PERCAYALAH, AKU JAHAT (15)


 

Sebelum Gelap Selesai

Listrik kembali menyala dengan bunyi klik yang pelan, hampir malu-malu. Tapi seisi desa merespons seolah matahari terbit dua kali sekaligus. Sorak, tepuk tangan, seruan lega—semua meledak bersamaan, memenuhi udara malam dengan rasa syukur yang seharusnya tidak pernah ada bila rencanamu berjalan sesuai niat.

Lampion-lampion yang tadi berkelip lembut kini tampak pucat di bawah cahaya lampu jalan. Anak-anak bersorak karena bisa melihat wajah satu sama lain lagi. Para bapak menepuk punggung siapa pun yang lewat. Para ibu saling memeluk seolah mereka baru melewati bencana nasional, padahal yang terjadi hanyalah… dirimu, lagi-lagi, gagal.

Sementara itu kamu—kamu duduk di sudut gelap, tepat di belakang pos ronda. Lututmu lemas. Kepalamu kosong. Kamu melihat semuanya dari jauh, seperti sedang menonton adegan perayaan kemenangan musuhmu.

Rencanamu yang kamu bangun dengan teliti, penuh dedikasi dan kebengalan, meledak menjadi kebersamaan yang memuakkan. Festival kampung paling kompak sepanjang sejarah desa itu.

Ada yang berteriak, “Siapa pun penyebar pesannya orang baik!”
Ada yang tertawa sambil berkata, “Harusnya tiap bulan ada malam begini!”
Beberapa malah mengusulkan “acara lampion tahunan sebagai simbol solidaritas.”

Dan kamu duduk saja, menatap tanah, merasa seluruh tubuhmu diremas kenyataan yang terlalu ironis untuk diterima.

Lalu kamu teringat sesuatu.
Tatapan itu.

Orang asing—yang menatap selebaranmu, kemudian menatapmu. Ia tadi berdiri lagi di kerumunan, diam, jauh di belakang warga lain yang bersorak bahagia. Tidak tersenyum seperti mereka. Tidak marah juga. Hanya mengamati. Fokus. Seakan ia membaca sesuatu yang dunia lain tidak bisa lihat.

Dan sebelum kerumunan membubarkan diri, kamu melihatnya sekali lagi.
Ia berdiri setengah dalam bayangan.
Tatapannya tidak menawarkan ancaman, tapi juga tidak menawarkan penjelasan.
Ia sekadar… tahu.
Atau hampir tahu.
Dan itu jauh lebih menakutkan.

Kamu memalingkan wajah. Entah kenapa, kamu tidak ingin tahu lebih banyak. Tidak ingin ditanya. Tidak ingin dipahami. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari desa ini—tidak sebagai pahlawan, apalagi sebagai penjahat gagal.

Ketika suasana kembali riuh, kamu bangkit dengan langkah yang tidak stabil. Kakimu terasa seperti bukan milikmu. Tubuhmu seperti menolak melanjutkan adegan ini. Kamu berjalan pulang, namun baru beberapa meter kamu berhenti, membungkuk, dan muntah sedikit di pinggir jalan.

Bukan karena sakit.
Bukan karena masuk angin.
Tapi karena rasa kalah itu terlalu penuh, menumpuk di dadamu seperti lumpur yang menggenang dan memaksa keluar lewat jalan apa pun yang bisa.

Kau melanjutkan perjalanan dalam diam.
Hanya suara langkahmu yang terdengar, lambat, berat, hampir terseret.

Di tepi lapangan, kamu berhenti lagi. Lampion terakhir masih melayang rendah, seperti hantu optimisme yang lupa pulang. Ia bergerak anggun, seolah mengejekmu tanpa suara.

Di saat itulah kamu sadar sesuatu yang anehnya terasa jelas, dingin, kejam:

Kamu tidak bisa menjadi jahat di tempat ini.
Tidak di desa ini.
Tidak dengan orang-orang ini.
Tidak selama semesta terus-menerus membengkokkan niat burukmu menjadi kebaikan yang menghangatkan orang lain.

Kamu menarik napas panjang.

Kamu tidak pulang ke rumah.
Tidak berpikir untuk berkemas.
Tidak punya alasan untuk pamit.

Kamu hanya berjalan menuju batas desa, melewati gerbang kayu yang berdecit tertiup angin. Tidak ada siapa pun yang melihatmu pergi. Tidak ada yang memanggil. Tidak ada perayaan yang berhenti karenamu.

Hanya langkahmu sendiri yang menjadi saksi.
Langkah seorang calon penjahat yang kalah, tetapi belum menyerah.

Kamu menatap sekali lagi ke arah desa yang perlahan tenggelam dalam cahaya lampu—tempat yang menolak membiarkanmu jahat. Tempat yang menertawakan niat burukmu dengan kehangatan yang menjijikkan. Tempat yang terlalu kecil untuk ambisi absurditasmu.

Kemudian kamu membalikkan badan.

Satu langkah.
Dua langkah.
Dan dunia lain, kota lain, kehidupan lain—yang mungkin lebih gelap, lebih rusuh, lebih tidak siap menangkis niatmu—mulai terbuka perlahan.

Kamu melangkah ke sana, menahan getir, menggenggam sisa-sisa tekad yang belum sempat mati.

“Dunia lain menunggu,” batinmu.
“Bukan untuk memaafkanku… tapi mungkin, untuk akhirnya membiarkanku menjadi jahat.”

Dan orang itu ….. “siapa?”

----------------------------------

Dru lagi cari siasat biar beneran bisa mewujudkan cita-citanya. Sampai ketemu di session 2 ya. Pasti lebih seru 🙈

back  ----------  ?


Posting Komentar

1 Komentar

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)