PERCAYALAH, AKU JAHAT (12)

 

Undur Diri dan Rencana Baru

Balai warga sore itu terasa lebih ramai dari biasanya, seolah udara berkumpul lebih banyak daripada orang. Kursi-kursi plastik biru disusun membentuk setengah lingkaran, tak sepenuhnya rapi, seperti barisan gigi yang pernah bertarung dengan permen lengket. Di tengah ruangan, sebuah spanduk bertuliskan “Evaluasi Dapur Mingguan” bergoyang pelan diterpa angin dari kipas tua yang berputar malas.

Kau datang sedikit lebih awal. Tidak terlalu awal agar tidak menimbulkan kesan antusias, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kau masih mempunyai etika waktu—meskipun kau yakin semesta sama sekali tak peduli pada konsep ketepatan jadwalmu.
Kau duduk di kursi paling pinggir, posisi favoritmu untuk mengamati atau melarikan diri. Bau sayur sisa kegiatan minggu lalu masih samar terjebak di celah dinding, bercampur dengan bau plastik panas dari kursi yang sudah terlalu sering dipakai.

Rapat dimulai dengan nada yang sangat serius, seakan-akan dapur komunitas adalah proyek pembangunan jembatan antarnegara. Ibu Sari membacakan hasil survei kepuasan warga. Semua mengatakan sup minggu lalu enak. Beberapa bahkan menulis komentar berlebih, seperti “Jika ini dibuat harian, saya rela pindah rumah ke dekat balai warga.”
Kau hampir tersedak udara ketika mendengarnya.

Raka duduk sedikit jauh di depanmu. Ia terlihat gelisah, seperti seseorang yang ingin bicara tapi takut suaranya terlalu jujur. Tatapannya sesekali mengarah padamu—bukan tatapan benci, melainkan kebingungan murni, seperti seseorang yang baru pertama kali melihat cermin dan curiga bayangannya bukan miliknya.

Kau masih menyimpan celemek terbalik itu di tasmu. Di sana, kain itu tampak seperti bukti kejahatan yang gagal. Kau memegang gagang tas dengan jemari yang dingin, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan apa yang telah kau pikirkan sejak seminggu lalu: mengundurkan diri.

Giliranmu tiba ketika rapat memasuki sesi “harapan untuk pertemuan berikutnya”.
Kau berdiri. Kursi plastik di bawahmu menggesek lantai, menciptakan bunyi melengking yang membuat semua orang berhenti berbicara.

Kau mengucapkan kalimat itu dengan lembut, tanpa drama, tanpa jeda yang berlebihan.

“Aku… ingin mengundurkan diri dari kegiatan Dapur Mingguan.”

Ruangan mengerut seperti kertas basah.
Tatapan-tatapan tak percaya berjatuhan dari segala arah.
Ibu Sari menurunkan kacamatanya, Ibu Dewi melongo, Raka mendongak tajam, beberapa orang bahkan berhenti mencatat.

Kau melanjutkan dengan alasan formal yang terdengar masuk akal:
ingin fokus pada kegiatan lain, ingin memberikan kesempatan bagi yang lebih ahli, ingin berperan di bidang yang berbeda. Kata-kata itu mengalir mulus, seperti seseorang yang benar-benar tulus ingin mundur demi kebaikan umum.

Padahal tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran.

Sebenarnya kau pergi karena dapur komunitas itu terlalu aman. Terlalu steril bagi obsesi gelapmu. Kau telah mencoba menciptakan kekacauan—dari bumbu super asin sampai eksperimen aneh lainnya—tetapi semuanya selalu berakhir menjadi kebaikan.
Semesta tampaknya menikmati menertawakanmu.

Dan kau tidak tahan menjadi karakter lelucon bagi kosmos.

Kau butuh panggung baru. Ide baru. Kekacauan baru.
Sesuatu yang lebih besar daripada sekadar panci sup yang bersinar indah.

Sebelum kau sempat melangkah kembali ke kursi, seluruh ruangan dipenuhi suara keberatan. Para ibu menatapmu dengan wajah sedih, beberapa bapak melirikmu seolah kehilangan pekerja terbaik mereka.
Kau bisa merasakannya: getaran ketulusan yang seharusnya menyenangkan bagi seseorang yang ingin berbuat baik, tapi bagimu justru terasa seperti pelukan bertenaga listrik rendah—menggelitik dan menyebalkan.

Dan kemudian, sesuatu yang tak kau duga terjadi.

Raka berdiri.

Ia menunduk, seperti seseorang yang baru saja menelan kata-katanya sendiri dan mencicipi rasanya pahit.

Ia mengucapkan permintaan maaf. Tanpa alasan panjang. Tanpa membela diri.
Teman-temannya yang dulu ikut mencurigaimu juga ikut berdiri. Mereka ikut membungkuk kecil, atau menatapmu dengan wajah menyesal. Beberapa bahkan tampak hampir menangis.

Mereka bilang mereka salah menilaimu.
Mereka bilang mereka malu telah berburuk sangka.
Mereka bilang hati seseorang bisa saja lebih lembut dari perilakunya.

Dan itu pukulan paling telak untukmu.

Karena pada kenyataannya, niatmu tidak pernah lembut. Tidak pernah baik. Tidak pernah murni.
Kau ingin menjadi bayangan dalam hidup mereka.
Tapi sekarang, malah kau yang dibuat seperti lentera kecil di tengah gelap.

Sesuatu di dalam perutmu bergerak.
Awalnya seperti rasa sesak.
Lalu berputar.
Lalu naik.

Kau menutup mulut, menunduk, dan berlari keluar dari ruangan.

Di lorong belakang balai warga yang sepi, kau bersandar pada tembok dan muntah. Tapi kali ini bukan darah lagi. Suara cipratan memantul di lantai semen dingin. Aroma asam bercampur dengan rasa logam. Lalu datang gelombang kedua, lebih keras, lebih memaksa, seolah tubuhmu ingin mengeluarkan semua absurditas dunia yang dipaksa masuk ke dalam dirimu sejak lahir.

Kau mendengar langkah-langkah mendekat.
Beberapa peserta rapat datang, memanggilmu dengan panik.
Kau melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa tak ada hal yang perlu dikhawatirkan..

Mereka menyimpulkan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan:
“Kamu pasti masuk angin.”
“Kamu kecapekan waktu masak minggu lalu.”
“Kamu pasti lupa makan.”

Kau hampir tertawa.
Jika saja tidak sedang membungkuk sambil berusaha memastikan isi perutmu tidak menjelma puisi tragis di lantai.

Mereka menawarkan minyak kayu putih, air hangat, bahkan memaksamu duduk di kursi plastik yang entah dari mana asalnya di lorong sempit itu. Kau mengangguk, berpura-pura menerima perhatian mereka dengan tulus.
Padahal perhatian itu adalah ironi terbesar di malam itu.

Setelah mereka memastikan kau “baik-baik saja”, rapat pun disudahi.
Orang-orang pulang sambil menepuk bahumu, seolah-olah kau baru saja memenangkan penghargaan atas dedikasi dan kebaikanmu.
Kau hanya mengangguk dan tersenyum kaku, wajahmu masih pucat, jiwamu masih berputar.

Ketika semua akhirnya pergi, kau keluar dari lorong dan menatap halaman balai warga yang mulai gelap. Lampu jalan berkedip-kedip seperti kelopak mata raksasa yang kelelahan menatapmu sejak awal episode hidupmu.

Kau menarik napas panjang. Udara dingin terasa seperti cairan tipis yang memenuhi paru-parumu.
Dan di antara kesunyian yang memanjang, ide itu muncul.

Sebuah rencana.
Lebih liar.
Lebih gelap.
Lebih absurd daripada usaha apa pun yang pernah kau lakukan.

Tentu saja, kau belum tahu apakah semesta akan menertawakannya lagi. Tapi malam itu, dengan dada masih sedikit bergetar dan tenggorokan masih getir, kau merasa—untuk pertama kalinya—bahwa kau siap melawan balik.

Apa yang akan terjadi?
Semesta belum tahu.
Kau pun belum tahu.

Tapi obsesi itu sudah hidup kembali.

Dan kali ini…
kau tidak berniat gagal.

 

back  ----------  next


Posting Komentar

0 Komentar