DISIPLIN

 

Es Es - Ikon Blog

Ada orang yang meyakini disiplin sebagai kekuatan karakter. Aku menuduhnya tindakan pencegahan. Sesuatu yang kulakukan bukan karena yakin, tapi karena aku sudah melihat akibatnya ketika aku terlalu percaya diri.

Disiplinku bukan kebajikan. Ia pagar rendah yang kupasang karena aku tahu betapa mudahnya aku melompat ke jurang kebiasaan buruk. Kalau aku tidak mengikat diriku pada jadwal, alarm, dan pengingat, aku akan bangun di hari-hari yang sama sekali tidak bergerak ke mana-mana. Jadi aku patuh. Bukan karena aku kuat, tapi karena aku takut pada versi diriku yang malas dan tidak terkendali.

Ada orang-orang yang tampak disiplin secara alami. Mereka bangun pagi tanpa drama, bekerja tanpa perlu dipaksa, dan tetap fokus tanpa daftar panjang. Aku tidak seperti itu. Disiplinku penuh kecurigaan. Setiap aturan kubuat sambil berbisik pada diri sendiri: “Jangan percaya nalurimu terlalu jauh.” Karena naluriku, jika diberi ruang, cenderung memilih jalan paling mudah lalu mengeluh ketika hidup tidak bergerak.

Kadang aku ingin berhenti mengatur segalanya. Membiarkan hari berjalan apa adanya. Tapi pengalaman mengajarkanku bahwa “apa adanya” versiku sering berarti setengah jalan, pekerjaan terbengkalai, dan malam yang dihabiskan dengan rasa bersalah. Maka aku kembali pada sistem-sistem kecil itu. To-do list, jam tidur, target harian. Tidak glamor, tidak fleksibel, tapi cukup untuk menjaga hidupku tidak runtuh pelan-pelan.

Disiplin membuatku tampak rapi. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah. Setiap rutinitas adalah penutup retakan. Setiap jadwal adalah pengingat bahwa aku bukan orang yang bisa dibiarkan bebas terlalu lama. Dan mungkin itu terdengar menyedihkan, tapi aku lebih memilih rapi yang terpaksa daripada kacau yang jujur.

Aku tidak mendewakan disiplin. Aku tidak menganggapnya bukti karakter unggul. Bagiku, disiplin hanyalah alat. Seperti tongkat bagi orang yang tahu kakinya tidak sekuat kelihatannya. Ia membantu berjalan lurus, bukan karena kaki kuat, tapi karena tanpa bantuan itu, aku akan tersandung terlalu sering.

Jadi kalau seseorang menganggapku kuat karena aku disiplin, aku tidak akan mengoreksi mereka. Biarkan saja. Mereka melihat hasilnya, bukan alasan di baliknya. Aku tahu disiplin ini lahir dari ketidakpercayaan, dari ketakutan kecil bahwa tanpa kendali, aku akan hanyut dengan caraku sendiri.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar