TUAN MUDA YANG TIDAK DITEMUKAN

 

Es Es - Ikon Blog

Ada jenis tontonan yang secara teknis buruk, secara logika bolong, dan secara moral meragukan, tapi tetap kutonton dengan tekun seperti pegawai teladan. Drama Cina yang sudah didubbing ke bahasa Indonesia dengan nama-nama yang dipaksa terdengar lokal—Li Wei menjadi Wahyu, Zhang Min menjadi Sinta—membuatku tertawa bukan karena lucu, tapi karena terlalu percaya diri pada ketidakmasukakalannya.

Semua ceritanya sama. Tokoh utama biasanya bodoh, lemah, dipermalukan, ditampar kehidupan sambil berdiri seperti tiang listrik yang tidak tahu fungsinya apa. Lalu, seperti dapat notifikasi dari semesta, ia kerasukan jiwa jenius dari masa lalu, atau masa depan, atau mati mengenaskan dan bangun lagi tiga tahun sebelumnya dengan tekad baru, atau tiba-tiba ingat bahwa ia sebenarnya pewaris tunggal konglomerat yang bayinya dulu tertukar. Kalau tidak itu, ya CEO kaya raya yang bosan jadi kaya lalu menyamar jadi tukang sapu, menunggu seseorang memperlakukannya dengan baik agar bisa mengangkat orang itu menjadi tangan kanan perusahaan.

Aku tahu polanya. Awal-awal pasti penuh penghinaan. Menit berikutnya mulai ada kejanggalan kecil. Menjelang akhir, semua orang yang dulu menertawakan tokoh utama akan berdiri kaku seperti murid yang ketahuan mencontek, sementara ia berjalan pelan dengan jas mahal dan tatapan dingin yang dua adegan sebelumnya masih tampak seperti orang yang salah masuk cerita.

Aku tertawa. Betul-betul tertawa. Dialognya kaku. Emosinya meledak tanpa sebab. Transformasinya terjadi secepat mie instan matang. Tapi yang lebih menggelikan adalah ini: meski sudah tahu alurnya, sudah hafal urutannya, aku tetap menonton sampai selesai. Seolah-olah ada kemungkinan kali ini nasibnya berbeda. Seolah-olah kali ini kebodohan tidak akan dibalas dengan saham perusahaan.

Di sela-sela tawa itu, ada dorongan konyol yang pelan-pelan menyusup. Bagaimana kalau aku juga sebenarnya tokoh utama yang belum tahu perannya? Bagaimana kalau suatu hari, saat sedang menawar harga kangkung di pasar, tiba-tiba rombongan orang berjas hitam datang, membungkuk, dan memanggilku “Tuan Muda” dengan suara serempak yang terlalu sinkron? Bagaimana kalau selama ini aku hanya menjalani fase penghinaan sebelum episode transformasi?

Sejak itu, realitas jadi sedikit mencurigakan. Tukang parkir bisa saja CEO yang sedang eksperimen sosial. Pengemis mungkin miliarder yang sedang menyamar. Memberi uang receh terasa seperti investasi naratif. Kebaikan kecil tiba-tiba terasa seperti adegan penting yang kelak diputar ulang dengan musik dramatis.

Aku menertawakan fantasi murahan itu, tapi sialnya .... sambil diam-diam menginginkannya. Aku mencemooh tokoh yang tiba-tiba berubah jadi sukses hanya karena skrip mengizinkan, tapi berharap hidupku juga punya penulis yang bosan melihatku biasa-biasa saja. Aku tahu transformasi instan itu tidak masuk akal, tapi tetap menyisakan ruang kecil untuk percaya bahwa mungkin, di balik kebodohan sehari-hari, ada identitas rahasia yang menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Dan aku, yang merasa lebih pintar dari alurnya, tetap duduk manis menunggu adegan ketika semua orang akhirnya menyesal pernah meremehkanku.

 

Back -------- next

Posting Komentar

0 Komentar