JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (7)

 

Es Es - Ikon Blog

YANG MENUNGGU DI UJUNG LORONG

Lorong sempit itu semakin gelap. Dinding tanahnya lembap, mengeluarkan aroma mineral tua dan akar-akar yang menggantung seperti jari-jari kurus dari masa lampau. 

Suara desis Pemburu Jejak makin dekat. Ardea memeluk bahunya rendah, memberi isyarat diam.

“Kita sudah hampir di ujung,” bisik Ardea. “Aku bisa merasakannya.”

Ravi menelan ludah. “Apa yang ada di depan?”

Ardea menggeleng. “Bukan sesuatu yang aku kenal. Tapi… sesuatu yang mengenalmu.”

Ravi ingin bertanya lebih banyak, tapi lantai lorong tiba-tiba menurun tajam, membuat mereka tergelincir. Ravi hampir jatuh, namun Ardea menariknya. Cahaya samar muncul di depan—bukan warna emas atau merah, tapi biru pucat, seperti pantulan bulan pada air beku.

Mereka mendekat dengan hati-hati.

Lorong itu terbuka ke sebuah ruangan bawah tanah alami, luas dan kosong kecuali satu hal:

Sebuah kolam.
Airnya tidak bergerak. Tenang seperti kaca. Bersinar biru dari dalam, meski tidak ada sumber cahaya.

Namun bukan itu yang membuat Ravi mundur setapak.

Di permukaan air, tercetak bayangan seseorang—
Seorang perempuan.
Rambut panjang. Tubuh ramping. Berdiri tegak, seolah menatap mereka.

Liora.

“Tunggu—LIORA!” Ravi berlari, namun Ardea menariknya keras.

“Bukan dia.”

Ravi berhenti. Napas tercekat. “Apa maksudmu bukan dia?! Aku melihatnya!”

“Itu bukan Liora,” kata Ardea, suaranya pelan namun tegas. “Itu pantulan dari sesuatu yang sedang memanggilmu. Pantulan dari masa lalu yang ingin masuk ke masa kini.”

Ravi mundur satu langkah.
Bayangan itu tetap berdiri di permukaan kolam, seolah memandangi Ravi dengan tatapan yang—asing. Bukan tatapan Liora.

Tiba-tiba, suara dentuman keras menggema dari lorong belakang mereka.

KRRAAAKH!

Dinding cahaya merah yang tadi Ardea buat pasti sudah runtuh sepenuhnya. Suara desis itu berubah menjadi pekikan. Pemburu Jejak sudah masuk lorong.

Ardea mendorong Ravi ke belakang. “Kalau kita lari kembali, kita mati. Satu-satunya jalan… kolam ini.”

“Apa kita harus terjun?!”

Ardea mengangguk. “Kolam ini bukan air. Ini gerbang. Tapi aku tidak tahu ke mana.”

Ravi memandang lagi ke bayangan perempuan itu.
Wajahnya samar. Terlalu samar. Seperti seseorang yang mencoba meniru wajah Liora… dan gagal sedikit.

“Kalau aku masuk… apakah aku pasti menemukan Liora?” bisik Ravi.

Ardea tidak menjawab.

Di belakang mereka, lorong bergetar kuat. Suara langkah makhluk itu sudah sangat dekat.

Ia menatap kolam.
Menatap bayangan itu.

Dan ia membuat keputusan.

“Aku masuk.”

Ardea mengangguk sekali, tanpa ragu. “Aku ikut.”

Mereka melompat bersamaan.

Air—atau apa pun itu—menyambut tubuh mereka bukan dengan dingin, tapi dengan keheningan. Dunia gelap seketika berubah menjadi pusaran warna biru dan putih. Ravi merasakan seperti ditarik ke segala arah.

Ada suara.
Perempuan.
Bukan Liora.
Namun mengenal namanya.

“Ravi… akhirnya kau kembali.”

Ravi mencoba membuka mata, tapi cahaya terlalu kuat.

Ardea menjerit pelan, suaranya terdistorsi. “Ravi! Jangan deng—!”

Semua hilang.

Gelap.
Lalu, tanah.

Ravi terempas ke lantai batu.

Ia bangun perlahan, terengah. Ardea terlempar beberapa langkah darinya, batuk. Di atas mereka, langit tampak… aneh. Tidak gelap. Tidak terang. Seolah terbuat dari kabut biru bergerak.

Dan di depan mereka—
ada seseorang berdiri.

Perempuan.
Berwajah mirip Liora… tapi bukan Liora.

Lebih tua.
Lebih tenang.
Matanya biru menyala seperti kolam tadi.

Ravi membeku.

Ardea memegangi dadanya, berbisik ketakutan.

“Ya Tuhan… penjaga pertama…”

Perempuan itu tersenyum lembut… namun dingin.

“Selamat datang, Ravi,” katanya.
“Akhirnya kau kembali ke negeri yang pernah kau tinggalkan.”


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar