JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (10)

 

Es Es - Ikon Blog

MEREKA YANG MENDENGAR NAMA LAMA

Untuk sesaat, hanya gema nafas Ravi yang terdengar di ruang batu itu—pendek, tajam, dipenuhi rasa takut yang ditahan. Dinding berpendar samar dalam warna keemasan, seolah ukiran kuno bernapas mengikuti detak jantungnya.

Ardea berdiri di sampingnya, tubuhnya tegang seperti busur yang ditarik penuh.

“Mereka sudah dekat,” ulang Ardea, lebih pelan, nyaris seperti gumaman.

Ravi menelan ludah. “Berapa banyak?”

Ardea tidak menjawab.

Karena jawabannya datang sendiri.

Dari lorong gelap di sisi kiri, terdengar gesekan berat… seperti kuku panjang menyapu batu. Di sisi kanan, suara mirip dengkuran rendah memenuhi udara—ritmenya teratur, dingin, dan sama sekali tidak manusiawi.

“Mereka mengepung,” bisik Ravi.

Ardea mengangguk. “Sejak kamu menyentuh ukiran itu.”

Ravi menatap ukiran bercahaya di dinding. Cahaya itu makin kuat, seakan merespons dirinya. “Aku tidak sengaja.”

“Jejak tidak mengenal sengaja atau tidak,” jawab Ardea. “Ia hanya merespons pemiliknya.”

Sebelum Ravi sempat menggali kalimat itu, sebuah suara lain menyela—lebih manusiawi, lebih ringan.

“Ardea! Ravi!”

Itu suara Nadara.

Ia muncul dari lorong belakang, langkahnya cepat dan napasnya berat, seolah baru saja berlari menghindari sesuatu yang tidak ingin ia lihat dua kali.

Ravi langsung bergerak mendekat. “Nadara! Kamu ke mana saja?!”

Nadara mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. “Aku memeriksa jalur pelarian. Ardea menyuruhku menjaga dari belakang jika sesuatu bergerak.” Ia menatap keduanya, kemudian dinding bercahaya. “Dan sesuatu itu bergerak.”

Ardea menghela napas lega—sedikit sekali, tapi Ravi melihatnya.

“Kita tidak bisa tinggal di sini,” kata Nadara tegas. “Pengingat dari dua sisi. Ada yang lebih besar di lorong barat. Jalan yang tadi kita lewati… sudah runtuh.”

“Runtuh?” Ravi terbelalak.

Nadara menatapnya dalam-dalam. “Yang kamu sentuh… membangunkan lebih dari satu hal, Ravi.”

Sebelum Ravi sempat bertanya, udara di sekitar mereka berubah.

Bukan hanya suara langkah makhluk.
Bukan hanya desus napas berat.
Tapi nama.

Sebuah suara yang terdengar bukan melalui telinga, melainkan langsung dalam dada Ravi.

—A r v u n.

Ravi membeku.

“Apa tadi itu…?” suaranya bergetar.

Ardea memandangnya dengan mata yang tak berkedip. “Nama lama.”

“Nama siapa?”

Ardea tidak menjawab.

Karena suara itu datang lagi.

—Arvun… kembali…

Dinding meretakkan debu. Tanah bergetar halus.
Cahaya dari ukiran berubah menjadi pusaran tipis.

Nadara mundur satu langkah. “Ardea. Itu bukan nama Ravi.”

“Aku tahu,” jawab Ardea.

“Lalu siapa itu?!”

Ardea menatap Ravi.

Panjang.

Dalam.

Dan dengan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.

“Arvun,” katanya pelan, “adalah nama lelaki yang membawa dunia pertama ke akhir.”

Ravi merasakan dadanya menegang.

“Jadi… suara itu memanggil aku?” Ravi berbisik.

“Tidak,” jawab Ardea. “Suara itu memanggil apa yang ada di dalam kamu.”

Gelombang udara tiba-tiba menghantam ruangan, membuat api obor padam sekejap. Dari lorong kiri, muncul siluet Pengingat—tulang panjang, tubuh kaku, mata hitam.

Dari lorong kanan, muncul lainnya, lebih besar, lebih gelap.

Dan dari lorong jauh di belakang…

Ada sesuatu yang bernafas seperti gunung tua.

Ardea meraih tangan Ravi.

Nadara menarik pisau pendeknya, mata berkilat.

“Tiga arah terblokir,” kata Nadara cepat. “Ardea. Ravi. Pilih. Sekarang.”

Ardea menatap Ravi, lalu lorong sempit di sisi ukiran.

“Ke ruang bawah!” serunya.

“Tapi itu turun ke kegelapan!” protes Nadara.

Ardea menggumam, “Lebih baik kegelapan yang tidak tahu kita… daripada cahaya yang sedang mencari kita.”

Ravi menarik napas panjang.

Lalu mereka bertiga berlari ke lorong sempit di bawah ukiran—ke arah gelap yang belum diberi nama, sementara suara Pengingat mengejar dari tiga arah.

Dan lagi…

Suara itu muncul untuk ketiga kalinya.

—Arvun… bangunlah.

Kegelapan menelan mereka sebelum Ravi bisa menolak panggilan itu.


back  ----------  next


Posting Komentar

0 Komentar