Aku sering bertanya padahal sudah tahu jawabannya. Bukan karena kurang
informasi, tapi karena jawaban itu tidak ramah. Ia terlalu lurus, terlalu cepat
sampai ke inti, terlalu jujur untuk dibiarkan berdiri sendirian. Maka aku berpura-pura
tidak tahu, seolah dengan bertanya lagi, realitas bisa merasa sungkan lalu
berubah pikiran.
Aku tahu bagaimana ini akan berakhir. Aku tahu polanya. Aku tahu keputusan
yang seharusnya diambil, kesimpulan yang paling masuk akal, dan arah yang paling
masuk akal—secara emosional maupun logis. Justru karena itulah aku tidak
langsung menerimanya. Aku mencari orang lain, sudut pandang lain, pengalaman
orang lain—apa pun yang bisa memberiku versi alternatif dari jawaban yang sama.
Aku bertanya dengan nada polos, padahal di dalam kepala sudah ada subtitle: tolong
jangan jawab seperti yang aku tahu. Aku mendengarkan sambil berharap ada
celah kecil, satu kalimat minor, satu pengecualian yang bisa kugunakan sebagai
alasan untuk menunda. Bukan untuk membantah, tapi untuk bernegosiasi dengan
kenyataan.
Masalahnya, kenyataan jarang tertarik bernegosiasi.
Yang lebih menyedihkan, aku tidak sedang membohongi orang lain. Aku sedang
menyusun skenario rapi agar bisa meyakinkan diri bahwa kebohongan itu tidak
disengaja. Aku ingin percaya bahwa jawabannya belum final. Bahwa masih ada
kemungkinan tersembunyi. Bahwa mungkin aku belum cukup pintar, belum cukup
sabar, belum cukup mendengar—padahal sebenarnya aku hanya belum cukup berani.
Realitasnya, aku tahu kapan sesuatu harus selesai, tapi aku berpura-pura
tidak tahu caranya agar bisa tinggal sebentar lebih lama. Aku tahu kapan harus
berhenti berharap, tapi aku bertanya lagi supaya harapan punya alibi. Aku tahu
kapan harus pergi, tapi aku mencari peta lain, seolah arah utara bisa berubah
kalau cukup banyak orang menyetujuinya.
Lucunya, semakin aku mencari jawaban lain, semakin jelas jawaban yang
pertama. Seperti mengetuk pintu yang sama dari sisi berbeda, hanya untuk
memastikan bahwa memang tidak ada pintu lain. Tapi aku tetap mengetuk, karena
mengetuk terasa seperti usaha, dan usaha terasa lebih bermoral daripada
menerima.
Aku menyebut ini kehati-hatian. Kadang aku menyebutnya proses. Padahal ini
hanya penundaan yang berpakaian rapi. Aku tidak bodoh. Aku hanya berharap kebodohan
kecil ini bisa menyelamatkanku dari konsekuensi.
Dan mungkin itulah inti kebiasaanku: aku tidak bertanya untuk tahu. Aku
bertanya untuk menunda tahu. Aku tidak mencari jawaban yang benar, tapi jawaban
yang lebih bisa kuterima. Masalahnya, jawaban yang bisa kuterima jarang yang
benar.

0 Komentar