Masalahnya, hasil tidak pernah puas
dengan didiamkan. Dia seperti tetangga yang mengetuk pintu karena suara musikmu
terlalu keras, padahal kau tidak sedang menyalakan apa pun. Dia datang membawa
seluruh konsekuensi yang tidak pernah kau undang, dan tanpa malu berkata, “Aku
menuntut kau peduli.” Begitulah hidup. Hasil itu ibarat tamu tak diundang yang
merasa punya undangan resmi.
Lucunya, paradoksnya justru muncul
dari niat baikku untuk tidak peduli. Ketika aku benar-benar memutuskan untuk cuek,
untuk membiarkan segala hal meluncur keluar dari sistemku, justru di situlah
segala sesuatu yang kuabaikan berubah menjadi masalah yang mengharuskanku
peduli. Aku seperti orang yang ingin tidur tapi malah semakin sadar hanya
karena memikirkan bagaimana caranya tidur. Sebuah tragedi kecil yang tidak
dramatis, tapi menyebalkan dengan cara yang konsisten.
Hasil itu rakus. Bahkan ketika aku
berkata “silakan pergi”, ia menjawab, “aku akan pergi setelah kau
memperhatikanku.” Ironis sekali. Seperti laporan nilai yang tetap muncul
meskipun kau tidak ingin membacanya. Mereka tidak butuh izinmu untuk eksis.
Mereka hanya butuh waktu untuk membuat kekacauan.
Dan ya, aku tahu: ada orang yang
percaya bahwa hasil selalu mengikuti usaha. Tapi aku tidak sedang mengulas motivasi
murahan. Aku sedang berurusan dengan paradoks yang lebih destruktif: semakin
aku tidak peduli, semakin hasil menuntut perhatian. Semakin aku membiarkan
sesuatu, semakin sesuatu itu menjadi masalah yang menolak dibiarkan. Seperti
tanaman liar yang tumbuh lebih cepat justru karena tidak ada yang memotongnya.
Parahnya lagi, ketika aku akhirnya
menyerah dan peduli, aku malah terlihat seperti orang yang peduli pada hasil
sejak awal—padahal tidak. Aku hanya peduli karena jika tidak, hasilnya akan
mengacaukan hidupku. Peduli demi bertahan hidup itu beda dengan peduli demi
idealisme. Tapi hasil tidak membedakannya. Ia hanya melihat bahwa aku akhirnya
tunduk juga.
Tunduk. Itulah kata yang paling
tepat. Bukan peduli. Aku tidak peduli. Aku hanya tunduk karena aku harus.
Seperti prajurit yang tidak percaya pada perang, tapi tetap maju karena jika
tidak, ia ditembak oleh komandannya sendiri. Sudah begitu, nanti sejarah
mencatatnya sebagai pahlawan. Ironi yang menipu.
Tentu, orang lain melihatnya sebagai
kedewasaan. Katanya, “Ya begitulah hidup, kau harus peduli, entah kau suka atau
tidak.” Tapi bagiku, itu bukan kedewasaan, itu kompromi yang dipaksakan oleh
keadaan. Dan kompromi paksa itu menyebalkan, karena membuatku terlihat seperti
manusia normal yang bertanggung jawab, padahal aku sedang mengumpat dalam hati.
Aku ingin tidak peduli, sungguh.
Rasanya seperti kebebasan yang dijanjikan dalam brosur liburan: santai, damai,
tanpa beban. Tapi hidup adalah birokrasi. Setiap ketidakpedulian harus disertai
formulir pengakuan dan konsekuensi yang menunggu di loket berikutnya.
Hasil itu seperti maling yang marah
karena kau tidak menguncinya dengan benar. Dia mencuri, lalu menyalahkanmu
karena memudahkan pekerjaan. Begitu pula kesalahan-kesalahan kecil yang
kuabaikan: mereka kembali dengan ukuran lebih besar, membawa teman-temannya,
dan berkata, “Nah, peduli kan sekarang?”
Aku ingin hidup tanpa ditarik ke
dalam permainan peduli-tapi-tidak-peduli ini. Tapi hidup terlalu terobsesi
dengan konsekuensi. Dan konsekuensi terlalu terobsesi denganku. Bahkan ketika
aku mencoba kabur, mereka mengejarku seperti hutang yang sudah tahu alamat
rumah, nomor telepon, dan jadwal tidurku.
Pada akhirnya, aku sadar aku bukan
tidak peduli. Aku hanya menunda. Menunda peduli sampai peduli itu menjadi
wajib. Sampai peduli itu menjadi hukuman. Sampai peduli itu menjadi pilihan
terakhir, bukan pilihan pertama.

0 Komentar