JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (24)

 

Es Es - Ikon Blog

SUARA-SUARA YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Lorong menuju inti Arka terbentang panjang, seperti terowongan yang tidak dibuat oleh tangan manusia atau makhluk mana pun yang diketahui. Dinding-dindingnya memancarkan cahaya redup, berdenyut pelan seperti napas makhluk raksasa yang sedang tertidur. Setiap langkah yang mereka ambil memicu kilatan samar, seolah Arka sedang membaca mereka satu per satu.

Ravi berjalan paling depan, memegang pecahan prisma yang ia dapatkan dari rangkaian ujian sebelumnya. Pecahan itu hangat—terlalu hangat, bahkan untuk benda padat. Seolah benda itu mengenali sentuhannya lebih daripada ia mengenali dirinya sendiri.

Di belakangnya, Ardea menyusul dengan langkah hati-hati, tombaknya disorongkan ke depan. Tatapannya tajam, gelisah, namun berusaha tetap stabil. Keduanya bertemu dengan Nadara di sebuah lorong persimpangan sempit. Mereka kembali bertiga. Sementara Liora ….entahlah. Nadara berjalan paling belakang, mencatat sesuatu cepat-cepat pada buku kecil yang biasanya ia gunakan untuk mencatat pola dan simbol kuno.

Tapi malam itu… ada sesuatu yang berbeda dari Nadara.

Dan Ravi merasakannya pertama kali saat mereka berhenti di persimpangan lorong lainnya.

==========

“Ada belokan ke kiri dan ke kanan,” Ravi menunjuk. “Simbolnya berbeda. Kiri simbol mata tertutup, kanan simbol mata terbuka.”

Ardea mendekat. “Lorong mata terbuka biasanya terhubung ke ruangan observasi… bukan ke inti.”

Nadara menyahut tanpa menoleh dari bukunya, “Tapi simbol mata tertutup berarti ruang suar—ruang gema. Itu hanya digunakan untuk pengujian mental.”

“Kenapa kamu terlihat yakin sekali?” Ravi bertanya.

Untuk sepersekian detik, Nadara berhenti menulis.

Gerakan kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi Ravi yang mengenalnya cukup lama langsung menangkapnya.

Nadara jarang berhenti bergerak kecuali ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Nadara menutup bukunya dengan tenang. “Karena… aku pernah melihat pola seperti ini. Sebelumnya?”

Ardea menatapnya datar. “Kamu seorang peneliti Arka gelap?”

Nadara menahan napas. Bukan karena kaget… tetapi karena kalimat itu mengenai sesuatu yang sensitif.

“Aku bukan peneliti. Aku Penjaga,” Nadara menjawab tanpa menatap mereka. “Aku hanya mempelajari apa yang bisa menjelaskan dunia ini.”

Namun nada dingin di ujung kalimatnya membuat Ravi menoleh.

Ardea memperhatikan Ravi seolah ingin menyampaikan sesuatu—tapi tidak mengatakan apa pun.

Retakan kecil pertama muncul.

==========

Mereka memilih jalan kiri—mata tertutup—karena simbolnya paling mendekati pola pada peta resonansi yang mereka temukan sebelumnya.

Lorong itu semakin gelap semakin jauh mereka melangkah, hingga satu-satunya cahaya berasal dari prisma di tangan Ravi.

Saat cahaya prisma menyorot dinding-dindingnya, Ravi menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengeras.

Dinding di sepanjang lorong itu dipenuhi ukiran tangan. Ratusan. Mungkin ribuan.

Tangan manusia.

Atau sesuatu yang mirip manusia.

Seolah dinding itu memaksa orang-orang yang lewat untuk meninggalkan jejak, atau… menelan mereka.

Ardea mendekat, menempelkan telinganya pada dinding. “Kalian dengar?”

Ravi menggeleng. “Apa?”

“Bisikan…” Adrea menghentikan kalimatnya, menoleh pada Ravi. “Tapi mungkin hanya gema.”

Nadara tiba-tiba berbicara, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Bukan gema. Itu residu. Ruang seperti ini menyimpan ingatan.”

Ardea berbalik cepat. “Bagaimana kamu tahu?”

Nadara terlihat terpeleset. Ia terlalu cepat menjawab.

“Hanya… teori.”

Ardea menatapnya lama. “Atau kamu tahu lebih banyak dari yang kamu katakan?”

Nadara menggenggam pisau kecil di pinggangnya, tetapi tidak mengeluarkannya.

“Bukankah kita semua begitu?” jawabnya dingin.

Sekali lagi, Ravi merasakan sesuatu merayap masuk ke dalam kelompok kecil mereka—ketidakpercayaan. Halus, tetapi nyata.

Seperti racun yang baru diteteskan.


Setelah beberapa menit berjalan, lorong itu terbuka menjadi ruangan bulat besar. Di tengahnya terdapat kolam kecil dengan air setenang kaca. Di dasar air terlihat symbol berputar—lingkaran yang terhubung seperti sebuah mekanisme.

Ravi mendekat.

Begitu ia menyentuh permukaan air, ruangan gemetar halus.

Dan suara terdengar.

Suara yang sama seperti saat Arvun muncul.

“Ravi…”

Ravi tersentak mundur, hampir menjatuhkan prisma. “Kalian dengar itu?!”

Ardea mengejar dan memegang bahunya. “Tidak. Apa yang kamu dengar?”

“Suara… memanggil namaku.”

Nadara memicingkan mata, memperhatikan Ravi seperti seorang peneliti mengamati objek eksperimen.

“Suara laki-laki atau perempuan?” tanya Nadara.

“Perempuan.” Ravi mengusap wajahnya. “Tapi berat. Seperti suara yang datang dari dalam tanah.”

Ardea tampak resah. “Arvun sudah memperingatkanmu. Suara-suara seperti ini—”

“—bisa memanipulasi,” Nadara memotong cepat. “Atau menghibahkan pengetahuan. Kita tidak tahu mana.”

Nada suaranya… terlalu cepat. Terlalu penuh kepastian.

Ravi menatap Nadara. “Kamu terdengar seperti… kau ingin suara itu bicara padaku.”

Nadara membeku.

Ardea bergerak satu langkah ke depan, tubuhnya sedikit menghalangi Ravi dari Nadara.

Gerakan kecil. Tidak mencolok. Tetapi Ravi menangkapnya.

Mengapa Ardea tiba-tiba melindungi Ravi dari Nadara?

Retakan kedua muncul.

==========

Mereka memutuskan meninggalkan ruangan itu sebelum resonansi semakin kuat. Tapi saat mereka berjalan keluar, Ravi melihat sesuatu dari ujung matanya.

Nadara berjalan sedikit terlalu dekat pada dinding, dan ketika cahaya prisma menyentuh permukaan ukiran tangan itu…

… bayangan Nadara memanjang.

Tidak seperti bayangan manusia. Lebih seperti sesuatu yang terpisah dari tubuhnya.

Ravi menghentikan langkahnya.

“Nadara… bayanganmu barusan…”

Tapi Nadara sudah berjalan jauh, tidak menoleh.

Atau mungkin tidak mau menoleh.

Ardea berbisik lirih saat mereka menyusul. “Ada yang tidak beres dengannya.”

Ravi menatap Ardea. “Dengan Nadara… atau dengan kamu?”

Ardea terdiam.

Dan Ravi merasa dadanya kembali mengeras.

Retakan ketiga.

===========

Setelah beberapa jam menempuh lorong-lorong yang semakin berubah menjadi kanal energi, mereka kembali bertemu dengan Liora pada ruang persimpangan besar. Rambut Liora dipenuhi serpihan debu cahaya. Matanya terlihat lebih liar, tetapi sadar.

“Ravi!” Liora berlari mendekat. “Kau juga mendengarnya, kan? Suara itu!”

Ravi gemetar kecil. “Apa yang kamu dengar?”

“Seseorang… atau sesuatu… memanggil kita. Kamu, aku, dan seseorang lagi—aku belum tahu siapa.”

Nadara melangkah maju. “Apa suara itu menyuruhmu kembali ke sumbermu?”

“Tidak,” Liora menjawab cepat. “Suara itu memperingatkan. Suara itu memintaku menjauh dari seseorang.”

Matanya bergerak cepat. Ravi mengikuti arah tatapannya.

Liora sedang menatap Nadara.       

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Nadara terlihat gelisah. Ardea mengangkat tombaknya sedikit.

Dan Nadara—yang biasanya tenang—memasang wajah yang benar-benar sulit dibaca.

==========

“Baik,” Ravi akhirnya berkata, memecah ketegangan. “Kita sadar sedang diawasi. Suara-suara ini bukan kebetulan. Dan Arvun—”

“—sudah memperingatkanmu,” Nadara memotong dengan suara rendah. “Tentang kami.”

Suasana ruangan membeku.

“Nadara,” Ravi menatapnya tajam, “apa maksudmu ‘kami’?”

Nadara tersenyum tipis.

Senyum pertama yang tidak hanya aneh—tetapi membuat bulu kuduk Ravi berdiri.

“Aku hanya mengingatkan.”

Liora maju setengah langkah. “Kamu menyembunyikan sesuatu.”

Ardea menurunkan tombaknya, tetapi tubuhnya tegang seperti busur siap lepaskan anak panah.

Ravi menarik napas dalam.

“Tidak apa-apa. Kita akan hadapi bersama.”
Ia menatap ketiganya bergantian.

“Tapi aku ingin semuanya jujur mulai sekarang.”

Tidak ada yang menjawab.

Tidak Nadara.
Tidak Adrea.
Tidak Liora.

Dan Ravi merasa seolah ia sedang berdiri di tengah lingkaran yang perlahan retak.

==========

Saat mereka keluar dari ruang itu, lorong menuju inti Arka terbuka lebar.

Gelombang energy semakin kuat, seolah mengetahui bahwa kelompok kecil ini akhirnya memasuki wilayahnya.

Namun sesuatu berubah di langkah terakhir mereka.

Liora menghentikan Ravi dengan mendadak. “Tunggu.”

“Ada apa?” Ardea menegang.

Liora menatap ke arah lorong gelap itu. “Ada sesuatu di dalam. Menunggu.”

Nadara akhirnya bicara.

Suara lirih, tetapi penuh kepastian.

“Ya.”

Mereka menoleh ke arahnya.

Nadara berdiri tegak, matanya gelap seperti menyimpan badai.

“Aku juga bisa merasakannya.”

Ravi menelan ludah.

“Siapa?”

Dan Nadara menjawab:

“Orang yang selama ini kalian semua cari.”

Keheningan itu terasa lebih berat daripada suara apa pun.

Dan di kejauhan, lorong bergetar kecil—seperti menyambut mereka masuk.


back  --------- next

Posting Komentar

0 Komentar