SAAT TEPAT UNTUK MENGANGGUK

Es Es - Ikon Blog

 

Aku sering mengangguk lebih cepat dari yang seharusnya. Bukan karena tidak berpikir, justru karena berpikir terlalu jauh. Sebelum kalimat selesai diucapkan, kepalaku sudah sampai di ujungnya. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini akan dibawa, tahu di titik mana kalimat itu ingin berhenti, dan tahu jawaban seperti apa yang diam-diam sedang diminta.

Masalahnya, mengangguk langsung ternyata tidak pernah cukup.

Persetujuan yang datang terlalu awal terasa mencurigakan. Seperti makanan yang disajikan tanpa dimasak. Ada rasa tidak puas yang menggantung. Seakan-akan tanpa perlawanan kecil, persetujuan itu belum sah. Maka anggukan awal sering dianggap basa-basi, formalitas, atau—yang paling menyebalkan—tidak sungguh-sungguh.

Di sisi lain, jika aku memilih tidak mengangguk, jika aku membiarkan wajahku netral dan pikiranku tetap di tempatnya, percakapan justru berubah menjadi arena. Bukan arena untuk mencari kebenaran, tapi untuk membuktikan bahwa pendapat itu layak disetujui. Nada meninggi, argumen berulang, dan aku ditarik masuk ke perdebatan yang ujungnya tetap sama: keinginan untuk didukung.

Padahal dari awal, aku memang sudah ada di sana.

Akhirnya aku menemukan posisi aneh yang terasa paling masuk akal: aku mengangguk, tapi tidak sepenuhnya. Aku setuju, tapi tidak dengan mudah. Aku menyelipkan keberatan kecil, pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu, bantahan tipis yang tidak benar-benar kupercaya. Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memberi ilusi perjalanan. Agar persetujuan itu terasa diperjuangkan, bukan diberikan gratis.

Aku ikut bertarung dalam pertempuran yang hasilnya sudah kutahu. Dan entah kenapa, pertempuran kecil itu penting.

Ada bagian dalam diriku yang menertawakan pertarungan ini. Betapa absurdnya harus merencanakan ragu demi membuat keyakinan terasa lebih kokoh. Betapa menggelikannya harus berdebat ringan untuk sampai pada titik yang sudah disepakati sejak kalimat pertama. Tapi ada juga bagian lain yang melelahkan. Lelah karena tahu bahwa jika aku tidak melakukan ini, episode tak akan pernah ditamatkan.

Kadang aku merasa seperti sedang membantu seseorang menyeberang jalan yang lengang. Aku tahu tidak ada kendaraan, aku tahu aman, tapi aku tetap menunggu, melihat kiri-kanan, dan memberi aba-aba kecil—agar penyeberangan itu terasa sah. Tanpa ritual itu, prosedur menjadi terasa kurang meyakinkan.

Dan aku menganggap ini lebih mirip pelumas sosial—tidak terlihat, sedikit licin, dan baru disadari keberadaannya saat tidak ada. Tanpanya, percakapan seret dan macet. Dengan sedikit drama kecil, semuanya bergerak.

Aku tidak merasa lebih benar. Aku juga tidak merasa lebih sabar. Justru sebaliknya: ini jalan pintas bagi seseorang yang terlalu cepat sampai pada kesimpulan dan terlalu malas menjelaskan mengapa ia sampai di sana. Maka aku memilih ikut berputar sebentar, agar yang lain merasa perjalanan itu milik bersama.


back ------ next

Posting Komentar

0 Komentar