AKU MENGENAL DIRIKU KARENA AKU ASING PADA DIRIKU

Es Es - Ikon Blog

 

Aku mengenal diriku karena aku asing pada diriku. Pernyataan ini terdengar seperti kartu identitas yang dicetak terbalik, tapi entah kenapa pas di saku. Aku sering menemukan diriku seperti tamu yang datang terlalu pagi ke pesta sendiri: berdiri kikuk di sudut ruangan, memerhatikan kursi, gelas, dan wajah-wajah yang seharusnya akrab. Dari jarak itu, aku bisa mencatat kebiasaan burukku dengan teliti—cara aku tertawa ketika gugup, cara aku menunda keputusan sambil menyebutnya proses, cara aku berpura-pura sibuk agar tidak perlu memilih. Keasingan memberiku clipboard; kedekatan hanya memberiku alasan.

Keraguan selalu ikut sebagai pemandu wisata yang malas. Ia menunjuk ke arah dalam kepalaku sambil berkata, “lihat, di sana juga berantakan.” Aku mengangguk, mencatat, lalu merasa sedikit lebih tahu. Kepastian tidak datang sebagai pemandangan indah, melainkan sebagai rute darurat: jalan sempit yang kupilih karena semua jalan utama ditutup oleh pikiranku sendiri. Aku melangkah bukan karena yakin, tapi karena tersesat terlalu lama membuat kakiku menghafal arah.

Aku memeriksa diriku seperti memeriksa koper orang lain di bandara—dengan rasa curiga yang sopan. Apa ini milikku? Apa ini sengaja kubawa? Keraguan memeriksa label, kepastian memeriksa berat. Ketika keduanya sepakat bahwa koper ini cukup ringan untuk diseret, aku menyebutnya keputusan. Tidak ada tepuk tangan, hanya bunyi roda yang sedikit seret. Namun dari bunyi itulah aku tahu aku masih bergerak.

Keasingan membuatku punya sudut pandang yang kejam tapi berguna. Aku bisa menertawakan ambisiku yang kebesaran, seperti jaket pinjaman yang lengannya kepanjangan. Aku bisa menatap niat baikku yang bocor, seperti payung murah yang gagal pada hujan pertama. Tawa itu pahit, tapi jujur. Dan kejujuran—yang sering kupelintir menjadi lelucon—diam-diam menyusun pagar agar aku tidak jatuh ke lubang yang sama dengan gaya yang sama.

Sesudah menertawakan semua itu, aku biasanya tidak menjadi lebih berani, hanya sedikit lebih ringan. Seperti membuang barang tak perlu dari saku, langkahku terdengar lebih jujur. Keasingan tidak lagi duduk menginterogasi; ia berdiri di samping, memeriksa arah angin, sesekali mengangkat alis. Dari situ aku tahu mana dorongan yang lahir dari kebiasaan, mana yang sekadar sisa gengsi. Aku memilih tanpa deklarasi, tanpa janji besar—hanya menggeser badan setengah langkah, cukup untuk membuat ragu menyesuaikan posisi.

Aku berjalan sambil membawa dua hal yang saling berisik: ragu yang cerewet dan yakin yang pendiam. Yang satu membuatku berhenti, yang lain membuatku lanjut. Di antara keduanya, aku mengenali diriku seperti mengenali kota lewat jalan tikus—bukan dari peta resmi, tapi dari bekas ban, bau kopi, dan lampu yang sering mati.


back ----- next

Posting Komentar

0 Komentar