Di keramaian, orang-orang menjajakan ketidaktahuan
dengan suara yang terdengar sebagai keyakinan. Teriakannya berapi-api—cukup
panas untuk membuat siapa pun merasa telah menemukan sesuatu. Api itu berpindah
tangan, membakar sebentar, lalu disebut milik sendiri.
Aku tidak masuk antrean itu. Bukan karena punya jawaban lain, hanya karena
tidak membawa keyakinan untuk ditawarkan.
Aku tidak menjual keyakinan. Terlalu ramai pasarnya. Semua orang berteriak
paling benar, paling tahu, paling sampai. Aku datang dengan produk yang jauh
lebih sederhana: ketidakyakinan. Tanpa garansi, tanpa sertifikat, dan tentu
saja tanpa buku petunjuk. Anehnya, justru itu yang membuat orang berhenti dan
mendengarkan.
Aku tidak yakin pada banyak hal, tapi entah kenapa aku sering terdengar
meyakinkan ketika mengatakannya. Mungkin karena aku tidak berusaha menang. Atau
mungkin karena orang sudah terlalu lelah diajak percaya. Ketika aku berkata
“aku tidak tahu”, kalimat itu terdengar seperti pengakuan jujur, bukan
kelemahan. Padahal sebenarnya aku memang tidak tahu, dan tidak sedang berusaha
membuatnya terdengar elegan.
Masalahnya muncul ketika ketidakyakinan ini mulai dianggap sebagai sikap.
Orang mengangguk, seolah aku baru saja menawarkan pandangan hidup alternatif
yang segar dan bisa diterapkan sehari-hari. Seakan-akan ragu adalah metode,
bukan kebingungan. Di titik itu aku ingin menyela dan bilang: "tunggu dulu, ini
bukan teori, ini cuma aku yang belum sampai ke mana-mana."
Aku mulai curiga, jangan-jangan aku sedang melakukan hal yang sama dengan
para pemilik keyakinan. Bedanya hanya kemasan. Mereka menawarkan kepastian
dengan suara keras, aku menawarkan ketidakpastian dengan suara tenang. Mereka
yakin, aku tampak tidak yakin, tapi efeknya sama saja: orang merasa mendapat
pegangan. Padahal aku tidak pernah berniat memberi pegangan apa pun, apalagi
jadi tempat bersandar.
Yang lebih ironis, semakin aku menolak dipercaya, semakin serius orang
mempercayaiku. Seolah penolakan itu sendiri adalah tanda kedewasaan. Aku ingin
bilang bahwa ini bukan kebijaksanaan, ini hanya kebingungan yang bertahan lama.
Tapi kalimat seperti itu biasanya sudah terlambat. Ketidakyakinan terlanjur
diangkat jadi sikap hidup yang layak dikagumi.
Di titik tertentu, aku berhenti membedakan mana yang sungguh dipercaya dan
mana yang sekadar diucapkan agar percakapan bisa lanjut. Banyak hal terdengar
serius hanya karena diulang dengan nada yang tepat. Ketidakyakinan pun ikut
terbawa, diperlakukan seperti barang rapuh yang harus dipegang dengan
hati-hati, padahal ia sendiri tidak pernah meminta perlakuan khusus.
Aku berdiri di sana terlalu lama, menunggu
sesuatu yang tidak pernah dijanjikan. Seperti sandal yang tertinggal di depan
pintu: masih sepasang, masih bisa dipakai, tapi entah siapa yang terakhir
melepasnya, dan ke mana orang itu pergi setelahnya.

0 Komentar