KETIKA
LANGIT MEMBELAH DAN RAHASIA DIBUKA
Retakan di langit itu membentang
seperti luka tua yang dipaksa terbuka kembali. Cahaya biru merembes keluar dari
sela-selanya, berdenyut seperti nadi raksasa.
Ravi berdiri terpaku, tubuhnya
gemetar. Suara itu—suara yang memanggil namanya dengan cara yang terdengar
terlalu akrab—kembali bergulung dari atas.
“Ravi… kembali padaku…”
Liora… justru berdiri tak jauh di
depan Ravi.
“Liora,” Ravi berbisik, “apa yang
kau sembunyikan dariku?”
Liora menghela napas panjang, seolah
rahasia yang ia simpan terlalu berat untuk dibiarkan tetap terkunci.
Nadara mundur setengah langkah. “Ini
bukan fenomena alam… ini panggilan. Ke Ravi.”
Ardea menggeram pelan. “Aku harus
memutus resonansi ini. Liora, menjauh.”
Liora menggeleng keras. “Kalau kau
memutusnya, dia akan datang sendiri!”
“Siapa ‘dia’?!” Ravi menahan bahu
Liora. “Kau terus bicara seolah semua orang tahu kecuali aku!”
Namun sebelum Liora menjawab,
retakan langit mengembang cepat—cahaya biru turun seperti hujan terbalik,
memancar dari atas ke bawah.
Ardea langsung berteriak, “TUTUP
MATA! JANGAN LIHAT CAHAYANYA!”
Nadara menubruk Ravi dan Liora untuk
menjatuhkan mereka ke tanah.
Tapi Ravi sudah terlambat.
Ia sempat melihat sedikit—sekilas—ke
arah retakan langit.
Ada siluet.
Semua tergantung dalam cahaya biru…
seperti patung yang disimpan dalam kotak tak terlihat.
Ravi.
Ravi tersedak napas. “Tidak… tidak…
itu bukan aku… itu bukan—”
Liora menangkap wajah Ravi dengan
kedua tangannya, memaksa Ravi menatapnya dan bukan langit.
“Ravi! Dengarkan aku!” Liora
berseru. “Itu adalah tubuh lamamu. Mereka disimpan. Mereka tidak bangun.
Kamu—versimu ini—dibangunkan dengan tujuan yang berbeda!”
Nadara membeku. Ardea merasa
darahnya berhenti mengalir.
“Bangun…?” Ardea mengulang.
“Tubuh lamaku… disimpan…?” Ravi
suaranya pecah. “Liora… apa aku ini manusia? Atau aku… sesuatu yang dibuat?!”
Ardea tersentak keras. “Itu
mustahil. Tubuh Ravi ditemukan… bertahun-tahun lalu di desa pinggir hutan,
bukan di Arka!”
Liora menatap Ardea. “…yang
ditemukan itu bentuk kedua. Yang ini—” ia menunjuk Ravi “—adalah jejak
inti. Fondasi dari semuanya.”
Ravi memucat. “Aku… aku… replika…?”
Ardea dan Nadara saling tatap, tidak
berani menyimpulkan apa pun.
“Ravi… kembali. Siklusmu belum
selesai.”
Ravi memegang kepalanya, napasnya
kacau. “Aku tidak kenal kau! Siapa kau?!”
Cahaya membentuk lingkaran di
langit, berputar seperti spiral.
Liora berbisik dengan suara patah—
“Ravi… itu dia… itu sosok yang
bahkan Arvun takutkan…”
“Kembalilah kepada asalmu.”
Ravi jatuh berlutut—tidak karena
tunduk, tapi karena kakinya tak mampu menopang beban kebenaran yang kini
menimpa seluruh hidupnya.

0 Komentar