MEREKA YANG MENDENGAR NAMA LAMA
Untuk sesaat, hanya gema nafas Ravi
yang terdengar di ruang batu itu—pendek, tajam, dipenuhi rasa takut yang
ditahan. Dinding berpendar samar dalam warna keemasan, seolah ukiran kuno
bernapas mengikuti detak jantungnya.
Ardea berdiri di sampingnya,
tubuhnya tegang seperti busur yang ditarik penuh.
“Mereka sudah dekat,” ulang Ardea,
lebih pelan, nyaris seperti gumaman.
Ravi menelan ludah. “Berapa banyak?”
Ardea tidak menjawab.
Karena jawabannya datang sendiri.
Dari lorong gelap di sisi kiri,
terdengar gesekan berat… seperti kuku panjang menyapu batu. Di sisi kanan,
suara mirip dengkuran rendah memenuhi udara—ritmenya teratur, dingin, dan sama
sekali tidak manusiawi.
“Mereka mengepung,” bisik Ravi.
Ardea mengangguk. “Sejak kamu
menyentuh ukiran itu.”
Ravi menatap ukiran bercahaya di
dinding. Cahaya itu makin kuat, seakan merespons dirinya. “Aku tidak sengaja.”
“Jejak tidak mengenal sengaja atau
tidak,” jawab Ardea. “Ia hanya merespons pemiliknya.”
Sebelum Ravi sempat menggali kalimat
itu, sebuah suara lain menyela—lebih manusiawi, lebih ringan.
“Ardea! Ravi!”
Itu suara Nadara.
Ia muncul dari lorong belakang,
langkahnya cepat dan napasnya berat, seolah baru saja berlari menghindari
sesuatu yang tidak ingin ia lihat dua kali.
Ravi langsung bergerak mendekat.
“Nadara! Kamu ke mana saja?!”
Nadara mengangkat tangan, memberi
isyarat agar mereka diam. “Aku memeriksa jalur pelarian. Ardea menyuruhku
menjaga dari belakang jika sesuatu bergerak.” Ia menatap keduanya, kemudian
dinding bercahaya. “Dan sesuatu itu bergerak.”
Ardea menghela napas lega—sedikit
sekali, tapi Ravi melihatnya.
“Kita tidak bisa tinggal di sini,”
kata Nadara tegas. “Pengingat dari dua sisi. Ada yang lebih besar di lorong
barat. Jalan yang tadi kita lewati… sudah runtuh.”
“Runtuh?” Ravi terbelalak.
Nadara menatapnya dalam-dalam. “Yang
kamu sentuh… membangunkan lebih dari satu hal, Ravi.”
Sebelum Ravi sempat bertanya, udara
di sekitar mereka berubah.
Sebuah suara yang terdengar bukan
melalui telinga, melainkan langsung dalam dada Ravi.
—A r v u n.
Ravi membeku.
“Apa tadi itu…?” suaranya bergetar.
Ardea memandangnya dengan mata yang
tak berkedip. “Nama lama.”
“Nama siapa?”
Ardea tidak menjawab.
Karena suara itu datang lagi.
—Arvun… kembali…
Nadara mundur satu langkah. “Ardea.
Itu bukan nama Ravi.”
“Aku tahu,” jawab Ardea.
“Lalu siapa itu?!”
Ardea menatap Ravi.
Panjang.
Dalam.
Dan dengan ketakutan yang selama ini
ia sembunyikan.
“Arvun,” katanya pelan, “adalah nama
lelaki yang membawa dunia pertama ke akhir.”
Ravi merasakan dadanya menegang.
“Jadi… suara itu memanggil aku?”
Ravi berbisik.
“Tidak,” jawab Ardea. “Suara itu
memanggil apa yang ada di dalam kamu.”
Gelombang udara tiba-tiba menghantam
ruangan, membuat api obor padam sekejap. Dari lorong kiri, muncul siluet
Pengingat—tulang panjang, tubuh kaku, mata hitam.
Dari lorong kanan, muncul lainnya,
lebih besar, lebih gelap.
Dan dari lorong jauh di belakang…
Ada sesuatu yang bernafas seperti
gunung tua.
Ardea meraih tangan Ravi.
Nadara menarik pisau pendeknya, mata
berkilat.
“Tiga arah terblokir,” kata Nadara
cepat. “Ardea. Ravi. Pilih. Sekarang.”
Ardea menatap Ravi, lalu lorong
sempit di sisi ukiran.
“Ke ruang bawah!” serunya.
“Tapi itu turun ke kegelapan!”
protes Nadara.
Ardea menggumam, “Lebih baik
kegelapan yang tidak tahu kita… daripada cahaya yang sedang mencari kita.”
Ravi menarik napas panjang.
Lalu mereka bertiga berlari ke
lorong sempit di bawah ukiran—ke arah gelap yang belum diberi nama, sementara
suara Pengingat mengejar dari tiga arah.
Dan lagi…
Suara itu muncul untuk ketiga
kalinya.
—Arvun… bangunlah.
Kegelapan menelan mereka sebelum Ravi bisa menolak panggilan itu.

0 Komentar