JEJAK DUNIA SEBELUM KITA (25)

 

Es Es - Ikon Blog

RETAKAN TERAKHIR SEBELUM KEHENINGAN

Ledakan cahaya dari ruang inti Menara Ranuqta masih bergema ketika Ravi, Ardea, dan Liora mundur beberapa langkah. Debu kuning melayang seperti serpihan cahaya yang patah. Angin berputar pelan, membawa suara-suara samar dari masa lalu—gema yang hanya terasa, tidak pernah benar-benar terdengar.
Nadarā berdiri di depan mereka, punggungnya membungkuk sedikit, napasnya pendek. Tetapi yang paling membuat Ravi gemetar adalah matanya: bukan merah, bukan hitam, tapi abu-abu pudar, seperti seseorang yang terlalu lama menatap sesuatu yang tak seharusnya.
Ravi menelan ludah. “Nadarā… apa yang kamu lakukan?”
Nadarā tersenyum tipis—kelelahan, tapi anehnya yakin.
“Aku hanya menyelesaikan sesuatu yang sudah mulai sejak Ravi lahir.”
Ardea langsung berdiri di depan Ravi, memasang posisi bertahan. “Kau sudah bermain di jalur yang salah… sejak kapan kau berhubungan dengan Arvun?”
Nadarā tidak menjawab. Hanya mengangkat tangannya.
Dan lingkaran cahaya kuno di lantai, yang sebelumnya terkunci rapat, membelah dirinya sendiri.
Simbol-simbol kuno berputar, dan udara mulai menekan paru-paru Ravi.
“Aku… hanya mendengar suara itu sejak kecil,” bisik Nadarā. “Di balik mimpi, di balik ingatan. Suara yang berkata bahwa dunia kita tidak akan selamat… tanpa Ravi kembali ke asalnya.”
Ravi menggeleng, mundur. “Nadarā… aku bukan milik siapapun.”
“Aku tau,” katanya lirih. “Itulah kenapa kamu harus… dibuka.”
Dari lingkaran itu, cahaya menyambar.
Ardea bergerak tanpa berpikir.
Ia menubruk Ravi, mendorongnya keluar dari garis cahaya.
Serangan itu—yang seharusnya menghantam Ravi—menghantam dadanya.
“ARDEA!”
Tubuh Ardea terlempar menghantam dinding batu. Darah segar memercik di bibirnya, dan lututnya langsung roboh.
Ravi berlari ke arahnya, memeluk bahunya.
“Ardea! Ardea! Bertahanlah!”
Ardea tersenyum samar meski wajahnya pucat. “Ravi… aku tidak akan biarkan kamu jatuh… ke tangan siapa pun.”
Nadarā menatap adegan itu—dan ada setitik penyesalan samar di matanya.
Tapi cahaya Arvun di tubuhnya menjerit, memaksa dirinya maju.
“Maafkan aku,” bisiknya.
Ia mengangkat kedua tangannya lagi.
Lingkaran Arka menyala lebih terang, terbuka hingga menampakkan kegelapan cair yang berputar.
Liora melangkah maju.
Aura kuno menyala di sekeliling tubuhnya—bukan dalam wujud cahaya terang, tapi seperti kilasan ingatan yang kembali. Di udara muncul gambar samar: seseorang pernah berdiri di tempat yang sama, ribuan tahun lalu, memanggil kekuatan yang sama.
“Berhenti, Nadarā.” Suara Liora gemetar tapi tegas. “Arvun tidak sedang menyelamatkanmu. Dia memakaimu.”
Nadarā memejamkan mata, air mata jatuh.
"Aku… hanya ingin berguna sekali saja… dalam hidupku.”
Dan ia melepaskan serangan terakhir—pusaran energi kelam mengarah tepat ke Ravi.
Liora mengangkat tangannya.
Simbol-simbol kuno muncul di udara, berputar di sekelilingnya.
Serangan itu terbelah dua sebelum menyentuh Ravi.
Nadarā terhuyung, terpukul oleh pantulan energinya sendiri.
Tubuhnya roboh ke tanah.
Ravi memelototkan mata. “Nadarā!”
Ia mendekat, menahan tubuh perempuan berwajah mirip Liora dalam versi yang lebih dewasa itu.
Nadarā tersenyum—untuk pertama kalinya tanpa beban apa pun.
“Ravi… aku terjebak dalam suara itu terlalu lama… aku pikir aku melindungimu… aku pikir itu benar…”
Darah menetes dari ujung bibirnya.
“Aku tidak ingin jadi musuhmu… aku hanya ingin… ikut menyelamatkan dunia ini… dengan caraku.”
Jantung Ravi berdenyut sakit, seakan ditarik dari dalam.
“Nadarā, jangan bicara. Kita bisa—”
“Tidak,” ia memotong lembut. “Sudah terlambat. Tapi kamu… masih punya waktu.”
Ia meletakkan telapak tangannya di dada Ravi.
“Jangan biarkan siapa pun menentukan apa kamu seharusnya jadi… bahkan aku.”
Matanya perlahan tertutup.
Napasnya hilang, seperti lilin yang kehabisan angin.
Ravi menunduk. Bahunya bergetar.
Ardea menatapnya dari kejauhan, luka parah membuat tubuhnya gemetar, tapi ia memaksakan diri tetap duduk, tetap hidup.
Liora berdiri tenang, menatap langit-langit reruntuhan yang tiba-tiba dirasuki kesunyian.
Dan pada saat itu—
Angin berhenti.
Debu berhenti jatuh.
Cahaya lingkaran Arka padam serentak.
Ada sesuatu… seseorang… yang hadir.
Di atas reruntuhan tertinggi, di antara pilar yang patah,
sesosok tinggi berdiri.
Terlalu tinggi untuk manusia.
Tubuhnya kurus tapi berotot, siluetnya patah-patah oleh cahaya bulan.
Mata hitamnya menyala redup—bukan marah, bukan bingung—tapi mengenali.
Ardea menahan napas.
Liora memejamkan mata, tubuhnya menegang.
Sosok itu tidak bergerak.
Tidak bicara.
Tidak menyerang.
Ia hanya mengamati, seakan menilai apakah Ravi adalah kesalahan… atau jawaban.
Lalu, perlahan, angin berputar di sekelilingnya.
Rumput mati berdiri tegak.
Udara terasa lebih tua.
Entah kenapa, Ravi merasa sosok itu tidak datang untuk membunuh.
Tapi juga bukan untuk menyelamatkan.
Lebih buruk dari itu.
Ia datang karena sesuatu di dalam Ravi akhirnya bangun.
Dan malam itu ditutup oleh pemandangan mengerikan itu—
Penjaga Arka Kuno, tak bergerak, tak bersuara, menatap mereka seolah bersiap untuk langkah berikutnya yang hanya dia yang tahu.

SELESAI

Tunggu di Session 3


back  ---------- ?

Posting Komentar

0 Komentar