RAHASIA YANG DICATAT

 

Es Es - Ikon Blog

Datang begitu saja. Di dalam kepala, ada keramaian yang tidak ingin kuakomodasi. Ada sebuah keinginan purba yang muncul tiba-tiba: aku ingin dipahami. Aku ingin seseorang—siapa saja—masuk ke dalam kepalaku, melihat tumpukan paradoks ini, lalu mengangguk tanpa bertanya.

Namun, tepat di samping keinginan itu, berdiri rasa malas yang luar biasa. Rasa malas yang lahir dari kesadaran bahwa bahasa sering kali adalah pengkhianat. Untuk menjelaskan satu inci perasaan, aku butuh ribuan kata, dan bahkan setelah seribu kata terucap, orang lain hanya akan menangkap apa yang mampu mereka tampung, bukan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan.

“Kenapa kau diam saja?” tanya sisi yang rindu validasi.
“Karena bicara itu melelahkan,” ujar sisi lainnya yang menyepi.
“Tapi kalau kau diam, kau akan selamanya sendirian.”
“Tak lebih baik sendirian, tapi kerap disalahpahami adalah sebuah siksaan.”

Ini adalah kutukan. Aku merasa seperti sebuah buku yang diletakkan di rak paling pojok, berdebu, dengan judul yang sulit dibaca. Aku ingin seseorang menghampiri dan membacaku sampai tuntas, tapi aku sendiri yang menyembunyikannya. Aku sengaja mengunci pintunya, lalu aku mengeluh kenapa tidak ada yang bertamu.

Bukankah ini sebuah lelucon? Aku meletakkan aksara untuk dibaca, namun aku membenci pertanyaan. Aku membagikan potongan jiwaku dalam puzzle tapi aku menutup kolom komentar di pikiranku sendiri.

Mungkin, aku tidak benar-benar ingin dipahami oleh orang lain. Mungkin, aku sendiri yang tidak paham diri sendiri. Sebagaimana aksara di kertas, aku tidak harus menjelaskan. Ia tidak pernah bertanya “kenapa?” atau “maksudmu apa?”. Ia hanya menerima. Ia adalah wadah bagi semua ketidakjelasan yang perlu dijelaskan dengan ketidakjelasan.

Jika dunia adalah pasar yang bising, aku adalah penjual yang malas berteriak. Aku hanya akan duduk di pojok, menaruh barang daganganku di atas meja kayu yang rapuh, lalu membiarkan orang lewat begitu saja. Jika kau paham, ambillah. Jika kau butuh penjelasan, pergilah.

Aku meninggalkan jejak tanpa menoleh ke belakang, tanpa memastikan ada mata yang tinggal. Setiap tanda kutaruh seperti teka-teki kecil di jalan sepi—bukan untuk ditunjuk, bukan untuk diikuti, hanya agar aku tahu aku pernah lewat di sana.

Aku tidak sedang mengumpulkan tepuk tangan. Aku sedang mengumpulkan sisa-sisa diriku yang terserak. Dan jika di akhir perjalanan ini aku tetap menjadi sebuah rahasia, setidaknya aku adalah rahasia yang tercatat.

back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar