Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak peduli. Itu kalimat favoritku ketika
aku ingin terdengar kuat, atau ketika aku ingin menyingkir dari drama, atau
ketika aku ingin tampak seperti seseorang yang tidak bisa disentuh oleh apa
pun. Ajaibnya, setiap kali aku berkata aku tidak peduli, aku pasti
mengatakannya dengan cara yang sangat… teaterikal. Seolah-olah dunia perlu berhenti
sebentar, menatapku, dan mencatat bahwa aku, tokoh utama dalam adegan ini,
sedang memproklamasikan ketidakpedulianku.
Kedengarannya heroik. Atau bodoh. Atau perpaduan
keduanya—biasanya aku tidak bisa membedakannya.
Yang menarik adalah: kalau benar aku tidak
peduli, kenapa aku harus mengatakannya? Lebih parah lagi, kenapa aku harus
mengatakannya berkali-kali? Bahkan kadang aku menegaskan, “Aku benar-benar
tidak peduli,” seperti seseorang yang sedang menutup pintu tetapi diam-diam
menahan napas menunggu apakah ada yang akan mengetuk kembali.
Ada semacam kesibukan aneh dalam
ketidakpedulianku. Kesibukan yang tidak diakui, tapi aktif bekerja. Aku bilang
tidak peduli, tapi kalimat itu memerlukan penonton. Jika orang tidak
mendengarnya, aku merasa butuh mengulang. Jika seseorang meragukannya, aku
merasa perlu membuktikan. Dan kalau tidak ada yang memperhatikan, aku mulai
mempertanyakan apakah aku benar-benar tidak peduli atau justru sangat peduli
untuk terlihat tidak peduli.
Di titik ini, ketidakpedulian bukan lagi
sikap. Ia berubah menjadi seni pertunjukan.
Orang bilang, mereka yang benar-benar tidak
peduli biasanya diam. Mereka tidak butuh panggung. Tidak butuh pengakuan. Tidak
perlu menulis deklarasi panjang tentang betapa mereka tidak memikirkan apa yang
orang lain pikirkan. Mereka tinggal pergi, hilang, tenggelam dalam aktivitas
lain. Dan kehidupan terus berjalan tanpa mereka perlu mengangkat tangan dan
berteriak, “Aku tidak peduli!”
Tapi aku berbeda. Aku perlu menunjukkan bahwa
aku tidak peduli. Bukan untuk membuktikan sesuatu, sebenarnya… atau mungkin ya,
tapi aku malas mengakuinya. Ada sesuatu yang memuaskan ketika mengatakan bahwa
aku tak terpengaruh. Bahwa pendapatmu, reaksimu, interpretasimu—semuanya tidak
penting bagiku. Namun kenyataannya, untuk bisa mengatakannya, aku harus
memikirkanmu dulu. Harus mengantisipasi apa yang akan kau pikirkan tentang
sikapku. Harus mempertimbangkan bagaimana kalimat “Aku tidak peduli” akan
terdengar di telingamu.
Bayangkan itu. Sebelum aku bisa berkata bahwa
aku tidak peduli, aku harus… peduli dulu. Setidaknya sedikit.
Itu seperti seorang aktor yang berkata dia
tidak ingin tampil, tapi ia mengatakan itu sambil berdiri di tengah panggung
dengan lampu sorot tepat di wajahnya. Orang seperti itu tidak menghindari
panggung. Ia sedang menikmati drama yang ia ciptakan sendiri.
Lalu aku berpikir, mungkin ketidakpedulianku
adalah bentuk perhatian yang disfungsional. Bentuk perhatian yang malu-malu.
Bentuk perhatian yang ingin berlari tapi tetap menoleh ke belakang sambil
berharap ada yang memanggil. Bisa juga ketidakpedulianku adalah tameng rapuh
yang kuangkat tinggi-tinggi agar terlihat kokoh. Atau mungkin ini hanya
strategi biologis: seperti hewan yang berpura-pura mati agar tidak diganggu
predator, aku berpura-pura tidak peduli agar tidak terlihat lemah di hadapan
siapa pun.
Tapi sayangnya, sama seperti hewan yang
berpura-pura mati, aku masih bernapas keras. Masih mencuri pandang untuk
memastikan apakah ada yang memperhatikan aku yang sedang berpura-pura ini.
Dan dari sini lahirlah paradoks paling
menyebalkan dalam hidupku: semakin aku ingin terlihat tidak peduli, semakin aku
tenggelam dalam usaha untuk memastikan orang lain mengetahui aku tidak peduli.
Semakin aku mengklaim ketidakpedulian, semakin aku melakukan hal-hal yang dilakukan
orang-orang yang sangat peduli. Dan semakin aku menyangkalnya, semakin jelas
bahwa aku sedang berusaha keras meyakinkan diriku sendiri.
Ketidakpedulian adalah bentuk peduli yang
sibuk. Peduli yang tidak mengakui diri. Peduli yang memakai topeng nihilisme
tapi masih menunggu tepuk tangan. Peduli yang menginginkan pembebasan tapi
malah terjebak oleh keinginan untuk dilihat bebas.
Pada akhirnya, mungkin aku memang tidak
peduli. Atau mungkin aku peduli sampai batas yang memalukan. Atau mungkin
keduanya, bercampur seperti kopi pahit yang terlalu banyak gula: tidak jelas
mana yang dominan, hanya terasa aneh tapi tetap diminum.
Yang jelas, aku masih mengatakannya. Masih
menulisnya. Masih membiarkanmu membaca ini. Dan mengapa aku melakukan itu?
Entahlah. Mungkin agar kau tahu bahwa aku
tidak peduli. Atau mungkin agar aku sendiri percaya bahwa aku tidak peduli.
Atau mungkin—dan ini yang paling jujur—karena aku peduli bahwa kau mengerti
betapa aku sedang berusaha tidak peduli.
Itu saja. Atau bukan. Tapi siapa peduli?

0 Komentar