Aku tidak pandai menerima simpati. Bukan karena kuat, tapi karena cepat tahu
mana yang tidak akan mengubah apa-apa. Dan biasanya memang tidak. Aku
melihatnya sejak awal, seperti membaca akhir cerita dari judulnya saja.
Tapi anehnya, aku tetap mengingat orang-orang yang mencobanya.
Mereka datang dengan kalimat yang setengah matang. Ada yang terlalu cepat
menyimpulkan, ada yang terlalu lama diam, ada yang jelas-jelas bingung tapi
tetap duduk. Aku tahu itu tidak bekerja. Aku tahu itu tidak menyentuh akar. Aku
juga tahu aku tidak sedang diselamatkan. Tapi tetap saja, usahanya tercatat, di
kedalaman hatiku.
Satu hal yang kau perlu tahu, aku hidup di dunia yang efisien. Segala
sesuatu tak mesti diukur dari hasil. Pas lagi bijak, aku meliriknya juga dari
usaha serta niatan. Walau kadang gagal, sering malah. Maka simpati yang gagal
kuanggap tetaplah bermakna. Wajar saja. Tapi di antara semua kegagalan, ada
jenis kegagalan tertentu yang jarang: kegagalan yang tidak sok tahu. Yang tidak
menuntut terima kasih. Yang tidak minta diakui sebagai “setidaknya sudah
mencoba”.
Yang seperti itu mulai terasa seperti artefak langka. Bukan karena istimewa.
Justru karena tidak istimewa, tapi tetap mau hadir.
Aku tidak membaik karenanya. Jangan salah paham. Aku tetap orang yang sama
setelahnya. Masalahku tidak menyusut. Kepalaku tidak lebih terang. Hidup tidak
bergeser satu inci pun. Kalau ini laporan kemajuan, nilainya diam di tempat.
Tapi ada satu hal yang bergerak pelan: keyakinanku bahwa tidak semua orang
datang untuk terlihat benar.
Lucunya, aku lebih percaya simpati yang gagal daripada nasihat yang rapi.
Yang pertama jujur tentang keterbatasannya. Yang kedua sering lupa mengakuinya.
Maka ketika seseorang bersimpati dengan kikuk, salah ucap, salah jeda, aku
justru merasa aman. Tidak ada agenda. Tidak ada panggung. Hanya manusia yang
salah tempat tapi tidak kabur. Dan ini membutuhkan keberanian.
Aku tidak membalasnya dengan cerita panjang. Aku juga tidak mengikatnya jadi
pelajaran hidup. Aku hanya menyimpannya. Dan diam-diam berjanji pada diri
sendiri—janji yang juga mungkin akan gagal—bahwa kalau suatu hari aku bertemu
orang yang sedang runtuh di wilayah yang tidak kupahami, aku tidak akan
langsung pergi hanya karena aku tahu aku tidak berguna.
Barangkali begini cara kebaikan bertahan: bukan lewat kehebatan, tapi lewat
kegagalan yang tidak malu. Dan lewat orang-orang yang bersedia jadi spesies
langka, yang tak berharap hasil, bahkan tidak peduli apakah efeknya berasa.

0 Komentar