RUANG YANG TIDAK PERNAH DIBUAT UNTUK MANUSIA
Lorong sempit itu terasa seperti
tenggorokan bumi—gelap, lembap, dan menelan setiap suara langkah mereka. Nafas
ketiganya bergaung pelan, tidak berani terlalu keras, karena di belakang…
…derap Pengingat masih terdengar,
seperti kuku menekan dinding batu.
“Lebih cepat,” bisik Ardea.
Nadara melirik ke belakang, matanya
tegang. “Kalau mereka masuk lorong ini, kita tidak bisa menghindar. Tempatnya
terlalu sempit.”
Ravi meraba dinding untuk
menyeimbangkan diri. “Kamu yakin ini aman?”
“Tidak,” jawab Ardea tanpa menoleh.
“Tapi tempat lain lebih tidak aman.”
Mereka terus menuruni lorong spiral
itu, sampai akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa panjang, lorong itu
melebar… lalu terbuka.
Dan Ravi terdiam.
Ruangan besar membentang di depan
mereka—begitu luas hingga langit-langitnya hilang dalam kegelapan. Pilar-pilar
batu menjulang seperti tulang makhluk raksasa. Lantai dipenuhi garis-garis
bercahaya samar, membentuk pola melingkar—seperti diagram kuno yang mengatur
perjalanan bintang.
Di tengah ruangan, ada sesuatu.
Bukan benda.
Lebih seperti… bekasnya.
Sebuah lingkaran besar di tengah
lantai, cekung ke bawah, seolah sesuatu pernah berada di sana—sesuatu besar,
berat, dan hidup.
Nadara bergumam pelan. “Apa pun yang
dulu ada di sini… aku berharap ia tidak kembali.”
Ardea mendekati tepi cekungan itu,
wajahnya berubah sangat serius. “Ini bukan ruang penyimpanan. Ini ruang
pengunci.”
“Pengunci apa?” tanya Ravi.
Ardea menghela napas. “Jejak
pertama.”
Ravi menegang. “Maksudmu… aku?”
“Tidak. Sesuatu sebelum kamu.” Ardea
menatap cekungan itu dalam-dalam. “Arvun.”
Nama itu lagi.
Ravi mengusap wajahnya, mencoba
menepis getaran aneh yang muncul setiap kali mendengar nama itu. Seolah suara
itu mengetuk dari dalam tulang rusuknya.
“Ardea…” Ravi menatapnya ragu.
“Siapa sebenarnya Arvun?”
Ardea tidak langsung menjawab.
Nadara menatap Ardea. “Kamu yang
bilang kita harus jujur padanya di titik ini.”
Ardea mengembuskan napas panjang,
lalu mendekati Ravi.
“Arvun adalah manusia pertama yang
menyadari bahwa dunia bisa diulang.”
“Diulang?”
“Dihidupkan kembali. Dibentuk ulang.
Dia memiliki… kemampuan. Atau kutukan. Jejak pertama.” Ardea menyentuh dada
Ravi. “Bagian kecil dari itu ada di dalam kamu.”
Ravi memucat. “Aku bukan…
reinkarnasi, kan?”
Ardea menggeleng. “Tidak. Kamu bukan
dia. Tapi kamu mewarisi pecahan kecil dari apa yang membuatnya… berbahaya.”
Nadara menambahkan pelan, “Karena
itulah jejak itu bereaksi pada kamu.”
Ravi mundur satu langkah, hampir
goyah. “Aku tidak mau hal itu.”
“Kami tahu,” kata Ardea.
Nadara menunduk. “Itu sebabnya kami
berusaha menjagamu sebelum dunia tahu.”
Ravi hendak bertanya lebih jauh
ketika…
…tanah di bawah mereka bergetar.
Pelan. Hampir seperti hembusan napas
panjang dari dalam bumi.
“Ardea?” Ravi memandangnya dengan
wajah cemas.
“Aku rasa kita membangunkan
sesuatu,” jawab Ardea.
Getaran itu berubah menjadi
denyut—pelan, tetapi berirama. Dari cekungan di tengah ruangan, garis-garis
cahaya merembes muncul, satu per satu, seperti jantung purba yang mulai
berdetak setelah ribuan tahun.
Nadara menarik Ravi. “Kita harus
pergi! Sekarang!”
Ardea menggeleng. “Jika kita lari,
Pengingat menunggu di atas.”
“Tapi kalau kita tinggal—”
Cahaya tiba-tiba meledak dari
cekungan, menerangi seluruh ruangan. Ravi menutup mata, tapi sesuatu—suara—memenuhinya
sebelum ia sempat berpikir.
Bukan suara Ardea.
Bukan suara Nadara.
Bukan suara yang memburu mereka.
Suara dari dalam cahaya itu.
—Arvun… sudah lama.
Ravi memegang kepalanya, tubuhnya
bergetar. “Itu… bukan aku!”
Ardea memegang bahunya. “Melawan,
Ravi! Jangan biarkan ia masuk!”
Nadara menghunus pisaunya seperti
bisa menyerang suara itu. “Putuskan hubungan! Sekarang!”
Cahaya semakin kuat. Ruang itu
bergetar. Pilar-pilar retak.
Pengingat di lorong atas meraung,
merasakan sesuatu yang menakutkan bahkan bagi mereka.
Suara itu datang lagi, lebih dekat.
—Mengapa kamu takut, pecahan
kecilku?
Ravi berteriak, tubuhnya jatuh
berlutut.
Ardea memeluknya dari belakang,
menahan tubuh Ravi agar tidak tersedot ke arah cahaya.
Nadara menahan Ardea agar tidak ikut
terseret.
Cahaya itu mulai berputar—seperti
pusaran yang ingin menelan Ravi.
“ARDEA!” Ravi berteriak.
Ardea menjerit, “RAVI, BERTAHAN!”
Dan di tengah pusaran cahaya itu,
perlahan…
…siluet seseorang mulai muncul.
Tinggi.
Ramping.
Bersinar dari dalam.
Seseorang yang bukan Ravi.
Tapi memiliki wajah yang
samar—cerminan Ravi dengan usia lebih tua, mata lebih tajam, dan aura yang
tidak manusiawi.
Nadara memucat. “Itu… Arvun.”
Ardea membeku.
Ravi menatap sosok itu…
…dan sosok itu menatap balik.
—Akhirnya kita bertemu, penerusku.
Ruangan runtuh. Cahaya meledak.

0 Komentar