UTUHNYA SENDIRI

 

Es Es - Ikon Blog

Aku memilih sendiri bukan karena aku tak bisa bersama siapa pun, tapi karena bersama siapa pun aku belajar betapa utuhnya sendiri. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, padahal sebenarnya hanya catatan kaki dari kebiasaan hidupku belakangan ini. Aku tidak sedang menghindar. Aku hanya tidak sedang mengejar.

Dulu aku cukup rajin hadir. Duduk, mendengar, mengangguk di waktu yang tepat, tersenyum di jeda yang aman. Aku tahu kapan harus tertawa kecil dan kapan harus memberi satu pujian agar suasana terasa selesai dengan rapi. Aneh memang, aku jarang mengambil apa pun dari situ, tapi aku pulang dengan perasaan “tugas sudah dilakukan”. Seperti seseorang yang tidak lapar, tapi tetap pandai memasak.

Sekarang aku malas. Kata yang jujur memang itu: malas. Bukan malas hidup, tapi malas mengulang bentuk-bentuk kehadiran yang tidak menambah apa-apa selain durasi. Aku lebih suka diam di tempat ramai, menjadi anonim, larut dalam kebisingan yang tidak menuntutku menjadi siapa-siapa. Di sana aku tidak perlu konsisten, tidak perlu menjelaskan, tidak perlu menyambung cerita yang sebenarnya sudah selesai sejak awal.

Lucunya, aku tidak merasa kehilangan. Tidak ada rasa tertinggal. Tidak ada kecemasan ketinggalan kabar. Justru sebaliknya, ada kelonggaran yang tidak bisa kutemukan saat terlalu sering bersama. Bersama orang lain, pikiranku bekerja terlalu rajin: membaca, menimbang, menutup. Sendiri, pikiranku akhirnya duduk.

Kadang aku tertawa sendiri memikirkan betapa rajinnya aku dulu mengurus suasana. Memberi kalimat baik, menyusun jeda, memastikan semuanya pulang dengan perasaan utuh. Dan aku? Aku pulang dengan tas kosong tapi langkah ringan. Anehnya, itu tidak menyedihkan. Itu hanya menggelikan. Seperti seseorang yang sadar ia tidak pernah berniat berbelanja, tapi tetap senang melihat etalase.

Aku juga tidak sedang membenci kedekatan. Sekali waktu masih bisa rindu, tapi rinduku spesifik. Tidak berisik. Tidak ramai. Jika ingin bertemu, aku datang. Jika tidak, aku tidak memaksa diri agar terlihat normal. Aku berhenti menganggap kehadiran sebagai kewajiban moral.

Mungkin aku memang membosankan. Terlalu cepat tahu ke mana arah sesuatu. Terlalu cepat merasa cukup. Tapi dari kebosanan itulah aku menemukan ketenangan yang dulu tidak sempat kupikirkan. Aku tidak lagi menunggu dunia membuatku senang. Aku membiarkannya berputar, dan aku memilih duduk sebentar, menikmati diriku yang akhirnya tidak ke mana-mana.

Dan di situlah aku sadar: kadang menjauh bukan tentang pergi, melainkan tentang akhirnya tinggal—di dalam diri sendiri, tanpa penonton, tanpa panggung, tanpa perlu menjelaskan apa pun.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar