JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (5)

 

Es Es - Ikon Blog

BAYANGAN YANG MENYEBUT NAMAMU

Angin malam menggulung di sela pepohonan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang… asing. Ravi mematung. Suara itu jelas. Lembut, tapi sangat dekat.

“Ravi…”

Liora? Bukan.

Ia menelan ludah, jemari menggenggam kompas tua yang terasa hangat, seolah benda itu hidup dan berdebar bersamanya.

“Siapa?”
Suara Ravi pecah oleh gugup.

Tidak ada jawaban. Hanya desir daun yang bergesekan.

Ravi melangkah satu tapak; rumput basah menahan pijakannya. Kompasnya berputar liar, jarumnya berkedip-kedip dengan cahaya tipis seperti lampu kuno yang hampir padam. Lalu, jarum itu berhenti mendadak—menunjuk lurus ke arah kegelapan.

Dalam sekejap, bayangan seseorang muncul.

Bukan monster. Bukan makhluk asing. Tapi seseorang.

Tingginya hampir sama seperti Ravi, tubuhnya ramping, dan wajahnya tertutup oleh tudung hitam. Hanya bagian bawah wajahnya terlihat—kulitnya pucat nyaris seperti kertas.

“Aku sudah mencarimu,” ucapnya pelan.

Ravi mundur. “K-Kenapa? Kamu siapa sebenarnya?”

Tudung itu sedikit terangkat oleh angin, memperlihatkan sepasang mata—abu-abu redup, seperti langit sebelum hujan.

“Namaku Ardea,” jawabnya. “Dan jika aku tidak menemukanmu sekarang… mereka yang mengejarmu akan datang lagi.”

Ravi merasakan perutnya mengerut. “Kamu yang panggil namaku tadi?”

Ardea tidak langsung menjawab. Ia menatap kompas di tangan Ravi. Ekspresinya berubah—ada rasa terkejut, sekaligus sesuatu yang mirip… lega.

“Jadi benar,” bisiknya. “Penanda itu memilihmu.”

Ravi mengangkat alis. “Penanda? Kompas ini?”

“Bukan kompas,” kata Ardea, nada suaranya menegas. “Itu adalah salah satu Jejak. Jejak dari dunia yang pernah ada sebelum dunia kita dibangun ulang.”

Ravi mengernyit. “Dunia sebelum… kita?”

Tapi Liora di mana?

Ardea menutup jarak satu langkah dan suara hening malam mendadak terasa sangat tipis. “Ravi, apa kamu kira semuanya dimulai dari sejarah yang diajarkan di sekolah? Dari nenek moyang, dari kerajaan pertama, dari peradaban kuno?”

Ravi terdiam.

“Tidak,” lanjut Ardea. “Ada dunia sebelum semuanya. Dunia yang ditutupi, diputus dari ingatan manusia. Dan jejak dari dunia itu tersebar—berbahaya jika salah tangan menemukannya.”

Ravi menatap kompas itu. Mendadak ia merasa berat, seperti memegang rahasia yang tidak seharusnya dimiliki seorang remaja sebagaimana dirinya.

“Kenapa aku?” Ravi bertanya lirih.

Ardea memandangnya lama. “Karena hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat bayangan masa lalu. Orang-orang seperti kamu.”

Ravi menelan ludah. “Aku? Aku cuma anak yang—”

“Tinggal di desa kecil? Tidak punya siapa-siapa? Lebih sering dianggap aneh? Itu sebabnya justru kamu bisa melihat.”

Ravi terpaku. Kata-kata itu menghantamnya seperti sesuatu yang sangat pribadi.

Ardea membuka telapak tangannya. Sebuah serpih logam kecil, berbentuk setengah lingkaran, melayang di atasnya. Benda itu berputar pelan, memancarkan cahaya biru redup.

“Ini juga Jejak,” ucap Ardea. “Dan seseorang—atau sesuatu—sedang mencari semua Jejak itu. Termasuk punyamu.”

Ravi menelan ludah. “Jadi makhluk yang mengejarku malam pertama itu…”

Ardea mengangguk. Ravi pucat.

“Tapi kalau begitu,” gumam Ravi, “kenapa kamu menolongku?”

Ardea menahan napas. Kedua matanya bergetar kecil.

“Karena aku pernah seperti kamu,” katanya lirih. “Dan karena… aku tahu apa yang terjadi jika kita terlambat.”

Untuk pertama kalinya, suara Ardea terdengar rapuh. Ravi merasakan sesuatu di dadanya—kasihan, atau rasa ingin tahu yang lebih dalam dari itu.

“Kita harus pergi,” lanjut Ardea cepat. “Jejakmu sudah aktif. Mereka sudah merasakan keberadaannya.”

Ravi menatap hutan di sekeliling. Sunyi. Terlalu sunyi.

“Kalau aku ikut… apa yang akan terjadi?” tanya Ravi.

Ardea menghela napas. “Kalau kamu ikut, Ravi…”
“…kamu akan tahu kebenaran tentang dunia kita.”
Ia menatap Ravi dengan tatapan yang menusuk.
“Dan kamu tidak akan bisa kembali seperti semula.”

Ravi meneguk ludah.

Lalu, perlahan, ia menggenggam kompas yang hangat itu.

“Kalau aku menolak?”

Ardea menatap lurus ke matanya.

“Mereka akan menemukanmu.”

Keheningan menelan ruang. Ravi memejamkan mata sejenak, mengingat malam-malam penuh ketakutan, ingatan kabur saat ia masih kecil, dan suara-suara samar yang selalu ia dengar.

Ketika ia membuka mata kembali, keputusan itu sudah ada.

“Aku ikut.”

Ardea menarik napas, seolah lega—atau justru khawatir lebih dalam.

“Baik,” ujarnya pelan. “Mulai sekarang, Ravi, dunia yang selama ini kamu kenal… hanyalah permukaan.”

Ardea memberi isyarat supaya Ravi mengikutinya.

Tapi sebelum mereka melangkah, suara ranting patah terdengar dari arah gelap.

Suara berat. Perlahan. Menyeret sesuatu.

Ravi merinding. Ardea memutar tubuh, wajahnya menegang.

“Mereka sudah dekat,” bisiknya.


back  -----------  next

Posting Komentar

0 Komentar