JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (15)

 

Es Es - Ikon Blog

KETIKA LANGIT MEMBELAH DAN RAHASIA DIBUKA

Retakan di langit itu membentang seperti luka tua yang dipaksa terbuka kembali. Cahaya biru merembes keluar dari sela-selanya, berdenyut seperti nadi raksasa.

Ravi berdiri terpaku, tubuhnya gemetar. Suara itu—suara yang memanggil namanya dengan cara yang terdengar terlalu akrab—kembali bergulung dari atas.

“Ravi… kembali padaku…”

Ardea menarik pedang pendek dari pinggangnya, tubuhnya membungkuk sedikit, bersiap menghadapi sesuatu.
Nadara bergerak ke sisi kiri, matanya menyapu pepohonan, tanah, dan retakan langit, seolah ancaman bisa muncul dari mana saja.

Liora… justru berdiri tak jauh di depan Ravi.

Bukan melindungi Ravi.
Melainkan menghadang Ravi, seakan dialah yang harus mencegah Ravi mendekati langit yang terbelah itu.

“Liora,” Ravi berbisik, “apa yang kau sembunyikan dariku?”

Liora menghela napas panjang, seolah rahasia yang ia simpan terlalu berat untuk dibiarkan tetap terkunci.

“Aku tidak hilang waktu itu,” katanya.
“Sungai itu… bukan hanya air. Jejaknya bereaksi begitu kamu menyentuhnya. Dan aku—”

Suara dunia bergetar pelan, memotong ucapannya.
Tanah di bawah kaki Ravi berdenyut seperti sesuatu yang hidup.
Akar-akar kecil memutih, lalu memendarkan cahaya samar.

Nadara mundur setengah langkah. “Ini bukan fenomena alam… ini panggilan. Ke Ravi.”

Ardea menggeram pelan. “Aku harus memutus resonansi ini. Liora, menjauh.”

Liora menggeleng keras. “Kalau kau memutusnya, dia akan datang sendiri!”

“Siapa ‘dia’?!” Ravi menahan bahu Liora. “Kau terus bicara seolah semua orang tahu kecuali aku!”

Liora menatap Ravi. Mata gelapnya dipenuhi ketakutan—dan sesuatu lainnya.
Penyesalan.
Keputusasaan.
Harapan.

“Ravi…”
Ia menelan ludah.
“Kamu bukan yang pertama. Dan kamu… bukan versi pertamamu.”

Ravi membeku.
“S…seperti apa maksudnya…?”

Namun sebelum Liora menjawab, retakan langit mengembang cepat—cahaya biru turun seperti hujan terbalik, memancar dari atas ke bawah.

Ardea langsung berteriak, “TUTUP MATA! JANGAN LIHAT CAHAYANYA!”

Nadara menubruk Ravi dan Liora untuk menjatuhkan mereka ke tanah.

Tapi Ravi sudah terlambat.

Ia sempat melihat sedikit—sekilas—ke arah retakan langit.

Dan di balik cahaya itu…
Di balik tabir yang pecah…

Ada siluet.

Siluet tubuh manusia.
Bukan satu.
Tiga.
Tidak—lebih banyak. Belasan.

Semua tergantung dalam cahaya biru… seperti patung yang disimpan dalam kotak tak terlihat.

Dan salah satunya…
Salah satunya memiliki wajah yang sama seperti—

Ravi.

Ravi tersedak napas. “Tidak… tidak… itu bukan aku… itu bukan—”

Liora menangkap wajah Ravi dengan kedua tangannya, memaksa Ravi menatapnya dan bukan langit.

“Ravi! Dengarkan aku!” Liora berseru. “Itu adalah tubuh lamamu. Mereka disimpan. Mereka tidak bangun. Kamu—versimu ini—dibangunkan dengan tujuan yang berbeda!”

Nadara membeku. Ardea merasa darahnya berhenti mengalir.

“Bangun…?” Ardea mengulang.

“Tubuh lamaku… disimpan…?” Ravi suaranya pecah. “Liora… apa aku ini manusia? Atau aku… sesuatu yang dibuat?!”

Angin berputar kencang di sekitar mereka.
Seolah jawaban dunia sendiri ingin masuk tanpa diminta.

Liora mengguncang Ravi. “Kamu hidup! Kamu nyata! Tapi kamu tidak lahir seperti kebanyakan orang!”
Ia menatapnya, penuh luka.
“Aku menemukanku pertama kalinya di lembah selatan… tubuhmu terendam, tidak bernapas, tapi tidak membusuk. Penjaga Arka—mereka menunggu kamu bangun.”

Ardea tersentak keras. “Itu mustahil. Tubuh Ravi ditemukan… bertahun-tahun lalu di desa pinggir hutan, bukan di Arka!”

Liora menatap Ardea. “…yang ditemukan itu bentuk kedua. Yang ini—” ia menunjuk Ravi “—adalah jejak inti. Fondasi dari semuanya.”

Ravi memucat. “Aku… aku… replika…?”

“Bukan replika,” Liora cepat membalas.
“Kamu inti. Yang lain—versi-versimu—itu adalah kemungkinan. Cadangan. Tetapi hanya kamu yang bangun.”

Ardea dan Nadara saling tatap, tidak berani menyimpulkan apa pun.

Tiba-tiba retakan langit menyala sangat terang—lebih terang daripada matahari.
Sebuah suara turun, lebih jelas daripada sebelumnya.

“Ravi… kembali. Siklusmu belum selesai.”

Ravi memegang kepalanya, napasnya kacau. “Aku tidak kenal kau! Siapa kau?!”

Cahaya membentuk lingkaran di langit, berputar seperti spiral.

Sebuah sosok perlahan turun dari dalam retakan.
Tidak sepenuhnya terlihat—seperti terbuat dari kabut biru dan memori.

Namun suaranya…
suara itu mendalam dan tua.

“Aku yang pertama memberimu bentuk.”
“Aku yang menyimpan tubuhmu.”
“Aku yang membangunkanmu.”

Liora berbisik dengan suara patah—

“Ravi… itu dia… itu sosok yang bahkan Arvun takutkan…”

Ardea menegakkan tubuhnya.
Nadara menyiapkan pisaunya meski percuma.

Langit bergetar saat sosok itu turun sedikit lebih dekat, namun tetap jauh.
Hanya bayangannya saja sudah membuat dunia seperti merunduk.

“Ravi…”
suara itu memanggil dengan lembut namun mengerikan.

“Kembalilah kepada asalmu.”

Ravi jatuh berlutut—tidak karena tunduk, tapi karena kakinya tak mampu menopang beban kebenaran yang kini menimpa seluruh hidupnya.

 

back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar