Aku selalu merasa dunia lebih masuk akal jika dilihat dari balik kaca
benggala. Dari sana, orang-orang tampak sedikit terlalu sibuk, sedikit terlalu
konyol, atau terlalu yakin pada arah yang sedang mereka tuju. Semuanya jadi
agak bengkok, tapi justru itu yang membuatnya mudah diterima. Selama aku hanya
melihat dan tidak perlu turun ke jalan, kekacauan terasa seperti pemandangan.
Bisa dinikmati, bisa dilewati.
Masalahnya muncul saat aku harus turun dan menjadi bagian dari gambar yang
sama. Begitu kaki menginjak aspal, kaca benggala itu pecah. Jarak yang tadi
nyaman langsung menghilang. Di antrean panjang atau pasar yang sesak, tubuhku
terasa seperti baut yang dipaksa masuk ke lubang yang kekecilan. Ada sikut yang
tidak sengaja, ada napas orang lain yang terlalu dekat, ada bau knalpot yang
menetap lebih lama dari yang kuinginkan. Di situ, dunia tidak lagi bengkok atau
lucu—ia hanya penuh.
Aku sering menganggap manusia makhluk yang aneh. Kami bisa berdiri sangat
dekat, tapi masing-masing sibuk mengamankan pikirannya sendiri. Tidak ada yang
benar-benar ingin mengenal. Semua hanya ingin cepat selesai. Berbagi ruang
bukan karena ingin, tapi karena tidak ada alternatif lain.
Sebenarnya ada keinginan untuk ikut bergabung. Setidaknya terlihat mau. Tapi
keinginan itu biasanya berhenti di jarak aman, seperti melihat api dari
kejauhan. Cukup dekat untuk tahu panasnya nyata, tapi tidak sampai harus
menanggung akibatnya. Kerumunan mulai melelahkan saat mereka menuntut
keseragaman reaksi—tertawa di waktu yang sama, marah pada hal yang
sama—seolah-olah perasaan juga perlu disamakan agar tidak mencolok.
Di tengah semua itu, aku sering memilih membeku. Dari luar mungkin terlihat
tenang, padahal lebih sering karena tidak tahu harus bergerak ke arah mana. Aku
melihat orang-orang sibuk dengan urusan kecilnya: membetulkan rambut saat ada
cermin, mengunyah permen terlalu lama, atau menatap sesuatu agar tidak perlu
membuka percakapan. Aku menyebutnya tontonan gratis, meski sadar aku juga
bagian dari pemandangan itu.
Menjaga jarak sering disalahartikan sebagai keangkuhan. Bagiku, itu lebih
mirip cara bertahan. Dengan tidak terlalu dekat, tidak ada yang perlu
dijelaskan. Tidak ada ekspektasi yang harus dipenuhi. Hubungan paling jujur
mungkin hanya terjadi di lampu merah: dua orang berhenti bersamaan, saling tahu
ada manusia lain di sebelahnya selama beberapa detik, lalu pergi ke arah
berbeda tanpa perlu menyapa.
Kerumunan tetap penting, aku tahu. Dunia butuh suara
agar bunyi di kepalaku tidak terlalu bising.
Ujungnya, aku tetap memilih duduk di pojokan sambil
bermain game dengan wajah berwibawa—setidaknya begitu kelihatannya.

0 Komentar