YANG MENUNGGU DI UJUNG LORONG
Lorong sempit itu semakin gelap. Dinding tanahnya lembap, mengeluarkan aroma mineral tua dan akar-akar yang menggantung seperti jari-jari kurus dari masa lampau.
Suara desis Pemburu Jejak makin
dekat. Ardea memeluk bahunya rendah, memberi isyarat diam.
“Kita sudah hampir di ujung,” bisik
Ardea. “Aku bisa merasakannya.”
Ravi menelan ludah. “Apa yang ada di
depan?”
Ardea menggeleng. “Bukan sesuatu
yang aku kenal. Tapi… sesuatu yang mengenalmu.”
Ravi ingin bertanya lebih banyak,
tapi lantai lorong tiba-tiba menurun tajam, membuat mereka tergelincir. Ravi
hampir jatuh, namun Ardea menariknya. Cahaya samar muncul di depan—bukan warna
emas atau merah, tapi biru pucat, seperti pantulan bulan pada air beku.
Mereka mendekat dengan hati-hati.
Lorong itu terbuka ke sebuah ruangan
bawah tanah alami, luas dan kosong kecuali satu hal:
Namun bukan itu yang membuat Ravi
mundur setapak.
Liora.
“Tunggu—LIORA!” Ravi berlari, namun
Ardea menariknya keras.
“Bukan dia.”
Ravi berhenti. Napas tercekat. “Apa
maksudmu bukan dia?! Aku melihatnya!”
“Itu bukan Liora,” kata Ardea,
suaranya pelan namun tegas. “Itu pantulan dari sesuatu yang sedang memanggilmu.
Pantulan dari masa lalu yang ingin masuk ke masa kini.”
Tiba-tiba, suara dentuman keras
menggema dari lorong belakang mereka.
KRRAAAKH!
Dinding cahaya merah yang tadi Ardea
buat pasti sudah runtuh sepenuhnya. Suara desis itu berubah menjadi pekikan.
Pemburu Jejak sudah masuk lorong.
Ardea mendorong Ravi ke belakang.
“Kalau kita lari kembali, kita mati. Satu-satunya jalan… kolam ini.”
“Apa kita harus terjun?!”
Ardea mengangguk. “Kolam ini bukan
air. Ini gerbang. Tapi aku tidak tahu ke mana.”
“Kalau aku masuk… apakah aku pasti
menemukan Liora?” bisik Ravi.
Ardea tidak menjawab.
Di belakang mereka, lorong bergetar kuat. Suara langkah makhluk itu sudah sangat dekat.
Dan ia membuat keputusan.
“Aku masuk.”
Ardea mengangguk sekali, tanpa ragu.
“Aku ikut.”
Mereka melompat bersamaan.
Air—atau apa pun itu—menyambut tubuh
mereka bukan dengan dingin, tapi dengan keheningan. Dunia gelap seketika
berubah menjadi pusaran warna biru dan putih. Ravi merasakan seperti ditarik ke
segala arah.
“Ravi… akhirnya kau kembali.”
Ravi mencoba membuka mata, tapi
cahaya terlalu kuat.
Ardea menjerit pelan, suaranya
terdistorsi. “Ravi! Jangan deng—!”
Semua hilang.
Ravi terempas ke lantai batu.
Ia bangun perlahan, terengah. Ardea
terlempar beberapa langkah darinya, batuk. Di atas mereka, langit tampak… aneh.
Tidak gelap. Tidak terang. Seolah terbuat dari kabut biru bergerak.
Ravi membeku.
Ardea memegangi dadanya, berbisik
ketakutan.
“Ya Tuhan… penjaga pertama…”
Perempuan itu tersenyum lembut…
namun dingin.

0 Komentar