Aku selalu bilang butuh privasi. Dengan suara serius
seolah aku sedang membacakan sumpah jabatan. “Aku hanya ingin ruangku sendiri,”
kataku, padahal lima menit sebelumnya aku baru saja memosting foto gelas kopi
dari sudut yang kubuat sedramatis mungkin, lengkap dengan caption tentang betapa aku sedang “butuh waktu menyendiri.” Ironi
kecil: aku ingin menyendiri, tapi ingin semua orang tahu bahwa aku sedang
menyendiri. Seperti seseorang yang menutup pintu kamar, lalu berteriak agar
seluruh kompleks perumahan tahu bahwa pintunya ditutup.
Dan, tentu saja, aku marah kalau ada yang masuk terlalu jauh. “Jangan
campuri hidupku,” kataku—setelah aku sendiri mengundang orang-orang untuk
melihatnya dari jendela yang kubuka lebar-lebar. Aku seperti toko yang
mengibarkan spanduk “GRAND OPENING”, tapi begitu ada pelanggan masuk, aku panik
dan bilang toko belum siap melayani. Bisa dibilang aku ingin perhatian, tapi
tidak ingin akibat dari perhatian itu. Hidup ini memang sulit kalau kau ingin
difahami tapi tidak ingin disentuh.
Konyolnya lagi, aku bisa mengumbar perasaanku
di internet dengan keberanian yang tidak pernah kumiliki di dunia nyata.
Kuunggah curahan hati dengan gaya puitis setengah matang, lalu berharap orang
membacanya tapi tidak menanyakannya. Itu permintaan yang mustahil: orang
membaca karena ingin tahu; aku menulis karena ingin dilihat. Tapi ketika mereka
benar-benar ikut masuk ke wilayah yang kubuka, aku terkejut seperti korban
rumah berhantu yang tidak menyangka ada hantu. Dunia ini aneh, tapi keanehanku
sepertinya punya kelas tersendiri.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri: apa
sebenarnya yang kuinginkan? Apakah aku ingin dijaga, atau ingin bebas? Ingin
dipahami, atau ingin tetap menjadi misteri? Jawabannya berubah-ubah seperti
cuaca yang tidak stabil, tapi satu hal pasti—aku suka berpikir bahwa hidupku
adalah rahasia besar, padahal sebagian besar sudah kubocorkan sendiri. Semua
orang modern tampaknya melakukan hal sama: membangun pagar tinggi, tapi menaruh
kursi di sampingnya agar bisa melongok keluar dengan nyaman. Kita pura-pura
menjaga batas, padahal sebenarnya kita mengintip dunia sambil berharap dunia
balik mengintip kita.
Aku bisa saja berhenti membuka diri, tapi
sejujurnya, ada kelegaan aneh ketika seseorang melihat apa yang kubagikan tanpa
aku perlu membuka mulut. Terasa aman, karena mereka hanya melihat versi yang
kupilih untuk ditunjukkan. Inilah bentuk privasi paling modern: bukan menutup
diri, tapi mengedit diri. Kita bilang ingin ruang pribadi, padahal yang kita
inginkan adalah kurasi. Kalau boleh berterus terang, aku tidak melindungi
privasiku; aku hanya melindungi tanda tanya dari kepunahannya.
Dan ketika ada orang yang salah paham—baik itu
karena membaca terlalu dalam atau tidak membaca sama sekali—aku langsung
menyalahkan dunia. “Kenapa sih orang susah banget mengerti?” padahal aku
sendiri yang memberikan petunjuk tak lengkap. Aku sengaja menyembunyikan
setengah kalimat, lalu marah karena mereka tidak bisa menebak sisanya. “Jangan
cari tahu tentangku,” kataku, sambil memberikan cukup potongan puzzle untuk
membuat mereka penasaran. Manusia memang begitu: ingin ditemukan, tapi bukan
secara sengaja.
Yang paling menggelikan adalah ketika aku
berkata, “Aku ingin hidup tenang tanpa diganggu.” Padahal aku sendiri yang berkeliling
membawa megaphone dengan baterai yang selalu baru. Aku menulis keluhan panjang,
lalu kesal ketika ada yang menanggapi secara terlalu serius. Aku berkata ingin
privasi, tapi aku ingin privasi yang dibaca. Privasi yang diketahui. Privasi
yang dihargai karena eksposurnya.
Namun aku juga sadar: tidak semua orang ingin
membuka hidupnya seperti aku. Ada yang lebih nyaman diam, dan itu tidak membuat
mereka lebih suci atau lebih kuat. Mereka hanya memilih jalur berbeda agar
kepalanya tidak meledak oleh perhatian publik. Dan jujur saja, kadang aku iri
pada orang yang bisa hidup tanpa memberi tahu seluruh dunia tentang apa pun
yang mereka lakukan. Mereka terlihat seperti spesies langka yang sehat secara
mental.
Tapi inilah caraku bertahan. Ini cara yang
kupilih untuk membuat kepalaku tidak berisik: membagikan sebagian,
menyembunyikan sebagian, dan berpura-pura bahwa aku tahu apa yang sedang
kulakukan. Mungkin ini tidak efisien, tapi setidaknya aku masih bisa berjalan
tanpa merasa sepenuhnya kosong.
Versi yang, untuk alasan tak jelas, masih
membuatku merasa aman—meskipun pintunya setengah terbuka sepanjang waktu.

0 Komentar