KEYAKINAN YANG TIDAK YAKIN

 

Es Es - Ikon Blog

Di keramaian, orang-orang menjajakan ketidaktahuan dengan suara yang terdengar sebagai keyakinan. Teriakannya berapi-api—cukup panas untuk membuat siapa pun merasa telah menemukan sesuatu. Api itu berpindah tangan, membakar sebentar, lalu disebut milik sendiri.

Aku tidak masuk antrean itu. Bukan karena punya jawaban lain, hanya karena tidak membawa keyakinan untuk ditawarkan.

Aku tidak menjual keyakinan. Terlalu ramai pasarnya. Semua orang berteriak paling benar, paling tahu, paling sampai. Aku datang dengan produk yang jauh lebih sederhana: ketidakyakinan. Tanpa garansi, tanpa sertifikat, dan tentu saja tanpa buku petunjuk. Anehnya, justru itu yang membuat orang berhenti dan mendengarkan.

Aku tidak yakin pada banyak hal, tapi entah kenapa aku sering terdengar meyakinkan ketika mengatakannya. Mungkin karena aku tidak berusaha menang. Atau mungkin karena orang sudah terlalu lelah diajak percaya. Ketika aku berkata “aku tidak tahu”, kalimat itu terdengar seperti pengakuan jujur, bukan kelemahan. Padahal sebenarnya aku memang tidak tahu, dan tidak sedang berusaha membuatnya terdengar elegan.

Masalahnya muncul ketika ketidakyakinan ini mulai dianggap sebagai sikap. Orang mengangguk, seolah aku baru saja menawarkan pandangan hidup alternatif yang segar dan bisa diterapkan sehari-hari. Seakan-akan ragu adalah metode, bukan kebingungan. Di titik itu aku ingin menyela dan bilang: "tunggu dulu, ini bukan teori, ini cuma aku yang belum sampai ke mana-mana."

Aku mulai curiga, jangan-jangan aku sedang melakukan hal yang sama dengan para pemilik keyakinan. Bedanya hanya kemasan. Mereka menawarkan kepastian dengan suara keras, aku menawarkan ketidakpastian dengan suara tenang. Mereka yakin, aku tampak tidak yakin, tapi efeknya sama saja: orang merasa mendapat pegangan. Padahal aku tidak pernah berniat memberi pegangan apa pun, apalagi jadi tempat bersandar.

Yang lebih ironis, semakin aku menolak dipercaya, semakin serius orang mempercayaiku. Seolah penolakan itu sendiri adalah tanda kedewasaan. Aku ingin bilang bahwa ini bukan kebijaksanaan, ini hanya kebingungan yang bertahan lama. Tapi kalimat seperti itu biasanya sudah terlambat. Ketidakyakinan terlanjur diangkat jadi sikap hidup yang layak dikagumi.

Di titik tertentu, aku berhenti membedakan mana yang sungguh dipercaya dan mana yang sekadar diucapkan agar percakapan bisa lanjut. Banyak hal terdengar serius hanya karena diulang dengan nada yang tepat. Ketidakyakinan pun ikut terbawa, diperlakukan seperti barang rapuh yang harus dipegang dengan hati-hati, padahal ia sendiri tidak pernah meminta perlakuan khusus.

Aku berdiri di sana terlalu lama, menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Seperti sandal yang tertinggal di depan pintu: masih sepasang, masih bisa dipakai, tapi entah siapa yang terakhir melepasnya, dan ke mana orang itu pergi setelahnya.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar