Ketenteramanku bukan danau, melainkan lantai dapur yang baru dipel—licin,
dingin, dan menuntut langkah hati-hati. Panik datang lebih dulu, selalu. Ia
mengetuk pintu tanpa salam, mengacak rak, memindahkan kursi. Setelah itu, barulah
ketenangan bekerja, seperti petugas kebersihan yang datang terlambat tapi
teliti. Ia tidak menghapus jejak, hanya merapikannya agar aku bisa berjalan
tanpa jatuh.
Panik memberiku peta kasar. Garis-garisnya tebal dan tergesa, seperti
coretan spidol di kertas buram. Ia menunjuk ke segala arah sekaligus, membuat
semua kemungkinan terasa dekat dan berisik. Dari kebisingan itulah aku memilih
diam. Diam bukan sikap mulia; ia cara bertahan. Seperti menutup telinga di
konser yang terlalu keras, aku menurunkan volume agar bisa mendengar satu suara
saja—biasanya napasku sendiri.
Ketenangan yang lahir setelah panik tidak pernah bersih. Ada sisa debu di
sudut, ada bekas geser yang tidak rata. Tapi justru di situ aku tahu ini nyata.
Tenang yang steril membuatku waspada; tenang yang menyisakan bekas membuatku
percaya. Panik telah melakukan inventaris: apa yang bisa rusak, apa yang
mungkin hilang, apa yang tak bisa diperbaiki. Dengan daftar itu di tangan,
ketenangan berjalan pelan, memutuskan mana yang perlu disentuh sekarang dan
mana yang semestinya dibiarkan.
Aku sering terlihat santai ketika semuanya genting. Itu bukan keberanian;
itu kebiasaan. Panik mengajariku urutan kerja: berhenti, tarik napas, susun.
Seperti koki di dapur kecil saat pesanan menumpuk, aku bergerak rapi karena
tahu satu langkah ceroboh akan menjatuhkan segalanya. Di kepalaku, alarm masih
menyala. Di tanganku, pisau tetap lurus. Dua hal itu hidup berdampingan tanpa
perlu berdamai.
Ada jenaka sunyi yang muncul di sela sepi. Aku tersenyum sendiri ketika
menyadari betapa paniknya aku menata ketenangan. Menaruh gelas di tepi meja
lalu menggesernya satu sentimeter menjauh. Memeriksa kunci dua kali, lalu
berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Ketenangan itu hasil kerja lembur,
bukan bakat. Ia muncul karena panik sudah memeras semua kemungkinan sampai
kering.
Waktu berjalan tanpa menoleh. Panik menagih percepatan; ketenangan menawar
jeda. Aku berdiri di antara keduanya seperti penyeberang jalan yang menunggu
lampu berubah, membaca gerak kendaraan, menghitung celah. Ketika langkah
diambil, itu bukan lompatan kemenangan. Itu langkah yang sudah diuji di kepala,
berkali-kali, sampai panik kehabisan versi.
Kadang panik datang tanpa alasan jelas—seperti bau gosong yang tidak tahu
dari mana. Ketenangan menyusul dengan membuka jendela, bukan mencari sumbernya.
Aku tidak selalu ingin tahu sebab; aku hanya ingin udara bergerak. Dari situ,
segala sesuatu terasa mungkin untuk ditata ulang, meski tidak harus sekarang.

0 Komentar