INI TENTANG MEMBERI

 


Aku selalu punya teori konyol tentang memberi: aku melakukannya bukan karena aku sudah jadi manusia yang baik, tapi karena aku sedang mencoba membujuk diriku sendiri untuk menuju arah ke situ. Semacam eksperimen moral yang kulakukan bertahun-tahun tanpa laporan hasil yang jelas. Setiap kali aku mengulurkan sesuatu—waktu, perhatian, atau sekadar sisa energi yang terselip di antara kekacauan—ada bisikan kecil di kepalaku yang berkata, “Lihat? Kau ini tidak separah yang kaurasakan.” Dan anehnya, bisikan itu bekerja. Walau cuma sebentar, tapi tetap bekerja.

Tentu saja itu tidak berarti orang yang tidak memberi otomatis buruk. Tidak sesederhana itu. Hidup tidak pernah sesederhana itu. Ada orang yang memperbaiki dirinya dengan memberi; ada yang memperbaiki dirinya dengan bertahan; dan ada pula yang memperbaiki dirinya dengan tidak melakukan apa-apa selain duduk diam sambil menyusun ulang seluruh alasan keberadaannya. Aku kebetulan memilih metode yang melibatkan tangan mengulurkan sesuatu—bukan karena lebih mulia, tapi karena ini satu-satunya cara yang membuatku merasa tidak sepenuhnya rusak.

Pada akhirnya, memberi bagiku lebih mirip latihan rutin daripada kebajikan—seperti sit-up emosional yang kutunggu-tunggu hasilnya, padahal setiap gerakan justru mengingatkanku betapa lemahnya aku memulai semuanya. Tapi ya begitulah: setiap orang punya cara masing-masing untuk meyakinkan diri bahwa mereka masih berfungsi sebagai manusia. Ini hanya versiku, dengan segala keruwetan dan keanehan yang menyertainya.

Dan lucunya, setiap kali aku mencoba memberi, ada bagian dari diriku yang langsung panik: “Hei, jangan terlalu baik nanti ketagihan.” Seolah-olah kebaikan itu semacam tagihan listrik—kalau sudah nyala, harus terus dibayar. Kadang aku merasa tindakanku itu cuma upaya darurat agar jiwaku tidak tumbuh liar tanpa arah. Memberi membuatku merasa lebih tertata, seperti menata meja kerja yang sebenarnya tetap berantakan lima menit kemudian. Setidaknya ada ilusi perbaikan, dan untuk sementara itu cukup.

Tapi di sisi lain, memberi juga membuatku sadar betapa sering aku gagal menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Ada momen ketika aku mengulurkan sesuatu, lalu tersadar aku melakukannya sambil berharap orang lain melihatnya dan menganggapku manusia yang masih lumayan. Itu memalukan, tapi jujur saja: sebagian niat baik manusia lahir dari kebutuhan untuk dipercaya, bukan dari hati yang sepenuhnya bersih. Dan aku tidak terkecuali. Aku hanya lebih blak-blakan soal kekacauan ini.

Meski begitu, aku tetap percaya memberi bisa mengubahku—pelan, tidak dramatis, dan sering kali menyebalkan. Memberi itu seperti membersihkan rak lama yang penuh debu: kau tahu itu perlu, tapi kau tetap batuk-batuk saat melakukannya. Namun setelah selesai, ada rasa lega yang aneh. Tidak besar, tapi cukup untuk membuatmu berkata, “Ya sudah, besok aku coba lagi.”

Dan yang menarik, makin kupahami pilihan orang lain, makin kusadari bahwa kita semua cuma makhluk rapuh yang pura-pura tahu apa yang kita lakukan. Ada yang menyelamatkan diri dengan menahan, ada yang kabur demi menjaga jarak, ada yang merasa baik-baik saja tanpa memberi apa pun—dan ya, tindakan itu tetap legal secara moral. Dunia sudah cukup kacau tanpa kita ikut-ikutan jadi hakim dadakan. Aku hanya memilih jalur ini karena ini jalur yang membuatku merasa masih cukup waras untuk menjalani hari.

Pada akhirnya, memberi bagiku selalu menjadi refleksi yang tidak nyaman: aku melihat kelemahanku, ego-ku, niatku yang campur-aduk… tapi juga harapanku untuk menjadi lebih baik dari versi diriku yang dulu. Dan mungkin itu sudah cukup sebagai alasan. Tidak perlu mulia, tidak perlu besar, tidak perlu dipuji. Asal ada sedikit gerakan ke arah yang membuatku merasa tidak sepenuhnya macet.

Begitu saja. Memberi sebagai cara untuk memperbaiki kerusakan kecil di dalam diri. Tidak sempurna, tidak heroik, tapi jujur—setidaknya untuk hari ini.


back ------- next 


Posting Komentar

0 Komentar