Datang begitu saja. Di dalam kepala, ada keramaian yang tidak ingin
kuakomodasi. Ada sebuah keinginan purba yang muncul tiba-tiba: aku ingin
dipahami. Aku ingin seseorang—siapa saja—masuk ke dalam kepalaku, melihat
tumpukan paradoks ini, lalu mengangguk tanpa bertanya.
Namun, tepat di samping keinginan itu, berdiri rasa malas yang luar biasa.
Rasa malas yang lahir dari kesadaran bahwa bahasa sering kali adalah
pengkhianat. Untuk menjelaskan satu inci perasaan, aku butuh ribuan kata, dan
bahkan setelah seribu kata terucap, orang lain hanya akan menangkap apa yang
mampu mereka tampung, bukan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan.
Ini adalah kutukan. Aku merasa seperti sebuah buku yang diletakkan di rak
paling pojok, berdebu, dengan judul yang sulit dibaca. Aku ingin seseorang
menghampiri dan membacaku sampai tuntas, tapi aku sendiri yang
menyembunyikannya. Aku sengaja mengunci pintunya, lalu aku mengeluh kenapa
tidak ada yang bertamu.
Bukankah ini sebuah lelucon? Aku meletakkan aksara untuk dibaca, namun aku
membenci pertanyaan. Aku membagikan potongan jiwaku dalam puzzle tapi aku
menutup kolom komentar di pikiranku sendiri.
Mungkin, aku tidak benar-benar ingin dipahami oleh orang lain. Mungkin, aku
sendiri yang tidak paham diri sendiri. Sebagaimana aksara di kertas, aku tidak
harus menjelaskan. Ia tidak pernah bertanya “kenapa?” atau “maksudmu apa?”. Ia
hanya menerima. Ia adalah wadah bagi semua ketidakjelasan yang perlu dijelaskan
dengan ketidakjelasan.
Jika dunia adalah pasar yang bising, aku adalah penjual yang malas
berteriak. Aku hanya akan duduk di pojok, menaruh barang daganganku di atas
meja kayu yang rapuh, lalu membiarkan orang lewat begitu saja. Jika kau paham,
ambillah. Jika kau butuh penjelasan, pergilah.
Aku meninggalkan jejak tanpa menoleh ke belakang, tanpa memastikan ada mata
yang tinggal. Setiap tanda kutaruh seperti teka-teki kecil di jalan sepi—bukan
untuk ditunjuk, bukan untuk diikuti, hanya agar aku tahu aku pernah lewat di
sana.
Aku tidak sedang mengumpulkan tepuk tangan. Aku sedang mengumpulkan
sisa-sisa diriku yang terserak. Dan jika di akhir perjalanan ini aku tetap
menjadi sebuah rahasia, setidaknya aku adalah rahasia yang tercatat.

0 Komentar