TIDAK PEDULI DEMI HASIL YANG BERKATA: “PEDULILAH”

Es Es - Ikon Blog

 Aku selalu bercanda bahwa aku ini makhluk yang tidak peduli pada hasil. Bukan karena aku mulia, bukan pula karena aku punya jiwa zen yang sudah tamat ujian akhir. Tidak. Aku tidak peduli karena lebih mudah begitu. Hasil itu merepotkan: ia datang membawa laporan, tuntutan, dan komentar seperti dosen yang merasa satu-satunya yang tahu bagaimana dunia seharusnya berjalan. Jadi aku memilih posisi aman: masa bodoh. Itu posisi yang enak—hangat, lembut, dan bebas dari ekspektasi.

Masalahnya, hasil tidak pernah puas dengan didiamkan. Dia seperti tetangga yang mengetuk pintu karena suara musikmu terlalu keras, padahal kau tidak sedang menyalakan apa pun. Dia datang membawa seluruh konsekuensi yang tidak pernah kau undang, dan tanpa malu berkata, “Aku menuntut kau peduli.” Begitulah hidup. Hasil itu ibarat tamu tak diundang yang merasa punya undangan resmi.

Lucunya, paradoksnya justru muncul dari niat baikku untuk tidak peduli. Ketika aku benar-benar memutuskan untuk cuek, untuk membiarkan segala hal meluncur keluar dari sistemku, justru di situlah segala sesuatu yang kuabaikan berubah menjadi masalah yang mengharuskanku peduli. Aku seperti orang yang ingin tidur tapi malah semakin sadar hanya karena memikirkan bagaimana caranya tidur. Sebuah tragedi kecil yang tidak dramatis, tapi menyebalkan dengan cara yang konsisten.

Hasil itu rakus. Bahkan ketika aku berkata “silakan pergi”, ia menjawab, “aku akan pergi setelah kau memperhatikanku.” Ironis sekali. Seperti laporan nilai yang tetap muncul meskipun kau tidak ingin membacanya. Mereka tidak butuh izinmu untuk eksis. Mereka hanya butuh waktu untuk membuat kekacauan.

Dan ya, aku tahu: ada orang yang percaya bahwa hasil selalu mengikuti usaha. Tapi aku tidak sedang mengulas motivasi murahan. Aku sedang berurusan dengan paradoks yang lebih destruktif: semakin aku tidak peduli, semakin hasil menuntut perhatian. Semakin aku membiarkan sesuatu, semakin sesuatu itu menjadi masalah yang menolak dibiarkan. Seperti tanaman liar yang tumbuh lebih cepat justru karena tidak ada yang memotongnya.

Parahnya lagi, ketika aku akhirnya menyerah dan peduli, aku malah terlihat seperti orang yang peduli pada hasil sejak awal—padahal tidak. Aku hanya peduli karena jika tidak, hasilnya akan mengacaukan hidupku. Peduli demi bertahan hidup itu beda dengan peduli demi idealisme. Tapi hasil tidak membedakannya. Ia hanya melihat bahwa aku akhirnya tunduk juga.

Tunduk. Itulah kata yang paling tepat. Bukan peduli. Aku tidak peduli. Aku hanya tunduk karena aku harus. Seperti prajurit yang tidak percaya pada perang, tapi tetap maju karena jika tidak, ia ditembak oleh komandannya sendiri. Sudah begitu, nanti sejarah mencatatnya sebagai pahlawan. Ironi yang menipu.

Tentu, orang lain melihatnya sebagai kedewasaan. Katanya, “Ya begitulah hidup, kau harus peduli, entah kau suka atau tidak.” Tapi bagiku, itu bukan kedewasaan, itu kompromi yang dipaksakan oleh keadaan. Dan kompromi paksa itu menyebalkan, karena membuatku terlihat seperti manusia normal yang bertanggung jawab, padahal aku sedang mengumpat dalam hati.

Aku ingin tidak peduli, sungguh. Rasanya seperti kebebasan yang dijanjikan dalam brosur liburan: santai, damai, tanpa beban. Tapi hidup adalah birokrasi. Setiap ketidakpedulian harus disertai formulir pengakuan dan konsekuensi yang menunggu di loket berikutnya.

Dan di sinilah paradoksnya mengunyahku perlahan:
Aku tidak peduli pada hasil, tapi hasil selalu memaksa aku peduli.
Tidak peduli bukanlah bentuk ketidakpedulian. Ia hanyalah jeda sebelum gelombang akibat datang memintai tanggung jawab.

Hasil itu seperti maling yang marah karena kau tidak menguncinya dengan benar. Dia mencuri, lalu menyalahkanmu karena memudahkan pekerjaan. Begitu pula kesalahan-kesalahan kecil yang kuabaikan: mereka kembali dengan ukuran lebih besar, membawa teman-temannya, dan berkata, “Nah, peduli kan sekarang?”

Aku ingin hidup tanpa ditarik ke dalam permainan peduli-tapi-tidak-peduli ini. Tapi hidup terlalu terobsesi dengan konsekuensi. Dan konsekuensi terlalu terobsesi denganku. Bahkan ketika aku mencoba kabur, mereka mengejarku seperti hutang yang sudah tahu alamat rumah, nomor telepon, dan jadwal tidurku.

Pada akhirnya, aku sadar aku bukan tidak peduli. Aku hanya menunda. Menunda peduli sampai peduli itu menjadi wajib. Sampai peduli itu menjadi hukuman. Sampai peduli itu menjadi pilihan terakhir, bukan pilihan pertama.

Itulah paradoksnya:                
Aku tidak peduli demi merasa bebas, tapi justru peduli agar tetap bisa hidup.
Dan hidup, seperti biasa, tertawa kecil sambil menepuk bahuku—seolah mengerti, padahal ia yang membuat permainan ini sejak awal.

back ------- next


Posting Komentar

0 Komentar