PERCAYALAH, AKU JAHAT (14)

 


Masih Surat Keluhan Palsu

Kamu mulai bangkit lagi dari keterpurukan. Berupaya keras menemukan ide brilian dan lekas-lekas mengeksekusinya. Kamu pun menemukannya. lalu mengerjakannya dengan presisi seorang ilmuwan… padahal kamu bahkan tidak lulus pelatihan keamanan listrik paling dasar. Ya benar .. kamu membuat selebaran tentang pengumuman pemadaman listrik. Selebaran darurat palsu itu kamu desain seperti peringatan resmi, lengkap dengan cap lembaga yang kamu karang sendiri, istilah teknis yang terdengar berbahaya, dan ancaman radiasi yang “hanya memengaruhi rambut bagian kiri.”

Kamu memasang selebaran itu tengah malam, ketika udara seperti menahan napas. Satu di papan pengumuman, satu di depan warung, satu dekat mushola, satu lagi menempel di pintu pos ronda. Kamu bergerak cepat, hampir ritualistik, seperti sedang menanam bom waktu yang terbuat dari kepanikan massal.

Tujuanmu jelas:
menciptakan ketakutan, membuat warga resah, mengguncang rutinitas yang mereka banggakan.

Dan untuk beberapa menit… kamu merasa berhasil.
Ada bisik-bisik.
Ada langkah-langkah tergesa.
Ada warung yang menutup lebih cepat dari biasanya.
Ada anak-anak yang ditarik masuk ke rumah.
Ada doa lirih dari orang-orang yang tidak yakin apa itu radiasi, tapi yakin mereka tidak mau terkena.

Kamu menyaksikan semuanya dari balik sudut gelap gang, jantungmu berdebar seperti drum perang.

Lalu, listrik benar-benar padam. Kamu kaget. Tapi senang. Semesta mulai mau berkawan, ujarmu.

Gelap mendadak.
Hening berdetak.

Ini, pikirmu, adalah momen kemenangan.
Momen ketika semua orang panik.
Momen ketika rencanamu akhirnya bekerja.

Tapi semesta, sekali lagi, membalikkan telapak tanganmu dengan gaya yang begitu halus sampai menyakitkan. Baik sangkamu berbalik jadi makian.

Ternyata bukan jeritan yang muncul dari gelap itu.
Bukan warga yang berlari.
Bukan doa putus asa.

Yang muncul justru… lampion.

Satu, dua, lima, puluhan.
Terbang pelan, menghidupkan langit seperti festival yang tidak pernah kamu izinkan.
Lilin aromaterapi menyala di tangan para ibu.
Tikar digelar.
Jagung dipanggang.
Gitar dikeluarkan.
Anak-anak membuat pertunjukan bayangan di tembok.

Suara tawa meledak seperti kembang api yang menghina rencanamu.
Suasana berubah menjadi pesta dadakan yang nyaris apokaliptik—seolah pemadaman listrik hanyalah alasan sah untuk merayakan hidup.

Dan yang paling menghancurkanmu:
seseorang berteriak lantang, penuh rasa syukur,

“Untung ada info dini! Siapa pun yang kasih tahu itu orang baik!”

Kamu berdiri di tengah kerumunan itu, wajahmu runtuh perlahan, seperti tanah longsor yang malu-malu tapi tak bisa ditahan. Seluruh operasi yang kamu rancang dengan niat gelap justru berubah menjadi malam hangat yang akan mereka kenang dengan penuh senyum.

Kamu merasa seperti sedang ditertawakan oleh kosmos.
Semesta tidak hanya menolak niat burukmu—semesta memilih mempermalukanmu dengan lembut, dengan kehangatan, dengan kebersamaan.

Dan ketika kamu berusaha menyelinap pergi, seseorang—orang yang tidak kamu kenal, tidak pernah muncul dalam hidupmu sebelumnya—membungkuk, mengambil satu selebaran palsumu yang terlepas dari papan.

Ia menatap selebaran itu lama.
Lalu menatapmu.

Tanpa kata.
Tanpa ekspresi jelas.
Tatapan ambigu: curiga atau kagum, peringatan atau pengakuan.

Tapi cukup untuk membuat bulu kudukmu merayap naik seperti sedang mempersiapkan diri untuk bencana berikutnya.

Dan di detik itu kamu tahu, ini belumlah usai.
Semesta belum selesai mempermainkanmu.


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar