KESABARAN DARI KETIDAKSABARAN

Es Es - Ikon Blog

 

Kesabaran tidak muncul sebagai sifat bawaan, melainkan sebagai kebiasaan yang terpaksa dipelajari. Seperti seseorang yang belajar menyeimbangkan gelas penuh di atas nampan yang licin, aku berjalan pelan karena tahu tanganku gemetar. Dari luar, langkah ini tampak rapi. Dari dalam, ada hitungan detik yang berisik, ada dorongan kecil yang terus menyenggol punggung, menyuruhku mempercepat langkah sebelum lantai berubah pikiran.

Menunggu selalu terasa seperti berdiri di halte yang papan namanya pudar. Bus akan datang, katanya. Jam berputar, orang berganti, dan aku tetap di situ, memperhatikan retak aspal dan iklan lama yang warnanya luntur. Ketidaksabaran menempel seperti permen karet di sepatu—lengket, menyebalkan, tapi juga membuatku sadar setiap kali kakiku menyentuh tanah. Tanpanya, mungkin aku sudah melangkah terlalu jauh tanpa benar-benar tahu pijakan.

Ada hari-hari ketika aku tampak tenang karena tidak ada pilihan lain. Aku duduk, menaruh tangan di paha, menatap sesuatu yang tidak menuntut jawaban. Di balik itu, pikiranku menggeser jam dinding, memajukan menit, membayangkan akhir sebelum tengah. Aneh rasanya: justru karena ingin cepat, aku belajar diam lebih lama. Seperti menahan pintu agar tidak dibanting angin, aku mengerahkan tenaga untuk tidak bergerak.

Waktu berjalan dengan cara yang tidak bisa ditawar. Ia tidak menoleh ketika dipanggil, tidak mempercepat langkah karena aku sudah siap. Aku menyesuaikan diri, bukan dengan pasrah, tapi dengan perhitungan kecil. Kapan bernapas, kapan mengalihkan pandang, kapan berpura-pura sibuk agar dorongan itu tidak mengambil alih. Dari kebiasaan itu, ritme terbentuk—tidak indah, tapi bisa diikuti.

Kadang aku tersenyum sendiri saat menyadari betapa rapinya aku menata penantian. Seperti menyusun antrian di kepalaku agar tidak saling serobot. Ada bagian diriku yang ingin memotong barisan, ada bagian lain yang menarik kerahnya dan menunjuk garis lantai. Keduanya tidak pernah benar-benar sepakat, tapi mereka tahu cara berbagi ruang. Jika tidak, aku akan jatuh karena terlalu cepat atau tertinggal karena terlalu hati-hati.

Hari-hari berlalu tanpa penanda besar. Yang ada hanya perubahan kecil: langkah yang tidak lagi tergesa, napas yang tidak selalu tertahan, dan jeda yang mulai terasa akrab. Aku tidak menjadi lebih lambat, hanya lebih sadar kapan harus berhenti. Seperti mengemudi di jalan berkabut, aku tidak menambah kecepatan; aku menajamkan perhatian.

Kesunyian bukan kondisi ideal; ia hanya volume yang diturunkan. Pikiran tetap berbicara, hanya tidak berteriak. Seperti radio lama yang suaranya mengecil ketika hujan turun, ada dengung lembut yang justru membuatku paham lagu apa yang sedang diputar. Aku mulai tahu kapan harus bergerak dan kapan harus diam, bukan karena bijak, melainkan karena pernah terlalu sering bergerak pada waktu yang salah. Setiap kesalahan menjadi catatan kecil yang kusimpan rapi, agar lain kali aku bisa tersenyum dan menunggu sedikit lebih lama.

Di ujung hari, tidak ada pernyataan besar tentang menjadi lebih baik. Yang ada hanya kebiasaan kecil: duduk sebentar sebelum berdiri, menarik napas sebelum bicara, menunggu sampai gelas benar-benar penuh sebelum diangkat. Dari kebiasaan-kebiasaan itulah kesabaran muncul, bukan sebagai kemenangan, melainkan sebagai keseimbangan rapuh yang lucu.


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar