Aku merawat keraguan seperti memelihara tanaman hias yang tak pernah
kupahami namanya. Disiram tidak, dibiarkan mati juga tidak. Ia tumbuh sendiri,
berdaun ganjil, akarnya ke mana-mana, dan entah bagaimana selalu tampak sehat.
Setiap pagi aku menatapnya sambil bertanya apakah hari ini ia akan berbunga
atau justru memakan potnya sendiri. Keraguan itu tidak memberiku jawaban, tapi
ia rajin memberi jadwal: ragu jam tujuh, ragu jam sembilan, ragu lagi sebelum
tidur. Di sela-sela itu, aku mendadak tahu apa yang harus kulakukan. Kepastian
datang seperti tukang galon—tidak mesti kuundang, tapi tahu alamat rumah.
Aku dulu mengira kepastian adalah bangunan kokoh dengan fondasi marmer dan
plakat nama. Ternyata ia lebih mirip kursi plastik di warung kopi: ringkih,
sedikit goyah, tapi selalu ada ketika aku perlu duduk. Keraguan mengajakku
berkeliling kota pikiran, menunjuk segala kemungkinan dengan jari berminyak,
lalu berkata, “yang ini juga bisa gagal.” Setelah semua pilihan tampak sama
buruknya, satu di antaranya menjadi istimewa karena satu alasan sederhana: aku
sudah lelah menolaknya. Di situlah kepastian muncul—bukan sebagai kebenaran,
melainkan sebagai sisa energi terakhir.
Aku serasa menyiksa diriku sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang
tajam seperti paku payung. Kenapa ini? Kenapa bukan itu? Kenapa aku begitu?
Setiap pertanyaan kutancapkan ke dinding kepala, berharap ada peta rahasia
jatuh dari langit-langit. Tidak ada. Yang ada hanya suara berdengung dan bau
debu lama. Anehnya, setelah paku-paku itu habis, dinding terasa lebih lapang.
Dari ruang kosong itulah aku menunjuk satu arah dan berkata, “baik, ke sana.”
Keputusan itu tidak bersinar. Ia berjalan tertatih, tapi setidaknya berjalan.
Keraguan juga pandai menyamar. Kadang ia berpakaian rapi dan menyebut
dirinya kehati-hatian. Kadang ia berdandan seperti kebijaksanaan yang
kebanyakan membaca buku. Aku tertipu berkali-kali, mengira aku sedang matang,
padahal hanya takut jatuh dengan gaya yang memalukan. Namun ketakutan itu rajin
mengarsipkan kegagalanku. Ia menyusunnya rapi, memberi label, dan menaruhnya di
rak yang mudah dijangkau. Ketika tiba saat memilih, aku membuka arsip itu dan
berkata, “yang ini jangan, yang itu jangan.” Sisa pilihan yang tersisa—meski
tidak meyakinkan—menjadi satu-satunya yang mungkin. Ajaibnya, itulah kepastian.
Aku tidak pernah meloncat ke keyakinan. Aku merangkak, terseret, kadang
tersandung kaki sendiri. Keraguan menahanku di pergelangan seperti kucing yang
malas dilepas. Tapi tarikan itu membuat langkahku pendek dan terukur. Aku tahu
persis sejauh mana aku bisa jatuh. Maka ketika akhirnya aku berdiri dan
melangkah, itu bukan keberanian; itu kebiasaan. Kepastian lahir dari rutinitas
meragukan segalanya sampai tidak ada yang tersisa untuk diragukan selain pilihan
yang sedang kujalani.
Maka jika suatu hari aku tampak yakin, jangan beri nama apa pun. Biarkan
saja seperti sepatu yang tertinggal di depan pintu—tidak menandakan pergi,
tidak juga pulang. Keraguan masih ada, menggeser berat badannya dari satu kaki
ke kaki lain, seolah sedang menimbang apakah perlu ikut atau cukup menunggu.
Aku sendiri sudah melangkah setengah badan ke depan, setengah lagi masih di
tempat semula, dan lantai di bawahku belum memutuskan apakah ia akan menyangga
atau runtuh.

0 Komentar