BERHENTI MENCARI DIRI DENGAN CARA MENCARI DIRI

 

Es Es - Ikon Blog

Pernah satu masa ketika mencari diri terasa seperti pekerjaan penuh waktu. Bangun pagi dengan niat menemukan siapa sebenarnya yang bangun itu, lalu tidur malam dengan perasaan gagal karena jawabannya belum juga muncul. Di sela-sela itu, berbagai metode dicoba: merenung, menulis, mengingat-ingat masa lalu, membongkar perasaan seperti laci yang macet. Anehnya, semakin rajin dicari, diri justru terasa makin menjauh. Seperti kunci yang dipegang di tangan, tapi terus dicari-cari ke seluruh rumah.

Mencari diri sering terdengar seperti aktivitas sunyi dan dalam. Padahal praktiknya cukup ribut. Kepala dipenuhi pertanyaan, perbandingan, dan kalimat “harusnya aku…” yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari terasa seperti rapat internal tanpa notulen, di mana semua bagian diri bicara bersamaan dan tidak ada yang mau mendengar. Di akhir rapat, tidak ada keputusan, hanya kelelahan.

Yang lucu, pencarian ini sering dilakukan dengan penuh disiplin. Ada jadwalnya. Ada targetnya. Ada rasa bersalah kalau sehari tidak “menggali diri”. Seolah-olah diri adalah proyek renovasi rumah yang tak boleh berhenti, meski penghuninya sudah lelah menghirup debu. Padahal mungkin rumah itu tidak rusak. Mungkin hanya perlu ditinggali tanpa terlalu sering dipukul-pukul temboknya.

Aku mencium ketidakberesan, jangan-jangan masalahnya bukan karena diri belum ditemukan, tapi karena ia terlalu sering dipanggil. Setiap saat diminta menjelaskan, membela, menunjukkan bentuk. Seperti orang yang sedang makan, tapi terus ditanya, “rasanya apa?” sebelum sempat menelan. Lama-lama bukan rasanya yang hilang, tapi nafsu makannya.

Ada hari-hari ketika pertanyaan tentang diri muncul seperti notifikasi yang tak bisa dimatikan. Seolah-olah setiap gerak harus punya identitas, dan setiap diam perlu alasan. Lelahnya bukan karena pertanyaannya sulit, tapi karena tidak pernah diberi waktu untuk benar-benar diam.

Di titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti kebiasaan mengaduk air yang sebenarnya sudah tenang. Bukan untuk mencari sesuatu, tapi karena tangan sudah terlanjur ingin bergerak. Padahal semakin diaduk, semakin keruh, lalu disalahkan karena tidak bisa melihat dasar. Ketika air akhirnya dibiarkan, kegelisahan justru muncul: jangan-jangan selama ini yang disebut pencarian hanya cara lain untuk memastikan tangan tetap sibuk.

Berhenti mencari diri terdengar seperti menyerah. Dan memang ada unsur itu. Tapi bukan menyerah pada hidup, melainkan menyerah pada kebiasaan menginterogasi diri sendiri. Bukan karena semua sudah jelas, tapi karena terlalu banyak hal menjadi buram jika terus disorot. Ada bagian diri yang hanya muncul ketika tidak dipanggil. Seperti bau hujan yang baru terasa setelah berhenti membicarakan cuaca.

Ironisnya, saat pencarian dihentikan, diri tidak langsung muncul dengan wajah jelas. Tidak ada pencerahan. Tidak ada pengumuman. Yang ada hanya rutinitas berjalan seperti biasa: mencuci piring, lupa menjemur baju, tertawa kecil pada hal yang tidak penting. Di situ, tanpa disadari, diri sedang duduk diam, tidak menjelaskan apa-apa, tidak membuktikan apa pun.


back ------- next


Posting Komentar

0 Komentar