JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (9)

 

Es Es - Ikon Blog

DI BAWAH BAYANG KUIL RETAK

Ravi terhenyak di depan ukiran itu. Wajah yang terpahat di dinding batu… terlalu mirip dirinya. Bukan sekadar mirip—itu versi dirinya dengan mata menyala, dengan seseorang di sampingnya, seseorang yang pun Ravi rasanya tahu.

Liora?

Ardea menunduk memeriksa keretakan di bawah relief. “Ini bukan pertama kali aku melihatnya,” katanya. “Tapi ini pertama kali aku melihat jejaknya bereaksi.”

Cahaya biru samar merembes keluar dari celah-celah ukiran. Ravi mundur selangkah, tapi cahaya itu malah mengikuti arah tubuhnya, seperti magnet.

“Ardea,” Ravi berbisik, “apa yang terjadi jika aku menyentuhnya?”

Ardea menatap Ravi dengan sorot takut yang jarang muncul darinya. “Jejakmu akan bicara. Dan biasanya… ia bicara dengan cara yang tidak manusia suka.”

Gemuruh pelan terdengar dari dalam dinding, seperti sesuatu yang lama tertidur sedang menggeliat.

Ravi menelan ludah. “Tadi Liora… aku dengar suaranya lagi. Di dekat sini.”

Ardea mengangkat alis. “Di tempat seperti ini, suara masa lalu mudah menempel pada telinga. Tidak semuanya nyata.”

“Tapi yang tadi… bukan gema. Dia bilang ‘jangan ikuti cahaya’. Suaranya… itu suara dia.”

Ardea tampak hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum sempat membuka mulut—

BRUK.

Guncangan kecil merambat dari dalam tanah.

Debu berjatuhan dari langit-langit. Hembusan angin dingin turun dari lorong gelap di belakang mereka.

Ardea menajamkan mata. “Mereka menemukan pintu masuk.”

Ravi memegang lengan Ardea. “Siapa mereka sebenarnya? Penjaga Arka Kuno?”

Ardea menggeleng pelan. “Tidak. Makhluk yang mengejarmu—yang kita lari darinya di hutan—itulah Penjaga Arka. Tapi yang datang sekarang…”

Suara berat, ritmis, seperti puluhan kaki yang menyeret sesuatu di lantai batu, terdengar dari lorong belakang.

“…mereka bukan Penjaga. Mereka adalah Pengingat.”

Ravi menegang. “Pengingat apa?”

Ardea menarik napas dalam, seolah kalimat yang akan ia ucapkan adalah sesuatu yang bahkan ia sendiri enggan percaya.

“Mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk satu tugas: mencari… dan mengembalikan… jiwa yang pernah terbelah.”

Ravi seperti ditampar. “Terbelah? Maksudmu—”

“Maksudku kau,” potong Ardea cepat. “Dan siapapun yang ada bersamamu di hidup pertamamu.”

Ravi merasa jantungnya naik sampai ke tenggorokan.

Liora.
Gadis yang entah kenapa selalu tahu jalur.
Gadis yang tidak pernah menjawab ketika Ravi bertanya mengapa ia merasa Ravi bukan orang asing baginya.
Gadis yang… hilang tanpa jejak.

Cahaya dari ukiran semakin kuat, memantul di wajah Ravi. Relief itu kini berdenyut pelan—seperti jantung.

Ardea menarik Ravi mundur. “Jangan dekat-dekat. Jejakmu memanggil sesuatu dari dalam sana.”

“Ardea,” Ravi berbisik, “apa yang ada di balik dinding ini?”

Ardea menatap Ravi lama. Terlalu lama. Lalu suaranya turun menjadi gumaman:

“Sesuatu yang dulu… kalian berdua… kunci bersama.”

Ravi membeku.

Ada langkah mendekat dari lorong belakang.
Berat. Banyak.
Bayangan bergerak di dinding batu.

Ardea mencengkram tangan Ravi.

“Kita harus pergi. Sekarang!”

Tapi Ravi tetap menatap ukiran itu.

Di celah cahaya yang membentuk wajah Liora, ia melihat sesuatu—
sepasang mata.
Dua titik cahaya emas kecil.

Dan suara lirih, nyaris tidak terdengar.

“Ravi… jangan tinggalkan aku lagi.”

Suara itu bukan gema.
Bukan ilusi.

Itu Liora.

Atau sesuatu yang dulu pernah menjadi Liora.

Ardea menjerit kecil. “RAVI!”

Dinding itu retak…
cahayanya meledak…
dan seluruh ruangan digulung cahaya biru-emas yang menyilaukan.


back  ----------   next

Posting Komentar

0 Komentar