorang yang
baru saja menelan kata-katanya sendiri dan mencicipi rasanya pahit.
Ia mengucapkan permintaan maaf.
Tanpa alasan panjang. Tanpa membela diri.
Teman-temannya yang dulu ikut mencurigaimu juga ikut berdiri. Mereka ikut
membungkuk kecil, atau menatapmu dengan wajah menyesal. Beberapa bahkan tampak
hampir menangis.
Mereka bilang mereka salah menilaimu.
Mereka bilang mereka malu telah berburuk sangka.
Mereka bilang hati seseorang bisa saja lebih lembut dari perilakunya.
Dan itu pukulan paling telak
untukmu.
Karena pada kenyataannya, niatmu
tidak pernah lembut. Tidak pernah baik. Tidak pernah murni.
Kau ingin menjadi bayangan dalam hidup mereka.
Tapi sekarang, malah kau yang dibuat seperti lentera kecil di tengah gelap.
Sesuatu di dalam perutmu bergerak.
Awalnya seperti rasa sesak.
Lalu berputar.
Lalu naik.
Kau menutup mulut, menunduk, dan
berlari keluar dari ruangan.
Di lorong belakang balai warga yang
sepi, kau bersandar pada tembok dan muntah. Tapi kali ini bukan darah lagi. Suara
cipratan memantul di lantai semen dingin. Aroma asam bercampur dengan rasa
logam. Lalu datang gelombang kedua, lebih keras, lebih memaksa, seolah tubuhmu
ingin mengeluarkan semua absurditas dunia yang dipaksa masuk ke dalam dirimu
sejak lahir.
Kau mendengar langkah-langkah
mendekat.
Beberapa peserta rapat datang, memanggilmu dengan panik.
Kau melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa tak ada hal yang perlu
dikhawatirkan..
Mereka menyimpulkan sesuatu yang tak
pernah kau bayangkan:
“Kamu pasti masuk angin.”
“Kamu kecapekan waktu masak minggu lalu.”
“Kamu pasti lupa makan.”
Kau hampir tertawa.
Jika saja tidak sedang membungkuk sambil berusaha memastikan isi perutmu tidak
menjelma puisi tragis di lantai.
Mereka menawarkan minyak kayu putih,
air hangat, bahkan memaksamu duduk di kursi plastik yang entah dari mana
asalnya di lorong sempit itu. Kau mengangguk, berpura-pura menerima perhatian
mereka dengan tulus.
Padahal perhatian itu adalah ironi terbesar di malam itu.
Setelah mereka memastikan kau
“baik-baik saja”, rapat pun disudahi.
Orang-orang pulang sambil menepuk bahumu, seolah-olah kau baru saja memenangkan
penghargaan atas dedikasi dan kebaikanmu.
Kau hanya mengangguk dan tersenyum kaku, wajahmu masih pucat, jiwamu masih
berputar.
Ketika semua akhirnya pergi, kau
keluar dari lorong dan menatap halaman balai warga yang mulai gelap. Lampu
jalan berkedip-kedip seperti kelopak mata raksasa yang kelelahan menatapmu
sejak awal episode hidupmu.
Kau menarik napas panjang. Udara
dingin terasa seperti cairan tipis yang memenuhi paru-parumu.
Dan di antara kesunyian yang memanjang, ide itu muncul.
Sebuah rencana.
Lebih liar.
Lebih gelap.
Lebih absurd daripada usaha apa pun yang pernah kau lakukan.
Tentu saja, kau belum tahu apakah
semesta akan menertawakannya lagi. Tapi malam itu, dengan dada masih sedikit
bergetar dan tenggorokan masih getir, kau merasa—untuk pertama kalinya—bahwa
kau siap melawan balik.
Apa yang akan terjadi?
Semesta belum tahu.
Kau pun belum tahu.
Tapi obsesi itu sudah hidup kembali.
Dan kali ini…
kau tidak berniat gagal.
back ---------- next
0 Komentar