Pernah satu masa ketika mencari diri terasa seperti pekerjaan penuh waktu. Bangun pagi dengan niat menemukan siapa sebenarnya yang bangun itu, lalu tidur malam dengan perasaan gagal karena jawabannya belum juga muncul. Di sela-sela itu, berbagai metode dicoba: merenung, menulis, mengingat-ingat masa lalu, membongkar perasaan seperti laci yang macet. Anehnya, semakin rajin dicari, diri justru terasa makin menjauh. Seperti kunci yang dipegang di tangan, tapi terus dicari-cari ke seluruh rumah.
Mencari diri sering terdengar seperti aktivitas sunyi dan dalam. Padahal
praktiknya cukup ribut. Kepala dipenuhi pertanyaan, perbandingan, dan kalimat
“harusnya aku…” yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap hari terasa seperti
rapat internal tanpa notulen, di mana semua bagian diri bicara bersamaan dan
tidak ada yang mau mendengar. Di akhir rapat, tidak ada keputusan, hanya
kelelahan.
Yang lucu, pencarian ini sering dilakukan dengan penuh disiplin. Ada
jadwalnya. Ada targetnya. Ada rasa bersalah kalau sehari tidak “menggali diri”.
Seolah-olah diri adalah proyek renovasi rumah yang tak boleh berhenti, meski
penghuninya sudah lelah menghirup debu. Padahal mungkin rumah itu tidak rusak.
Mungkin hanya perlu ditinggali tanpa terlalu sering dipukul-pukul temboknya.
Aku mencium ketidakberesan, jangan-jangan masalahnya bukan karena diri belum
ditemukan, tapi karena ia terlalu sering dipanggil. Setiap saat diminta
menjelaskan, membela, menunjukkan bentuk. Seperti orang yang sedang makan, tapi
terus ditanya, “rasanya apa?” sebelum sempat menelan. Lama-lama bukan rasanya
yang hilang, tapi nafsu makannya.
Ada hari-hari ketika pertanyaan tentang diri muncul seperti notifikasi yang
tak bisa dimatikan. Seolah-olah setiap gerak harus punya identitas, dan setiap
diam perlu alasan. Lelahnya bukan karena pertanyaannya sulit, tapi karena tidak
pernah diberi waktu untuk benar-benar diam.
Di titik tertentu, pertanyaan-pertanyaan itu terasa seperti kebiasaan
mengaduk air yang sebenarnya sudah tenang. Bukan untuk mencari sesuatu, tapi
karena tangan sudah terlanjur ingin bergerak. Padahal semakin diaduk, semakin
keruh, lalu disalahkan karena tidak bisa melihat dasar. Ketika air akhirnya
dibiarkan, kegelisahan justru muncul: jangan-jangan selama ini yang disebut
pencarian hanya cara lain untuk memastikan tangan tetap sibuk.
Berhenti mencari diri terdengar seperti menyerah. Dan memang ada unsur itu.
Tapi bukan menyerah pada hidup, melainkan menyerah pada kebiasaan
menginterogasi diri sendiri. Bukan karena semua sudah jelas, tapi karena
terlalu banyak hal menjadi buram jika terus disorot. Ada bagian diri yang hanya
muncul ketika tidak dipanggil. Seperti bau hujan yang baru terasa setelah
berhenti membicarakan cuaca.
Ironisnya, saat pencarian dihentikan, diri tidak langsung muncul dengan
wajah jelas. Tidak ada pencerahan. Tidak ada pengumuman. Yang ada hanya
rutinitas berjalan seperti biasa: mencuci piring, lupa menjemur baju, tertawa
kecil pada hal yang tidak penting. Di situ, tanpa disadari, diri sedang duduk
diam, tidak menjelaskan apa-apa, tidak membuktikan apa pun.

0 Komentar