Ada orang yang meyakini disiplin sebagai kekuatan karakter. Aku menuduhnya
tindakan pencegahan. Sesuatu yang kulakukan bukan karena yakin, tapi karena aku
sudah melihat akibatnya ketika aku terlalu percaya diri.
Disiplinku bukan kebajikan. Ia pagar rendah yang kupasang karena aku tahu
betapa mudahnya aku melompat ke jurang kebiasaan buruk. Kalau aku tidak
mengikat diriku pada jadwal, alarm, dan pengingat, aku akan bangun di hari-hari
yang sama sekali tidak bergerak ke mana-mana. Jadi aku patuh. Bukan karena aku
kuat, tapi karena aku takut pada versi diriku yang malas dan tidak terkendali.
Ada orang-orang yang tampak disiplin secara alami. Mereka bangun pagi tanpa
drama, bekerja tanpa perlu dipaksa, dan tetap fokus tanpa daftar panjang. Aku
tidak seperti itu. Disiplinku penuh kecurigaan. Setiap aturan kubuat sambil
berbisik pada diri sendiri: “Jangan percaya nalurimu terlalu jauh.” Karena
naluriku, jika diberi ruang, cenderung memilih jalan paling mudah lalu mengeluh
ketika hidup tidak bergerak.
Kadang aku ingin berhenti mengatur segalanya. Membiarkan hari berjalan apa
adanya. Tapi pengalaman mengajarkanku bahwa “apa adanya” versiku sering berarti
setengah jalan, pekerjaan terbengkalai, dan malam yang dihabiskan dengan rasa
bersalah. Maka aku kembali pada sistem-sistem kecil itu. To-do list, jam tidur,
target harian. Tidak glamor, tidak fleksibel, tapi cukup untuk menjaga hidupku
tidak runtuh pelan-pelan.
Disiplin membuatku tampak rapi. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku
sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah. Setiap rutinitas adalah penutup
retakan. Setiap jadwal adalah pengingat bahwa aku bukan orang yang bisa
dibiarkan bebas terlalu lama. Dan mungkin itu terdengar menyedihkan, tapi aku
lebih memilih rapi yang terpaksa daripada kacau yang jujur.
Aku tidak mendewakan disiplin. Aku tidak menganggapnya bukti karakter
unggul. Bagiku, disiplin hanyalah alat. Seperti tongkat bagi orang yang tahu
kakinya tidak sekuat kelihatannya. Ia membantu berjalan lurus, bukan karena
kaki kuat, tapi karena tanpa bantuan itu, aku akan tersandung terlalu sering.
Jadi kalau seseorang menganggapku kuat karena aku disiplin, aku tidak akan
mengoreksi mereka. Biarkan saja. Mereka melihat hasilnya, bukan alasan di
baliknya. Aku tahu disiplin ini lahir dari ketidakpercayaan, dari ketakutan
kecil bahwa tanpa kendali, aku akan hanyut dengan caraku sendiri.

0 Komentar