Sebelum
Gelap Selesai
Listrik kembali menyala dengan bunyi
klik yang pelan, hampir malu-malu. Tapi seisi desa merespons seolah matahari
terbit dua kali sekaligus. Sorak, tepuk tangan, seruan lega—semua meledak
bersamaan, memenuhi udara malam dengan rasa syukur yang seharusnya tidak pernah
ada bila rencanamu berjalan sesuai niat.
Lampion-lampion yang tadi berkelip
lembut kini tampak pucat di bawah cahaya lampu jalan. Anak-anak bersorak karena
bisa melihat wajah satu sama lain lagi. Para bapak menepuk punggung siapa pun
yang lewat. Para ibu saling memeluk seolah mereka baru melewati bencana
nasional, padahal yang terjadi hanyalah… dirimu, lagi-lagi, gagal.
Sementara itu kamu—kamu duduk di
sudut gelap, tepat di belakang pos ronda. Lututmu lemas. Kepalamu kosong. Kamu
melihat semuanya dari jauh, seperti sedang menonton adegan perayaan kemenangan
musuhmu.
Rencanamu yang kamu bangun dengan
teliti, penuh dedikasi dan kebengalan, meledak menjadi kebersamaan yang
memuakkan. Festival kampung paling kompak sepanjang sejarah desa itu.
Dan kamu duduk saja, menatap tanah,
merasa seluruh tubuhmu diremas kenyataan yang terlalu ironis untuk diterima.
Orang asing—yang menatap
selebaranmu, kemudian menatapmu. Ia tadi berdiri lagi di kerumunan, diam, jauh
di belakang warga lain yang bersorak bahagia. Tidak tersenyum seperti mereka.
Tidak marah juga. Hanya mengamati. Fokus. Seakan ia membaca sesuatu yang dunia
lain tidak bisa lihat.
Kamu memalingkan wajah. Entah
kenapa, kamu tidak ingin tahu lebih banyak. Tidak ingin ditanya. Tidak ingin
dipahami. Kamu tidak ingin menjadi bagian dari desa ini—tidak sebagai pahlawan,
apalagi sebagai penjahat gagal.
Ketika suasana kembali riuh, kamu
bangkit dengan langkah yang tidak stabil. Kakimu terasa seperti bukan milikmu.
Tubuhmu seperti menolak melanjutkan adegan ini. Kamu berjalan pulang, namun
baru beberapa meter kamu berhenti, membungkuk, dan muntah sedikit di pinggir
jalan.
Di tepi lapangan, kamu berhenti
lagi. Lampion terakhir masih melayang rendah, seperti hantu optimisme yang lupa
pulang. Ia bergerak anggun, seolah mengejekmu tanpa suara.
Di saat itulah kamu sadar sesuatu
yang anehnya terasa jelas, dingin, kejam:
Kamu menarik napas panjang.
Kamu hanya berjalan menuju batas
desa, melewati gerbang kayu yang berdecit tertiup angin. Tidak ada siapa pun
yang melihatmu pergi. Tidak ada yang memanggil. Tidak ada perayaan yang
berhenti karenamu.
Kamu menatap sekali lagi ke arah
desa yang perlahan tenggelam dalam cahaya lampu—tempat yang menolak
membiarkanmu jahat. Tempat yang menertawakan niat burukmu dengan kehangatan
yang menjijikkan. Tempat yang terlalu kecil untuk ambisi absurditasmu.
Kemudian kamu membalikkan badan.
Kamu melangkah ke sana, menahan
getir, menggenggam sisa-sisa tekad yang belum sempat mati.
Dan orang itu ….. “siapa?”

1 Komentar
Ditunggu lanjutannya gan
BalasHapus