DI BAWAH BAYANG KUIL RETAK
Ravi terhenyak di depan ukiran itu.
Wajah yang terpahat di dinding batu… terlalu mirip dirinya. Bukan sekadar
mirip—itu versi dirinya dengan mata menyala, dengan seseorang di sampingnya,
seseorang yang pun Ravi rasanya tahu.
Liora?
Ardea menunduk memeriksa keretakan
di bawah relief. “Ini bukan pertama kali aku melihatnya,” katanya. “Tapi ini
pertama kali aku melihat jejaknya bereaksi.”
Cahaya biru samar merembes keluar
dari celah-celah ukiran. Ravi mundur selangkah, tapi cahaya itu malah mengikuti
arah tubuhnya, seperti magnet.
“Ardea,” Ravi berbisik, “apa yang
terjadi jika aku menyentuhnya?”
Ardea menatap Ravi dengan sorot
takut yang jarang muncul darinya. “Jejakmu akan bicara. Dan biasanya… ia bicara
dengan cara yang tidak manusia suka.”
Gemuruh pelan terdengar dari dalam
dinding, seperti sesuatu yang lama tertidur sedang menggeliat.
Ravi menelan ludah. “Tadi Liora… aku
dengar suaranya lagi. Di dekat sini.”
Ardea mengangkat alis. “Di tempat
seperti ini, suara masa lalu mudah menempel pada telinga. Tidak semuanya
nyata.”
“Tapi yang tadi… bukan gema. Dia
bilang ‘jangan ikuti cahaya’. Suaranya… itu suara dia.”
Ardea tampak hendak mengatakan
sesuatu, tapi sebelum sempat membuka mulut—
BRUK.
Guncangan kecil merambat dari dalam
tanah.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Hembusan angin dingin turun dari lorong gelap di belakang mereka.
Ardea menajamkan mata. “Mereka
menemukan pintu masuk.”
Ravi memegang lengan Ardea. “Siapa mereka
sebenarnya? Penjaga Arka Kuno?”
Ardea menggeleng pelan. “Tidak.
Makhluk yang mengejarmu—yang kita lari darinya di hutan—itulah Penjaga Arka.
Tapi yang datang sekarang…”
Suara berat, ritmis, seperti puluhan
kaki yang menyeret sesuatu di lantai batu, terdengar dari lorong belakang.
“…mereka bukan Penjaga. Mereka
adalah Pengingat.”
Ravi menegang. “Pengingat apa?”
Ardea menarik napas dalam, seolah
kalimat yang akan ia ucapkan adalah sesuatu yang bahkan ia sendiri enggan
percaya.
“Mereka adalah makhluk yang
diciptakan untuk satu tugas: mencari… dan mengembalikan… jiwa yang pernah
terbelah.”
Ravi seperti ditampar. “Terbelah?
Maksudmu—”
“Maksudku kau,” potong Ardea cepat.
“Dan siapapun yang ada bersamamu di hidup pertamamu.”
Ravi merasa jantungnya naik sampai
ke tenggorokan.
Cahaya dari ukiran semakin kuat,
memantul di wajah Ravi. Relief itu kini berdenyut pelan—seperti jantung.
Ardea menarik Ravi mundur. “Jangan
dekat-dekat. Jejakmu memanggil sesuatu dari dalam sana.”
“Ardea,” Ravi berbisik, “apa yang
ada di balik dinding ini?”
Ardea menatap Ravi lama. Terlalu
lama. Lalu suaranya turun menjadi gumaman:
“Sesuatu yang dulu… kalian berdua…
kunci bersama.”
Ravi membeku.
Ardea mencengkram tangan Ravi.
“Kita harus pergi. Sekarang!”
Tapi Ravi tetap menatap ukiran itu.
Dan suara lirih, nyaris tidak
terdengar.
“Ravi… jangan tinggalkan aku lagi.”
Itu Liora.
Atau sesuatu yang dulu pernah
menjadi Liora.
Ardea menjerit kecil. “RAVI!”

0 Komentar