Masih
Surat Keluhan Palsu
Kamu mulai bangkit lagi dari keterpurukan. Berupaya keras menemukan ide
brilian dan lekas-lekas mengeksekusinya. Kamu pun menemukannya. lalu
mengerjakannya dengan presisi seorang ilmuwan… padahal kamu bahkan tidak lulus
pelatihan keamanan listrik paling dasar. Ya benar .. kamu membuat selebaran
tentang pengumuman pemadaman listrik. Selebaran darurat palsu itu kamu desain
seperti peringatan resmi, lengkap dengan cap lembaga yang kamu karang sendiri,
istilah teknis yang terdengar berbahaya, dan ancaman radiasi yang “hanya
memengaruhi rambut bagian kiri.”
Kamu memasang selebaran itu tengah malam, ketika udara seperti menahan
napas. Satu di papan pengumuman, satu di depan warung, satu dekat mushola, satu
lagi menempel di pintu pos ronda. Kamu bergerak cepat, hampir ritualistik,
seperti sedang menanam bom waktu yang terbuat dari kepanikan massal.
Kamu menyaksikan semuanya dari balik sudut gelap gang, jantungmu berdebar
seperti drum perang.
Lalu, listrik benar-benar padam. Kamu kaget. Tapi senang. Semesta mulai mau
berkawan, ujarmu.
Tapi semesta, sekali lagi, membalikkan telapak tanganmu dengan gaya yang
begitu halus sampai menyakitkan. Baik sangkamu berbalik jadi makian.
Yang muncul justru… lampion.
“Untung ada info dini! Siapa pun yang kasih tahu itu orang baik!”
Kamu berdiri di tengah kerumunan itu, wajahmu runtuh perlahan, seperti tanah
longsor yang malu-malu tapi tak bisa ditahan. Seluruh operasi yang kamu rancang
dengan niat gelap justru berubah menjadi malam hangat yang akan mereka kenang
dengan penuh senyum.
Dan ketika kamu berusaha menyelinap pergi, seseorang—orang yang tidak kamu
kenal, tidak pernah muncul dalam hidupmu sebelumnya—membungkuk, mengambil satu
selebaran palsumu yang terlepas dari papan.
Tapi cukup untuk membuat bulu kudukmu merayap naik seperti sedang
mempersiapkan diri untuk bencana berikutnya.

0 Komentar