TIDAK SENANG KETIKA SENANG

 

Es Es - Ikon Blog

Kadang aku dipuji, dan tubuhku merespons tanpa kompromi. Bibir tersenyum, otot-otot wajah mengikuti irama pujian, jantung berdetak sedikit lebih cepat. Otak mencatat: nyaman. Senang. Tapi begitu kesadaran masuk, ada sisi lain yang segera menertawakan reaksi itu. Senang karena pujian? Sungguh? Betapa mudahnya aku dimanipulasi oleh kata-kata orang lain, oleh anggukan ringan yang sama sekali tidak memaksa mereka, tapi membuatku merasa sedikit lebih ringan.

Rasa senang itu anehnya membuatku gelisah. Sebagian dari diriku menolak kebahagiaan yang mudah ini, menandai senyumku sendiri sebagai tipuan. Bagian itu menelusuri tiap inci tubuhku: “Lihat ini, kamu tersenyum! Apakah ini hanya sensasi kimiawi bodoh yang menipumu agar percaya pada diri sendiri?” Dan tentu saja, aku tidak bisa menonaktifkan suara itu. Ia hadir seperti pengawas kecil yang gila, yang memeriksa setiap sudut batin, memastikan aku tidak membiarkan diriku hanyut terlalu jauh.

Kadang aku ingin menertawakan diri sendiri karena terlalu rumit, tapi menertawakan diri sendiri juga anehnya terasa salah. Humor itu seperti getaran listrik kecil yang menelusup di antara rasa bersalah dan kesenangan, membuat semuanya sedikit gila. Aku merasakan ini: senang karena pujian, takut karena senang, dan geli karena sadar bahwa aku takut pada sensasi yang wajar. Sebuah lingkaran yang absurd, tapi aku tetap berada di dalamnya, menonton diriku sendiri melakukan tarian aneh ini setiap kali seseorang berkata, “Bagus.”

Tubuhku ingin menanggapi, menerima, menikmati, tapi pikiran menolak memberi izin. Senyumku tampak normal, tapi di dalamnya ada peperangan kecil: bagian yang menginginkan validasi bertarung dengan bagian yang menolak ditipu. Dan aku menonton sendiri pertarungan itu, setengah gelap, setengah sadar, dengan rasa kering yang aneh, sedikit gila.

Kadang aku bertanya-tanya: apakah semua orang mengalami ini? Atau aku saja yang terlalu waspada, terlalu sadar, terlalu gila dalam mengamati reaksi sendiri? Mungkin sebagian orang puas hanya dengan kata “bagus”, tapi aku tidak bisa. Aku harus memeriksa setiap sensasinya, menimbang setiap senyum, memastikan tidak ada yang benar-benar menipu batinku.

Terkadang, aku membayangkan jika aku membiarkan diri larut dalam senang itu saja—tanpa pengawasan, tanpa kritis, tanpa tawa kecil yang gila itu—apa yang akan terjadi? Bisa jadi aku akan merasa lebih ringan dan tubuhku akan bergerak bebas. Tapi aku tahu, di sudut gelap kesadaranku, aku akan menyesal. Tidak karena merasa gagal, tapi karena membiarkan sesuatu yang terlalu mudah menguasai diriku. Perasaan itu tidak pernah berhenti di sana. Senang, tidak senang, gelap, gila—semua bercampur seperti minuman yang tak bisa diaduk rata.

Di titik itulah aku selalu kembali, berdiri di tengahnya, menonton diriku sendiri seolah orang lain yang aneh. Mungkin itulah hiburanku: tertawa, tapi tidak pernah terlalu lega, karena aku tahu, kalau aku benar-benar membiarkan diri hanyut, sesuatu yang lebih aneh pasti tengah mengintaiku.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar