Kebiasaan aneh ini jarang diakui: menunggu diri sendiri datang dari
masa depan. Bukan menunggu perubahan pelan-pelan, tapi semacam penjemputan.
Versi diri yang lebih rapi, lebih tenang, lebih tahu harus ke mana—datang
dengan wajah yang sudah selesai, lalu bilang, “ayo, kita mulai dari sini saja.”
Sampai sekarang, penjemput itu belum juga datang. Tapi anehnya, aku tetap
menunggu.
Penunggunya tidak selalu dramatis. Kadang hanya muncul dalam bentuk kalimat
kecil: nanti saja kalau sudah siap. Nanti kalau sudah lebih jelas. Nanti kalau
sudah tahu mau jadi apa. Kata “nanti” itu seperti ruang tunggu yang
nyaman—tidak benar-benar mengusir, tapi juga tidak pernah memanggil.
Sementara itu, hari-hari berjalan seperti biasa. Bangun, melakukan hal-hal
yang cukup masuk akal, lalu tidur lagi dengan perasaan ada sesuatu yang belum
benar-benar dimulai. Bukan karena tidak ada yang dilakukan, tapi karena
semuanya terasa seperti versi percobaan. Seolah-olah ini bukan hidup yang
sebenarnya, hanya draft yang belum disetujui.
Aku mulai mencurigai sesuatu. Jangan-jangan versi diri yang ditunggu itu
tidak pernah direncanakan untuk datang. Atau lebih buruk lagi, jangan-jangan ia
sudah datang beberapa kali—dalam bentuk yang lebih kecil, lebih biasa—tapi
diabaikan karena tidak sesuai bayangan. Tidak cukup rapi. Tidak cukup
meyakinkan untuk disebut “penjemput”.
Sambil menunggu dijemput, aku tetap bergerak. Mengambil keputusan kecil,
melakukan hal-hal yang tidak terasa penting, kadang bahkan melakukan kesalahan
yang tidak perlu. Tapi semua itu dijalani seperti orang yang hanya mengisi
waktu sebelum sesuatu yang lebih besar dimulai.
Ada semacam keyakinan diam-diam bahwa hidup yang sebenarnya akan terasa
berbeda. Akan ada tanda. Akan ada perasaan “ini dia.” Akan ada momen ketika
semuanya tiba-tiba masuk akal, seperti adegan yang akhirnya menemukan musik
latarnya.
Sampai sekarang, tanda itu belum muncul. Musiknya belum terdengar. Yang ada
hanya suara biasa: kipas angin, notifikasi ponsel, dan pikiran sendiri yang
kadang terlalu berisik untuk ukuran sesuatu yang belum terjadi.
Kadang aku bertanya, kalau penjemput itu benar-benar datang, apakah aku akan
mengenalinya? Atau justru malah melewatinya begitu saja karena terlalu sibuk
menunggu versi yang lebih sempurna?

0 Komentar