Aku sering bilang aku baik-baik
saja. Dan sering kali itu benar. Masalahnya, setelah bilang begitu, aku merasa
perlu menambahkan penjelasan. Padahal kalau memang baik-baik saja, seharusnya
kalimat itu bisa berdiri sendiri. Titik. Selesai. Tapi nyatanya, aku jarang
berhenti di situ. Kalimat “baik-baik saja” sepertinya tidak cukup dipercaya,
bahkan oleh yang mengucapkannya.
Aku menyadari satu hal: keinginanku
untuk menjelaskan bukan karena ada yang meminta, tapi karena ada bagian dalam
diriku yang takut disalahpahami. Seolah-olah tanpa penjelasan tambahan, status
“baik-baik saja” bisa dianggap palsu, kurang valid, atau terlalu sederhana
untuk dunia yang gemar mencurigai.
Padahal aku memang baik-baik saja. Tidak
bahagia luar biasa, tidak juga runtuh. Posisi tengah yang membosankan tapi
stabil. Namun posisi ini sering dianggap mencurigakan. Terlalu tenang untuk
dipercaya. Terlalu normal untuk dibiarkan tanpa klarifikasi.
Lucunya, semakin aku menjelaskan,
semakin terlihat seperti tidak baik-baik saja.
Di titik itu aku sadar, keinginanku
menjelaskan bukan untuk orang lain. Itu untukku sendiri. Aku ingin diyakinkan
bahwa kondisiku masuk akal. Bahwa rasaku sah. Bahwa aku tidak reaktif, tapi
juga tidak dingin. Bahwa aku masih manusia yang berfungsi dengan gangguan kecil
yang wajar.
Ironisnya, keinginan menjelaskan
sering kali muncul justru saat tidak ada yang salah. Saat semuanya relatif
baik, aku malah sibuk mencari kata-kata pembenaran. Seolah-olah ketenangan itu
hutang yang harus dilaporkan asal-usulnya.
Ada ketakutan halus di sana:
bagaimana kalau “baik-baik saja” dianggap tidak cukup serius? Bagaimana kalau
orang mengira aku menghindar? Maka aku jelaskan. Sedikit. Lalu sedikit lagi.
Sampai akhirnya aku sendiri lelah mendengarnya.
Di sisi lain, ada juga kesenangan
aneh dalam menjelaskan. Dengan menjelaskan, aku merasa menguasai narasi. Aku
bisa mengatur bagaimana kondisiku dipahami. Aku bisa terlihat jujur tanpa harus
terlalu terbuka. Aku bisa tampak sadar diri tanpa benar-benar menyerahkan
diriku sepenuhnya.
Ini semacam seni bertahan sosial:
terlihat stabil, tapi tetap memberi celah bahwa aku manusia yang kompleks.
Tidak terlalu kuat, tapi juga tidak rapuh. Sebuah keseimbangan yang melelahkan.
Kadang aku bertanya-tanya, apa aku
benar-benar ingin dipahami, atau hanya ingin diyakini bahwa aku pantas
dipahami?
Karena jika dipikir-pikir, tidak
semua hal perlu penjelasan. Tidak semua kondisi harus diberi konteks. Ada
hari-hari yang memang datar. Ada perasaan yang tidak dramatis. Ada momen ketika
hidup berjalan tanpa perlu narasi tambahan. Tapi aku sering menolak
kesederhanaan itu, lalu menambahinya dengan kata-kata agar terasa lebih masuk
akal.
Dan di situlah sisi lucunya. Aku
merasa baik-baik saja, tapi tidak cukup percaya diri untuk membiarkannya begitu
saja. Aku ingin terlihat tenang, tapi juga ingin dimengerti. Aku ingin tidak
diganggu, tapi tetap ingin diperhatikan secukupnya.
Mungkin ini bukan masalah besar.
Mungkin ini hanya kebiasaan kecil orang-orang yang hidup di dunia yang terlalu
sering meminta klarifikasi. Dunia yang curiga pada keheningan dan alergi pada
jawaban singkat.

0 Komentar