JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (17)

 

Es Es - Ikon Blog

TANGGA YANG TIDAK PERNAH SUNYI

Menara Ranuqta menjulang seperti tulang belakang raksasa yang tersisa dari dunia kuno. Tangga spiralnya patah di beberapa bagian, namun masih cukup kokoh untuk dilalui. Cahaya obor Ravi memantulkan bayangan panjang di dinding, membuat ukiran-ukiran kuno tampak seolah bergerak.

Setiap langkah yang mereka ambil mengeluarkan gema halus.
Gema yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ardea menatap ke atas. “Tangga ini tidak normal. Suaranya… mengikuti kita.”

“Suara tangga biasanya memang menggema,” Ravi mencoba menenangkan.

“Tidak seperti ini,” Nadara membalas. “Ranuqta dikenal menyimpan gema ingatan. Tempat ini mengulang masa lalu yang pernah terekam di dalam batunya.”

Ravi menelan ludah. “Maksudmu kalau seseorang pernah mati di tangga ini—”

“—kita bisa mendengar ulang detik kematiannya,” potong Nadara datar.

Ravi langsung menutup mulut.

Mereka melangkah lagi.

Dan perlahan… suara lain mulai terdengar.

Bukan berasal dari mereka.

Langkah lain.

Teratur.

Pelan.

Naik dari bawah.

Ravi menoleh cepat. “Ardea? Nadara? Ada yang ikut kita naik?”

Ardea mengangkat tombaknya. “Aku juga dengar.”

Liora menutup telinganya dengan kedua tangan. “Itu… bukan langkah orang hidup…”

Langkah itu berhenti.

Lalu suara seperti napas yang terputus terdengar.
Diikuti bisikan:

“Jangan naik…”

Ravi memegang obor lebih erat. “Siapa itu?”

Tidak ada jawaban.

Hanya tangga yang tiba-tiba bergetar seperti tali yang ditarik dari kedua ujungnya.

Ardea bergerak cepat. “Itu gema! Jangan dengarkan! Terus naik!”

Mereka mempercepat langkah, dan suara bisikan itu makin jauh, meski sesekali terdengar seperti seseorang menyeret tubuh di dinding menara.

Sampai akhirnya mereka mencapai level tengah—ruangan bundar terbuka menuju langit malam.

Nadara menyalakan kristal penerang kecil. Cahaya biru lembut menyebar. Ukiran kuno memenuhi dinding—berbentuk lingkaran berlapis, seperti mata yang tidak berkedip.

Liora tiba-tiba tersentak. “Simbol ini… aku pernah melihatnya.”

“Di mana?” tanya Ravi.

“Dalam mimpi,” jawab Liora pelan. “Atau mungkin… ingatan yang bukan milikku.”

Ardea mendekat. “Apa yang kamu rasakan?”

Liora mengusap ukiran itu dengan ujung jarinya. Ukiran itu bergetar kecil, seolah merespons sentuhannya.

“Ada seseorang… yang memanggilku. Sosok perempuan. Rambutnya panjang sampai lantai. Matanya… seperti dua matahari kecil.”
Liora menelan ludah.
“Dia memanggilku dengan nama lain.”

Ravi memutar tubuh. “Nama apa?”

Liora membuka mulut—tapi sebelum ia sempat menjawab, ukiran di dinding menyala emas.

Menyala hanya di bagian tempat jari Liora menyentuhnya.

Ardea langsung menarik Ravi mundur.
Nadara menyiapkan senjatanya.
Liora membeku, tak bisa melepaskan tangan dari dinding.

“Liora!” Ravi mencoba mendekat, tapi Ardea menahannya.

Cahaya emas itu mengalir—bukan sekadar menyala, tapi bergerak—menuju lantai, menyusuri garis-garis seperti peta yang selama ini tertutup debu. Seluruh ruangan bergetar.

Kemudian sebuah suara terdengar.

Suara perempuan.

Lembut. Tua. Dalam.

“Akhirnya… keturunan garis itu kembali.”

Liora terhuyung. “Tidak… aku bukan keturunan siapa-siapa… aku hanya…”

Suara itu menyela.

“Aku bisa merasakan darahku di dalammu, anakku.”

Ravi dan Nadara sama-sama menegang.

Ardea berbisik, “Kalau begitu… dia bukan hanya resonansi. Dia… leluhur Liora.”

Cahaya berkumpul di tengah ruangan, membentuk sosok siluet perempuan—hanya sebatas cahaya tanpa tubuh, tapi jelas tampak kuat.

Liora mundur, namun cahaya itu mengikutinya.

“Namamu,” kata sosok itu perlahan, “bukan Liora.”

Ravi menarik napas panjang.

Nadara menggenggam pisau lebih erat. Ardea menyiapkan tombak. Liora memucat.

Sosok cahaya itu membisikkan sebuah nama:

“Auralei.”

Cahaya meledak, memenuhi ruangan dalam keemasan.

Dan dalam ledakan kilau itu, Ravi mendengar sesuatu yang lain—suara laki-laki, sangat jauh, tapi jelas:

“Ravi… itu bukan namanya. Dan dia bukan satu-satunya yang terbangun.”

Cahaya padam.


back  ------------  next

Posting Komentar

0 Komentar