Kedewasaan datang kepadaku tanpa
aba-aba. Tidak ada garis finish, tidak ada suara peluit. Ia muncul sebagai
kebiasaan yang sering dianggap belum rapi: berhenti terlalu lama di satu titik,
tertarik pada hal sepele, atau sengaja memperlambat langkah ketika semua orang
tampak bergegas. Dari luar, sikap itu mudah disalahartikan sebagai belum siap.
Dari dalam, justru di sanalah aku belajar menjaga tubuh dan pikiranku agar
tidak tumbang oleh kecepatan yang tidak kupilih—meski kadang aku sendiri yang
bikin lambat karena takut salah arah.
Ada bagian diriku yang masih gemar
mengulang hal-hal kecil. Mengetuk meja dua kali sebelum berdiri, membaca ulang
kalimat yang sudah kupahami, memutar kunci walau pintu jelas terkunci.
Kebiasaan itu tidak efisien, tapi jujur—dan aku tersenyum kecil setiap kali
sadar betapa konyolnya aku bergantung pada ritual kecil itu hanya untuk merasa
aman. Dari pengulangan itu, aku tahu kapan sesuatu cukup aman untuk
ditinggalkan dan kapan perlu diperhatikan lebih lama.
Rasa ingin tahu yang tersisa bekerja
seperti lampu senter dengan baterai setengah. Cahayanya tidak terang, tapi
cukup untuk melihat tepi. Aku mengarahkan sinar itu ke hal-hal yang sering
dilewati orang dewasa: rasa heran, tanya yang tidak segera dijawab, dan
kesenangan singkat yang tidak produktif. Dari sana, batas-batas menjadi terasa
lewat pengalaman, bukan lewat aturan yang ditempel di dinding—dan aku diam-diam
geli karena masih saja terpesona hal-hal yang orang lain anggap remeh.
Keseriusan sering dipakai sebagai
ukuran kematangan. Aku menemukannya dalam kemampuan merapikan tanpa menghapus
jejak sepenuhnya. Seperti menyapu lantai yang masih menyimpan bekas kaki, aku
tidak berusaha mengembalikan semuanya ke kondisi awal. Aku hanya memastikan bisa
dilalui lagi. Ada ketelitian yang tumbuh dari kebiasaan mencoba-coba, dari
keberanian kecil untuk salah tanpa membuat pengumuman besar—walau kadang aku
sadar, salahku sering karena terlalu lama ragu.
Hari-hari tidak selalu meminta
keputusan besar. Kebanyakan hanya menuntut penyesuaian kecil: kapan bicara,
kapan menahan; kapan maju, kapan duduk di pinggir. Di sela-sela itu, sisa-sisa
sikap polos membantu menjaga jarak dengan beban. Ia tidak menolak tanggung
jawab, hanya mencegahnya mengendap terlalu lama. Seperti menggoyangkan tas agar
isinya tidak menumpuk di satu sisi—dan aku tersenyum sendiri karena tahu, tas
itu sering berat karena aku sendiri yang lupa membuang barang tak perlu.
Ada tawa yang tidak pernah
benar-benar keluar, hanya terasa di dada. Ia muncul ketika menyadari betapa
rapuhnya susunan yang kubuat dengan serius. Tawa itu tidak meremehkan, hanya
mengingatkan bahwa segalanya bisa bergeser. Di saat yang sama, ada
kehati-hatian yang bekerja diam-diam, menata ulang tanpa menarik perhatian. Keduanya
berbagi ruang, saling mengoreksi tanpa harus bersepakat.
Aku tidak menyimpan daftar
pencapaian, hanya kebiasaan-kebiasaan yang terus diperbarui. Duduk di lantai
untuk melihat dari bawah, berdiri lagi untuk memastikan arah. Bergerak maju,
lalu kembali setengah langkah. Dari ritme itu, ada rasa cukup yang tidak perlu
diberi nama.
Di antara kebiasaan merapikan dan dorongan membongkar, aku berdiri tanpa label. Kadang tanganku sibuk menyusun, kadang sengaja mengacak. Kotak-kotak dibuka, ditutup, lalu dibiarkan terbuka sebentar, seolah isinya belum memutuskan akan tinggal atau keluar.

0 Komentar