Aku sering mengangguk lebih cepat
dari yang seharusnya. Bukan karena tidak berpikir, justru karena berpikir
terlalu jauh. Sebelum kalimat selesai diucapkan, kepalaku sudah sampai di
ujungnya. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini akan dibawa, tahu di titik mana
kalimat itu ingin berhenti, dan tahu jawaban seperti apa yang diam-diam sedang
diminta.
Masalahnya, mengangguk langsung
ternyata tidak pernah cukup.
Persetujuan yang datang terlalu awal
terasa mencurigakan. Seperti makanan yang disajikan tanpa dimasak. Ada rasa
tidak puas yang menggantung. Seakan-akan tanpa perlawanan kecil, persetujuan
itu belum sah. Maka anggukan awal sering dianggap basa-basi, formalitas,
atau—yang paling menyebalkan—tidak sungguh-sungguh.
Di sisi lain, jika aku memilih tidak
mengangguk, jika aku membiarkan wajahku netral dan pikiranku tetap di
tempatnya, percakapan justru berubah menjadi arena. Bukan arena untuk mencari
kebenaran, tapi untuk membuktikan bahwa pendapat itu layak disetujui. Nada
meninggi, argumen berulang, dan aku ditarik masuk ke perdebatan yang ujungnya
tetap sama: keinginan untuk didukung.
Padahal dari awal, aku memang sudah
ada di sana.
Akhirnya aku menemukan posisi aneh
yang terasa paling masuk akal: aku mengangguk, tapi tidak sepenuhnya. Aku
setuju, tapi tidak dengan mudah. Aku menyelipkan keberatan kecil, pertanyaan
yang sebenarnya tidak perlu, bantahan tipis yang tidak benar-benar kupercaya.
Bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memberi ilusi perjalanan. Agar
persetujuan itu terasa diperjuangkan, bukan diberikan gratis.
Aku ikut bertarung dalam pertempuran
yang hasilnya sudah kutahu. Dan entah kenapa, pertempuran kecil itu penting.
Ada bagian dalam diriku yang
menertawakan pertarungan ini. Betapa absurdnya harus merencanakan ragu demi
membuat keyakinan terasa lebih kokoh. Betapa menggelikannya harus berdebat
ringan untuk sampai pada titik yang sudah disepakati sejak kalimat pertama.
Tapi ada juga bagian lain yang melelahkan. Lelah karena tahu bahwa jika aku tidak
melakukan ini, episode tak akan pernah ditamatkan.
Kadang aku merasa seperti sedang
membantu seseorang menyeberang jalan yang lengang. Aku tahu tidak ada
kendaraan, aku tahu aman, tapi aku tetap menunggu, melihat kiri-kanan, dan
memberi aba-aba kecil—agar penyeberangan itu terasa sah. Tanpa ritual itu,
prosedur menjadi terasa kurang meyakinkan.
Dan aku menganggap ini lebih mirip
pelumas sosial—tidak terlihat, sedikit licin, dan baru disadari keberadaannya
saat tidak ada. Tanpanya, percakapan seret dan macet. Dengan sedikit drama
kecil, semuanya bergerak.
Aku tidak merasa lebih benar. Aku
juga tidak merasa lebih sabar. Justru sebaliknya: ini jalan pintas bagi
seseorang yang terlalu cepat sampai pada kesimpulan dan terlalu malas
menjelaskan mengapa ia sampai di sana. Maka aku memilih ikut berputar sebentar,
agar yang lain merasa perjalanan itu milik bersama.

0 Komentar