Orang-orang mengenalnya sebagai Motivator Spesialis Pemerhati Anak Nasional.
Dalam setiap kesempatan, ia mengatakan bahwa jangan mengatakan jangan
kepada anak kecil. Menurutnya, larangan hanya akan membuat anak tumbuh dengan
rasa takut, kehilangan keberanian mencoba, dan menganggap dunia sebagai
kumpulan hal yang tidak boleh disentuh. Anak-anak, katanya, membutuhkan
kebebasan untuk mengenal kehidupan, sementara orang dewasa cukup mendampingi
agar mereka tidak tersesat terlalu jauh.
Nasihat itu disampaikannya dengan wajah serius, seolah-olah ia baru saja
menemukan cara memperbaiki dunia yang selama ini rusak hanya karena satu kata.
Orang-orang mengangguk. Sebagian mengagumi pemikirannya, sebagian lagi
mungkin sedang memikirkan hal lain, tetapi memilih mengangguk karena itu lebih
mudah daripada berdebat.
Suatu sore, motivator itu bertamu ke rumah seorang kawan. Sambil berbincang
tentang kehidupan dan pola asuh anak, ia menumpang mengecas HP-nya di dekat
sofa. Di meja tersedia beberapa potong kue. Si balita empunya rumah mengambil
satu, memakannya dengan lahap, lalu mengusap tangan yang berminyak ke bajunya
sendiri.
“Jangan!” spontan orang tuanya berseru.
Motivator itu segera mengangkat telunjuk.
“Nah, ini contoh yang harus kita hindari. Jangan mengatakan jangan kepada
anak. Kita harus memberikan pemahaman, bukan sekadar larangan.”
Orang tua itu mengangguk. Mungkin ia sedang belajar, mungkin juga sedang
berusaha memahami bagaimana membersihkan baju anak tanpa menggunakan kata yang
baru saja dinyatakan terlarang.
Percakapan berlanjut. Motivator itu kembali menjelaskan pentingnya
kebebasan, keberanian mencoba, dan lingkungan yang tidak membatasi perkembangan
anak. Sesekali ia mengangguk sendiri, seolah-olah sedang menjadi saksi atas
kebenaran ucapannya.
Beberapa menit kemudian, si balita melihat HP yang sedang dicas. Ia mencabut
kabelnya, mengangkat benda itu dengan kedua tangan, lalu mengayunkannya seperti
hendak membanting.
Sang motivator terkaget-kaget.
“JANGAN!”
back ------- next

0 Komentar