Aku sering memilih diam di tengah obrolan yang ramai. Bukan karena tidak punya pendapat—justru sebaliknya. Kepalaku terlalu penuh. Begitu penuh sampai aku malas membuka mulut, karena aku sudah bisa menebak ke mana arah percakapan ini akan dibawa, siapa yang akan menang, siapa yang akan merasa paling didengar, dan siapa yang akhirnya tetap pulang dengan keyakinan yang sama seperti saat datang.
Aku diam bukan karena bijak. Aku diam karena sudah pernah mencoba bicara dan
mendapati bahwa berbicara tidak selalu berarti didengar. Kadang berbicara hanya
berarti ikut meramaikan kebisingan yang tidak meminta kontribusi apa pun selain
persetujuan. Aku belajar cepat bahwa obrolan sering kali bukan tempat bertukar
pikiran, melainkan arena latihan mengangguk yang rapi.
Lucunya, diamku jarang dianggap sebagai strategi. Diam hampir selalu
disalahpahami sebagai sikap. Cuek. Dingin. Sok dalam. Sok tenang. Aku tidak
membantah label-label itu karena membantahnya membutuhkan energi tambahan, dan
energi itu lebih baik kusimpan untuk hal lain—misalnya untuk menertawakan
diriku sendiri karena merasa cukup pintar dengan memilih diam.
Di kepalaku, aku selalu mengoreksi segalanya. Kalimat yang barusan
diucapkan. Logika yang bolong. Kesimpulan yang meloncat. Tapi semua koreksi itu
berhenti di kepala, seperti memo internal yang tidak pernah dikirim. Aku
membiarkannya menumpuk, sambil berkata pada diri sendiri: tidak semua kesalahan
harus diluruskan, tidak semua kebodohan perlu diselamatkan. Kalimat itu
terdengar dewasa, padahal sering kali cuma alasan agar aku tidak perlu
terlibat.
Aku sering menghibur diri dengan gagasan bahwa diam adalah bentuk
keunggulan. Bahwa tidak bereaksi berarti lebih tinggi kelasnya. Bahwa orang
yang benar tidak perlu menjelaskan. Padahal sejujurnya, diam sering kali cuma
cara termudah untuk menghindari rasa tidak nyaman saat pendapatku tidak
disambut. Aku menyebutnya kebijaksanaan agar terdengar terhormat, padahal
isinya tetap ketakutan yang dibungkus rapi.
Yang lebih menggelikan, aku menunggu momen yang sempurna untuk bicara. Nada
yang pas serta waktu yang tidak memotong siapa pun. Nyatanya, aku menunggu
situasi ideal seperti orang yang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau di
jalan yang tidak punya lampu. Obrolan tidak pernah serapi itu. Ia tidak memberi
aba-aba. Ia tidak menunggu aku selesai berpikir. Dan setiap kali aku
tertinggal, aku menyebutnya sebagai sikap hati-hati, bukan sebagai
keterlambatan.
Aku cemburu pada mereka yang bisa bicara tanpa rencana. Mereka terdengar. Sementara
aku yang terlalu sibuk merapikan isi kepala, justru sering terlupakan.
Ironisnya, aku tahu ini. Aku sadar sepenuhnya bahwa diamku bukan sikap heroik,
melainkan kompromi yang kupilih berulang kali karena terasa paling aman.
Aku tahu aku ikut berperan dalam ketidakhadiranku sendiri. Aku tahu tidak
ada yang benar-benar diwajibkan menungguku siap. Obrolan tidak punya kewajiban
untuk sabar. Tapi tetap saja, aku bertahan pada kebiasaan ini—diam sambil
berharap. Berharap keheningan ini cukup menarik perhatian. Berharap ada yang
cukup peduli untuk berhenti sejenak.
Aku tahu ini melelahkan. Diam untuk didengar, tapi diam malah membuatku tak
terdengar. Bicara untuk didengar, tapi bicara terlalu cepat membuatku
terlupakan. Maka aku tetap diam, sambil berharap suatu hari ada yang bertanya,
“Kamu lagi mikir apa?”
Padahal jawabannya sederhana: aku lagi menunggu kamu bertanya itu.

0 Komentar