JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (8)

 

Es Es - Ikon Blog

PENJAGA PERTAMA

Ravi berdiri terpaku. Perempuan itu… wajahnya begitu mirip Liora, tetapi ada sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih… terlatih. Mata birunya berpendar seolah memantulkan bintang-bintang yang tidak ada di langit.

Ardea berlutut tanpa sadar, seperti tubuhnya mengenali sesuatu yang pikirannya belum sempat ikuti.

“Penjaga Pertama…” Ardea berbisik. “Aku pikir kalian sudah lenyap.”

Perempuan itu menoleh perlahan kepada Ardea, suaranya lembut namun penuh wibawa.
“Tidak ada yang benar-benar lenyap. Hanya berpindah… menunggu waktu yang tepat.”
Lalu pandangannya kembali ke Ravi. “Dan waktunya tiba ketika dia kembali.”

Ravi menelan ludah. “Siapa… kau?”

“Aku adalah Nadara,” jawabnya. “Yang pertama menjaga Gerbang, saksi runtuhnya zaman, dan pernah menyaksikan dirimu berjanji untuk tidak kembali.”

Ravi membeku. Kata-katanya terdengar seperti teka-teki, tetapi juga seperti tuduhan.

“Aku? Berjanji? Kapan?” Ravi menggeleng keras. “Aku bahkan tidak tahu tempat ini!”

Nadara memandangnya lama, sangat lama, seolah menguliti ingatan Ravi dari luar.
“Karena yang membuat janji itu… bukan dirimu yang sekarang.”

Ardea menatap Ravi dengan cemas. “Jejakmu sedang membuka ingatan lamanya. Kamu mungkin belum siap mendapat semuanya sekaligus.”

“Aku hanya ingin menemukan Liora,” kata Ravi, suara bergetar. “Dia hilang. Terlempar entah ke mana.”

Nadara mengangkat jemari putihnya, dan permukaan udara di depan mereka bergetar, membentuk bayangan samar seperti kabut yang mencoba menjadi gambar.

Kilasan muncul:

Liora terlempar dari pusaran cahaya, tubuhnya menghantam tanah lumut. Ia sadar, bangkit, terengah, matanya panik.
Ia memanggil nama Ravi—tapi suaranya tidak menembus apa pun.
Di sekelilingnya, hutan asing terbentang. Pohon-pohon tinggi dengan akar berkilat seperti logam hidup.
Kemudian… ada suara berat dari kejauhan.
Liora berlari.

Kabut itu lenyap.

Ravi hampir maju memegang udara, wajah pucat. “Dia… hidup. Tapi dia sendirian.”

Nadara mengangguk pelan. “Ya. Dan dia berada di wilayah yang bahkan Pemburu Jejak pun enggan memasuki.”

Ravi menegang. “Apa maksudmu?”

Ardea menelan ludah. “Kau tidak berpikir… dia terlempar ke Hutan Retak, kan?”

Nadara menatap Ardea, dan jawabannya bukan kata-kata—hanya diam. Diam yang cukup untuk membuat Ravi merasa perutnya jatuh.

“Hutan apa itu?” tanya Ravi cepat.

Ardea mengusap wajahnya, suara bergetar.
“Itu tempat yang bahkan kami—para penjaga muda—tidak boleh dekati. Tempat sisa perang lama. Ada makhluk-makhluk lama, sisa zaman sebelum manusia sekarang. Mereka tidak mengenali dunia. Mereka tidak mengenali kita. Dan mereka lapar.”

Ravi merasa napasnya tercekat.
“Liora di sana? Sendirian?!”

Nadara menatapnya penuh belas kasih yang aneh.
“Karena itu kau dipanggil kembali, Ravi. Karena kau adalah satu-satunya yang bisa menembus Hutan Retak.”

Ravi mengepal tangan.

“Beritahu aku caranya,” katanya pelan. “Aku akan menjemputnya.”

Namun Nadara menggeleng.

“Dunia tidak sesederhana itu.”

Ia menepukkan tangannya ke udara.
Cahaya biru terbuka seperti kelopak bunga, memperlihatkan sebuah peta tiga dimensi yang melayang. Ada jalur bercahaya, titik bergerak perlahan… dan bayangan gelap yang mengikuti jalur itu.

“Itu Liora.”
Nadara menunjuk titik biru.
“Dan itu… sesuatu yang mengikutinya.”
Ia menunjuk bayangan gelap yang tidak berbentuk manusia.

Ravi maju satu langkah, matanya terbelalak. “Apa itu makhluk Pemburu?”

“Tidak,” jawab Nadara. “Itu jauh lebih tua. Lebih lapar. Dan lebih tertarik padamu daripada pada Liora.”

Ardea tersentak. “Tapi—kenapa dia mengejar Liora kalau yang dia mau Ravi?”

Nadara menatap Ravi lama.

“Karena dalam diri Liora… ada sesuatu milik Ravi.”

Ravi menegang.

Ardea memandang Ravi dengan bingung. “Apa maksudnya? Liora bukan pembawa Jejak!”

Nadara menghela napas panjang.

“Benar. Tapi dia membawa sesuatu yang tidak ia sadari. Sesuatu yang Ravi tinggalkan padanya tanpa sengaja.”

Ravi merasa seluruh tubuhnya panas.
“Apa yang aku tinggalkan?”

Nadara berjongkok di hadapan Ravi, menatapnya dari dekat.

“Bukan benda,” katanya.
“Bukan ingatan.”
Ia menepuk dada Ravi, lembut namun tepat.

“Jejakmu—yang lama—melekat di hatinya. Bukan sebagai kekuatan… tapi sebagai keterikatan.”

Ardea mengangkat wajah. “Jadi… Liora membawa gema Ravi Kuno?”

Nadara mengangguk.

“Dan makhluk di Hutan Retak bisa mencium gema itu.”

Ravi merasakan dunia berputar.

Ia ingin marah. Ingin berteriak.
Ingin memaki langit, atau dunia lama, atau apa pun yang membuat Liora berada dalam bahaya hanya karena ia pernah hidup sebelum sekarang.

Tapi ia hanya bisa berkata satu hal:

“Beritahu aku bagaimana ke sana.”

Nadara tersenyum kecil—senyum sedih.

“Aku sudah tahu kau akan berkata begitu.”

“Boleh aku tanya padamu?” Ravi berkata setengah berbisik.

Nadara diam. Tapi menunggu.

“Apa hubunganmu dengan Liora?”

Ada sedikit perubahan pada wajahnya. Sekilas. Ia berdiri, tubuhnya memancarkan cahaya halus. Bukannya menjawab, Nadara berkata, “Kalau kau ingin menjemputnya… maka pertama-tama, Ravi…”

Cahaya di ruangan meningkat tajam.
Kabut biru merapat, membentuk lingkaran di kaki mereka.

“…kau harus mengingat siapa kau dulu.”


back  ----------  next

Posting Komentar

0 Komentar