Aku selalu tertawa kecil setiap kali ada yang bilang aku orangnya rendah hati. Entah mereka sedang tulus atau sedang tidak memperhatikan dengan benar, aku tidak tahu. Yang jelas, setiap pujian tentang kerendahan hatiku terasa seperti sandal jepit yang dilemparkan ke kepalaku dari belakang: tidak menyakitkan, tapi cukup membuatku bertanya siapa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.
Masalahnya, begitu seseorang menyebutku rendah hati, aku langsung merasa gagal mempertahankannya. Kerendahan hati itu seperti sabun: makin keras aku memegangnya, makin licin dan melompat dari tangan. Ironisnya, jika aku menolak pujian, orang bilang aku memang rendah hati. Jika aku menerima pujian, orang bilang aku sok rendah hati. Dan jika aku tidak bilang apa-apa, diamku dianggap sebagai bentuk kerendahan hati tertinggi—padahal bisa saja aku hanya sedang mengunyah bakwan.
Begitulah nasib seseorang yang hidup di dunia yang terlalu menyukai label. Bahkan perasaan sederhana seperti mengakui kelemahan pun bisa berubah jadi kompetisi. Kalau aku mengatakan bahwa aku tidak sehebat itu, ada saja yang membalas, “Tidak apa-apa, setidaknya kamu orangnya rendah hati.” Mendadak, kekuranganku berubah menjadi prestasi. Sungguh ironi yang cukup menghibur, kalau tidak memusingkan.
Ada saat-saat ketika aku ingin berkata, “Tidak, aku tidak rendah hati. Aku hanya menyadari bahwa hidup terlalu singkat untuk membanggakan hal-hal yang akan basi dalam waktu dua minggu.” Tapi tentu saja, kalau aku mengatakannya keras-keras, orang langsung menilai: wah, rendah hati tapi sinis. Orang selalu menemukan label lanjutan. Kita semua seperti tambal sulam penilaian yang tidak pernah selesai.
Yang lebih lucu, setiap kali aku berusaha jujur tentang diriku, itu justru terdengar seperti upaya promosi terselubung. Misalnya saat aku bilang, “Aku banyak kurangnya.” Tahu apa respons mereka? “Nah itu buktinya kamu rendah hati.” Padahal aku hanya sedang jujur, bukan sedang mendaftarkan diri untuk lomba moralitas tingkat RT.
Pada titik tertentu, aku mulai merasa bahwa kerendahan hati bukan lagi sifat, tapi jebakan pikiran. Begitu kamu sadar kamu punya sedikit kerendahan hati, saat itu juga kamu kehilangannya. Begitu kamu merasa tidak punya, orang lain melihatnya menempel di dahimu. Sulit dipahami, tapi hidup memang suka bercanda.
Ada satu hal yang semakin membuatku curiga: orang yang benar-benar rendah hati biasanya tidak kelihatan seperti itu. Mereka tidak berusaha terlihat kecil, tapi juga tidak berusaha terlihat besar. Mereka hanya berjalan, hidup, berbuat, tanpa memikirkan apakah langkahnya sudah cukup merendah atau terlalu menonjol. Dan biasanya, orang semacam itu dicurigai sombong hanya karena tidak sibuk membungkuk-bungkukkan diri.
Aku sendiri lebih mirip orang yang selalu menaruh cermin kecil di depanku: bukan untuk memeriksa wajah, tapi untuk mengawasi apakah aku sedang tanpa sadar memamerkan kesederhanaanku. Kadang aku bisa menertawakan diri sendiri karena betapa konyolnya itu. Tapi di lain waktu, aku hanya ingin mematikan lampu dan pura-pura tidak pernah mengenal konsep kerendahan hati.
Masalahnya, manusia memang makhluk aneh. Kita ingin terlihat baik tanpa terlihat sedang berusaha terlihat baik. Kita ingin mengaku salah tanpa terlihat sedang mencari simpati. Kita ingin rendah hati tanpa terlihat bangga dengan kerendahan hati itu. Dan di tengah keruwetan itu, aku berdiri sambil memegang bendera putih, pasrah sebagai korban evaluasi moral tanpa akhir dari orang-orang yang bahkan tidak mengenal isi kepalaku.
Tapi, ada sisi baiknya juga. Kerendahan hati memberiku ruang untuk tidak perlu selalu tampil hebat. Aku bisa gagal tanpa harus menjelaskan panjang-lebar. Aku bisa salah tanpa harus mengencangkan rahang. Aku bisa berjalan tanpa merasa perlu berdiri di bawah sorotan panggung setiap saat. Dan di dunia yang gemar menuntut kesempurnaan, kemampuan untuk menghindari sorotan panggung adalah kemewahan kecil yang patut disyukuri.
Toh, tidak ada manusia yang benar-benar benar. Ada sih… tapi itu biasanya orang yang perlu istirahat.
Dan jika kerendahan hati berarti aku bisa tertawa saat aku mengacau, bisa menerima saat aku tersandung, dan bisa mengakui bahwa aku kadang tidak tahu apa-apa—maka biarlah.
Kalau itu masih disebut rendah hati, ya sudah. Aku menyerah saja. Lagipula, ada hal yang lebih penting daripada terlihat rendah hati: yaitu tetap waras menghadapi dunia yang gemar memberikan nilai tanpa diminta.

0 Komentar