PENJAGA PERTAMA
Ravi berdiri terpaku. Perempuan itu…
wajahnya begitu mirip Liora, tetapi ada sesuatu yang lebih tua, lebih dalam,
lebih… terlatih. Mata birunya berpendar seolah memantulkan bintang-bintang yang
tidak ada di langit.
Ardea berlutut tanpa sadar, seperti
tubuhnya mengenali sesuatu yang pikirannya belum sempat ikuti.
“Penjaga Pertama…” Ardea berbisik.
“Aku pikir kalian sudah lenyap.”
Ravi menelan ludah. “Siapa… kau?”
“Aku adalah Nadara,”
jawabnya. “Yang pertama menjaga Gerbang, saksi runtuhnya zaman, dan pernah
menyaksikan dirimu berjanji untuk tidak kembali.”
Ravi membeku. Kata-katanya terdengar
seperti teka-teki, tetapi juga seperti tuduhan.
“Aku? Berjanji? Kapan?” Ravi
menggeleng keras. “Aku bahkan tidak tahu tempat ini!”
Ardea menatap Ravi dengan cemas.
“Jejakmu sedang membuka ingatan lamanya. Kamu mungkin belum siap mendapat
semuanya sekaligus.”
“Aku hanya ingin menemukan Liora,”
kata Ravi, suara bergetar. “Dia hilang. Terlempar entah ke mana.”
Nadara mengangkat jemari putihnya,
dan permukaan udara di depan mereka bergetar, membentuk bayangan samar seperti
kabut yang mencoba menjadi gambar.
Kilasan muncul:
Kabut itu lenyap.
Ravi hampir maju memegang udara,
wajah pucat. “Dia… hidup. Tapi dia sendirian.”
Nadara mengangguk pelan. “Ya. Dan
dia berada di wilayah yang bahkan Pemburu Jejak pun enggan memasuki.”
Ravi menegang. “Apa maksudmu?”
Ardea menelan ludah. “Kau tidak
berpikir… dia terlempar ke Hutan Retak, kan?”
Nadara menatap Ardea, dan jawabannya
bukan kata-kata—hanya diam. Diam yang cukup untuk membuat Ravi merasa perutnya
jatuh.
“Hutan apa itu?” tanya Ravi cepat.
Ravi mengepal tangan.
“Beritahu aku caranya,” katanya
pelan. “Aku akan menjemputnya.”
Namun Nadara menggeleng.
“Dunia tidak sesederhana itu.”
Ravi maju satu langkah, matanya
terbelalak. “Apa itu makhluk Pemburu?”
“Tidak,” jawab Nadara. “Itu jauh
lebih tua. Lebih lapar. Dan lebih tertarik padamu daripada pada Liora.”
Ardea tersentak. “Tapi—kenapa dia
mengejar Liora kalau yang dia mau Ravi?”
Nadara menatap Ravi lama.
“Karena dalam diri Liora… ada
sesuatu milik Ravi.”
Ravi menegang.
Ardea memandang Ravi dengan bingung.
“Apa maksudnya? Liora bukan pembawa Jejak!”
Nadara menghela napas panjang.
“Benar. Tapi dia membawa sesuatu
yang tidak ia sadari. Sesuatu yang Ravi tinggalkan padanya tanpa sengaja.”
Nadara berjongkok di hadapan Ravi,
menatapnya dari dekat.
“Jejakmu—yang lama—melekat di
hatinya. Bukan sebagai kekuatan… tapi sebagai keterikatan.”
Ardea mengangkat wajah. “Jadi… Liora
membawa gema Ravi Kuno?”
Nadara mengangguk.
“Dan makhluk di Hutan Retak bisa
mencium gema itu.”
Ravi merasakan dunia berputar.
Tapi ia hanya bisa berkata satu hal:
“Beritahu aku bagaimana ke sana.”
Nadara tersenyum kecil—senyum sedih.
“Aku sudah tahu kau akan berkata
begitu.”
“Boleh aku tanya padamu?” Ravi
berkata setengah berbisik.
Nadara diam. Tapi menunggu.
“Apa hubunganmu dengan Liora?”
Ada sedikit perubahan pada wajahnya.
Sekilas. Ia berdiri, tubuhnya memancarkan cahaya halus. Bukannya menjawab,
Nadara berkata, “Kalau kau ingin menjemputnya… maka pertama-tama, Ravi…”
“…kau harus mengingat siapa kau
dulu.”

0 Komentar