MENUNGGU DIJEMPUT

 

Es Es - Ikon Blog

Kebiasaan aneh ini jarang diakui: menunggu diri sendiri datang dari masa depan. Bukan menunggu perubahan pelan-pelan, tapi semacam penjemputan. Versi diri yang lebih rapi, lebih tenang, lebih tahu harus ke mana—datang dengan wajah yang sudah selesai, lalu bilang, “ayo, kita mulai dari sini saja.”

Sampai sekarang, penjemput itu belum juga datang. Tapi anehnya, aku tetap menunggu.

Penunggunya tidak selalu dramatis. Kadang hanya muncul dalam bentuk kalimat kecil: nanti saja kalau sudah siap. Nanti kalau sudah lebih jelas. Nanti kalau sudah tahu mau jadi apa. Kata “nanti” itu seperti ruang tunggu yang nyaman—tidak benar-benar mengusir, tapi juga tidak pernah memanggil.

Sementara itu, hari-hari berjalan seperti biasa. Bangun, melakukan hal-hal yang cukup masuk akal, lalu tidur lagi dengan perasaan ada sesuatu yang belum benar-benar dimulai. Bukan karena tidak ada yang dilakukan, tapi karena semuanya terasa seperti versi percobaan. Seolah-olah ini bukan hidup yang sebenarnya, hanya draft yang belum disetujui.

Aku mulai mencurigai sesuatu. Jangan-jangan versi diri yang ditunggu itu tidak pernah direncanakan untuk datang. Atau lebih buruk lagi, jangan-jangan ia sudah datang beberapa kali—dalam bentuk yang lebih kecil, lebih biasa—tapi diabaikan karena tidak sesuai bayangan. Tidak cukup rapi. Tidak cukup meyakinkan untuk disebut “penjemput”.

Sambil menunggu dijemput, aku tetap bergerak. Mengambil keputusan kecil, melakukan hal-hal yang tidak terasa penting, kadang bahkan melakukan kesalahan yang tidak perlu. Tapi semua itu dijalani seperti orang yang hanya mengisi waktu sebelum sesuatu yang lebih besar dimulai.

Ada semacam keyakinan diam-diam bahwa hidup yang sebenarnya akan terasa berbeda. Akan ada tanda. Akan ada perasaan “ini dia.” Akan ada momen ketika semuanya tiba-tiba masuk akal, seperti adegan yang akhirnya menemukan musik latarnya.

Sampai sekarang, tanda itu belum muncul. Musiknya belum terdengar. Yang ada hanya suara biasa: kipas angin, notifikasi ponsel, dan pikiran sendiri yang kadang terlalu berisik untuk ukuran sesuatu yang belum terjadi.

Kadang aku bertanya, kalau penjemput itu benar-benar datang, apakah aku akan mengenalinya? Atau justru malah melewatinya begitu saja karena terlalu sibuk menunggu versi yang lebih sempurna?


back ---------- next

Posting Komentar

0 Komentar