Ada satu keinginan yang selalu
menguntitku seperti bayangan nakal di belakang lampu jalan: aku ingin seseorang
melihatku apa adanya. Bukan versi hasil poles, bukan karakter yang kurekayasa
supaya tampak wajar, bukan juga topeng sosial yang kuberi senyum standar. Aku
ingin terlihat sebagaimana aku benar-benar berdiri—retak, bengkok, dan kadang
tidak stabil.
Masalahnya, setiap kali kesempatan
itu muncul, aku justru menyembunyikan diri lebih dalam. Lucu, kan? Seperti
mengajak seseorang masuk rumah lalu mengunci semua pintu dari dalam dan
pura-pura tidak ada. Aku bilang ingin dimengerti, tapi aku panik kalau ada yang
benar-benar mencoba mengerti.
Ini bukan ketakutan yang muncul
tiba-tiba. Ini kebiasaan lama yang tumbuh pelan-pelan seperti lumut: diam, tapi
merebut seluruh permukaan. Aku terlalu lama hidup dengan pengetahuan bahwa
membuka diri adalah undangan untuk dihancurkan. Bukan selalu dihancurkan dengan
cara dramatis—kadang hanya dengan tatapan yang sedikit terlalu jujur, atau
kalimat yang sedikit terlalu tepat, yang akhirnya membuat kulitku terasa
terlalu tipis.
Karena itu, setiap kali seseorang
mendekat, aku memberi sinyal campur aduk: maju satu langkah, mundur dua
langkah. Bukan untuk bermain tarik-ulurnya cinta murah, tapi karena aku tidak
yakin mana yang lebih menyakitkan—dilihat, atau tidak dilihat sama sekali.
Ada bagian dalam diriku yang
berharap seseorang cukup keras kepala untuk tetap bertahan, walau aku menutup
pintu berulang kali. Tapi ada juga bagian lain yang berharap semua orang
menyerah saja, supaya aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku begini. Dua
keinginan ini bertengkar setiap hari, dan aku berdiri di tengah-tengah seperti
korban konflik rumah tangga batin.
Kadang aku membayangkan jika suatu
hari ada yang melihatku sampai ke dasar: melihat betapa kacau isi kepalaku,
betapa sering aku menyangkal diriku sendiri, betapa aku ingin jujur tapi takut
dengan bentuk kejujuran yang akan keluar. Mungkin orang itu akan mengerti… atau
mungkin mereka akan berbalik, menutup pintu perlahan, dan tidak pernah kembali.
Dan yang menyakitkan bukan kehilangan mereka, tapi membuktikan bahwa
ketakutanku selama ini benar.
Itulah kenapa aku sering menunjukkan
hanya bagian yang aman: versi netral, versi rapi, versi yang tidak memicu pertanyaan.
Versi yang tidak mencerminkan siapa aku sebenarnya, tapi cukup mewakili untuk
bertahan di dunia. Dan anehnya, setelah lama memakai versi itu, orang-orang
jadi percaya itu aku. Bahkan kadang aku sendiri hampir percaya itu aku.
Tapi di waktu-waktu sepi—saat lampu
padam, saat ponsel tergeletak tanpa suara, saat semua keharusan sosial
berhenti—ada dorongan kecil yang muncul dari bawah tanah pikiranku: keinginan
untuk berhenti menyamar. Untuk duduk sebagai diri sendiri, tanpa manipulasi
cahaya atau editan emosi. Untuk bernapas tanpa khawatir terlihat aneh.
Sayangnya, dorongan itu hanya besar
ketika tidak ada siapa-siapa yang melihat. Begitu ada orang hadir, dorongan itu
menciut seperti kertas kena air panas. Aku kembali pada kebiasaan lama: tutup,
tutup, tutup.
Lalu aku mengeluh kenapa tidak ada
yang benar-benar mengenaliku. Sebuah sandiwara yang kutulis sendiri tapi aku
juga yang bingung membaca naskahnya.
Aku seperti rumah dengan jendela
bening tapi gordennya selalu tertutup. Dari luar tampak ramah, tapi pegangan
pintunya dingin. Orang boleh mengetuk, tapi aku selalu menjawab, “Maaf, aku
sedang tidak bisa menerima tamu,” sambil berharap mereka mengetuk sekali lagi.
Aneh, ya? Aku meminta sesuatu yang
aku larang sendiri. Aku menunggu sesuatu yang aku cegah. Aku merindukan sesuatu
yang aku sembunyikan setiap kali mendekat. Seperti memanggil seseorang dari
kejauhan lalu bersembunyi saat mereka menoleh.
Sebuah keinginan dan ketakutan yang
saling memakan, tapi entah bagaimana, tetap membuatku berjalan.

0 Komentar