TANGGA YANG TIDAK PERNAH SUNYI
Menara Ranuqta menjulang seperti
tulang belakang raksasa yang tersisa dari dunia kuno. Tangga spiralnya patah di
beberapa bagian, namun masih cukup kokoh untuk dilalui. Cahaya obor Ravi
memantulkan bayangan panjang di dinding, membuat ukiran-ukiran kuno tampak
seolah bergerak.
Ardea menatap ke atas. “Tangga ini
tidak normal. Suaranya… mengikuti kita.”
“Suara tangga biasanya memang
menggema,” Ravi mencoba menenangkan.
“Tidak seperti ini,” Nadara
membalas. “Ranuqta dikenal menyimpan gema ingatan. Tempat ini mengulang
masa lalu yang pernah terekam di dalam batunya.”
Ravi menelan ludah. “Maksudmu kalau
seseorang pernah mati di tangga ini—”
“—kita bisa mendengar ulang detik
kematiannya,” potong Nadara datar.
Ravi langsung menutup mulut.
Mereka melangkah lagi.
Dan perlahan… suara lain mulai
terdengar.
Bukan berasal dari mereka.
Langkah lain.
Teratur.
Pelan.
Naik dari bawah.
Ravi menoleh cepat. “Ardea? Nadara?
Ada yang ikut kita naik?”
Ardea mengangkat tombaknya. “Aku
juga dengar.”
Liora menutup telinganya dengan
kedua tangan. “Itu… bukan langkah orang hidup…”
Langkah itu berhenti.
“Jangan naik…”
Ravi memegang obor lebih erat.
“Siapa itu?”
Tidak ada jawaban.
Hanya tangga yang tiba-tiba bergetar
seperti tali yang ditarik dari kedua ujungnya.
Ardea bergerak cepat. “Itu gema!
Jangan dengarkan! Terus naik!”
Mereka mempercepat langkah, dan
suara bisikan itu makin jauh, meski sesekali terdengar seperti seseorang
menyeret tubuh di dinding menara.
Sampai akhirnya mereka mencapai
level tengah—ruangan bundar terbuka menuju langit malam.
Nadara menyalakan kristal penerang
kecil. Cahaya biru lembut menyebar. Ukiran kuno memenuhi dinding—berbentuk
lingkaran berlapis, seperti mata yang tidak berkedip.
Liora tiba-tiba tersentak. “Simbol
ini… aku pernah melihatnya.”
“Di mana?” tanya Ravi.
“Dalam mimpi,” jawab Liora pelan.
“Atau mungkin… ingatan yang bukan milikku.”
Ardea mendekat. “Apa yang kamu
rasakan?”
Liora mengusap ukiran itu dengan
ujung jarinya. Ukiran itu bergetar kecil, seolah merespons sentuhannya.
Ravi memutar tubuh. “Nama apa?”
Liora membuka mulut—tapi sebelum ia
sempat menjawab, ukiran di dinding menyala emas.
Menyala hanya di bagian tempat jari
Liora menyentuhnya.
“Liora!” Ravi mencoba mendekat, tapi
Ardea menahannya.
Cahaya emas itu mengalir—bukan
sekadar menyala, tapi bergerak—menuju lantai, menyusuri garis-garis seperti
peta yang selama ini tertutup debu. Seluruh ruangan bergetar.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Suara perempuan.
Lembut. Tua. Dalam.
“Akhirnya… keturunan garis itu
kembali.”
Liora terhuyung. “Tidak… aku bukan
keturunan siapa-siapa… aku hanya…”
Suara itu menyela.
“Aku bisa merasakan darahku di
dalammu, anakku.”
Ravi dan Nadara sama-sama menegang.
Ardea berbisik, “Kalau begitu… dia
bukan hanya resonansi. Dia… leluhur Liora.”
Cahaya berkumpul di tengah ruangan,
membentuk sosok siluet perempuan—hanya sebatas cahaya tanpa tubuh, tapi jelas
tampak kuat.
Liora mundur, namun cahaya itu
mengikutinya.
“Namamu,” kata sosok itu perlahan, “bukan Liora.”
Ravi menarik napas panjang.
Nadara menggenggam pisau lebih erat.
Ardea menyiapkan tombak. Liora memucat.
Sosok cahaya itu membisikkan sebuah
nama:
“Auralei.”
Cahaya meledak, memenuhi ruangan
dalam keemasan.
Dan dalam ledakan kilau itu, Ravi
mendengar sesuatu yang lain—suara laki-laki, sangat jauh, tapi jelas:
“Ravi… itu bukan namanya. Dan dia
bukan satu-satunya yang terbangun.”
Cahaya padam.

0 Komentar