Kesabaran tidak muncul sebagai sifat bawaan, melainkan sebagai kebiasaan
yang terpaksa dipelajari. Seperti seseorang yang belajar menyeimbangkan gelas
penuh di atas nampan yang licin, aku berjalan pelan karena tahu tanganku gemetar.
Dari luar, langkah ini tampak rapi. Dari dalam, ada hitungan detik yang
berisik, ada dorongan kecil yang terus menyenggol punggung, menyuruhku
mempercepat langkah sebelum lantai berubah pikiran.
Menunggu selalu terasa seperti berdiri di halte yang papan namanya pudar.
Bus akan datang, katanya. Jam berputar, orang berganti, dan aku tetap di situ,
memperhatikan retak aspal dan iklan lama yang warnanya luntur. Ketidaksabaran
menempel seperti permen karet di sepatu—lengket, menyebalkan, tapi juga membuatku
sadar setiap kali kakiku menyentuh tanah. Tanpanya, mungkin aku sudah melangkah
terlalu jauh tanpa benar-benar tahu pijakan.
Ada hari-hari ketika aku tampak tenang karena tidak ada pilihan lain. Aku
duduk, menaruh tangan di paha, menatap sesuatu yang tidak menuntut jawaban. Di
balik itu, pikiranku menggeser jam dinding, memajukan menit, membayangkan akhir
sebelum tengah. Aneh rasanya: justru karena ingin cepat, aku belajar diam lebih
lama. Seperti menahan pintu agar tidak dibanting angin, aku mengerahkan tenaga
untuk tidak bergerak.
Waktu berjalan dengan cara yang tidak bisa ditawar. Ia tidak menoleh ketika
dipanggil, tidak mempercepat langkah karena aku sudah siap. Aku menyesuaikan
diri, bukan dengan pasrah, tapi dengan perhitungan kecil. Kapan bernapas, kapan
mengalihkan pandang, kapan berpura-pura sibuk agar dorongan itu tidak mengambil
alih. Dari kebiasaan itu, ritme terbentuk—tidak indah, tapi bisa diikuti.
Kadang aku tersenyum sendiri saat menyadari betapa rapinya aku menata
penantian. Seperti menyusun antrian di kepalaku agar tidak saling serobot. Ada
bagian diriku yang ingin memotong barisan, ada bagian lain yang menarik
kerahnya dan menunjuk garis lantai. Keduanya tidak pernah benar-benar sepakat,
tapi mereka tahu cara berbagi ruang. Jika tidak, aku akan jatuh karena terlalu
cepat atau tertinggal karena terlalu hati-hati.
Hari-hari berlalu tanpa penanda besar. Yang ada hanya perubahan kecil:
langkah yang tidak lagi tergesa, napas yang tidak selalu tertahan, dan jeda
yang mulai terasa akrab. Aku tidak menjadi lebih lambat, hanya lebih sadar
kapan harus berhenti. Seperti mengemudi di jalan berkabut, aku tidak menambah
kecepatan; aku menajamkan perhatian.
Kesunyian bukan kondisi ideal; ia hanya volume yang
diturunkan. Pikiran tetap berbicara, hanya tidak berteriak. Seperti radio lama
yang suaranya mengecil ketika hujan turun, ada dengung lembut yang justru
membuatku paham lagu apa yang sedang diputar. Aku mulai tahu kapan harus
bergerak dan kapan harus diam, bukan karena bijak, melainkan karena pernah
terlalu sering bergerak pada waktu yang salah. Setiap kesalahan menjadi catatan
kecil yang kusimpan rapi, agar lain kali aku bisa tersenyum dan menunggu
sedikit lebih lama.
Di ujung hari, tidak ada pernyataan besar tentang
menjadi lebih baik. Yang ada hanya kebiasaan kecil: duduk sebentar sebelum
berdiri, menarik napas sebelum bicara, menunggu sampai gelas benar-benar penuh
sebelum diangkat. Dari kebiasaan-kebiasaan itulah kesabaran muncul, bukan
sebagai kemenangan, melainkan sebagai keseimbangan rapuh yang lucu.

0 Komentar