SUARA-SUARA YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA
Lorong menuju inti Arka terbentang
panjang, seperti terowongan yang tidak dibuat oleh tangan manusia atau makhluk
mana pun yang diketahui. Dinding-dindingnya memancarkan cahaya redup, berdenyut
pelan seperti napas makhluk raksasa yang sedang tertidur. Setiap langkah yang
mereka ambil memicu kilatan samar, seolah Arka sedang membaca mereka satu per
satu.
Ravi berjalan paling depan, memegang
pecahan prisma yang ia dapatkan dari rangkaian ujian sebelumnya. Pecahan itu
hangat—terlalu hangat, bahkan untuk benda padat. Seolah benda itu mengenali
sentuhannya lebih daripada ia mengenali dirinya sendiri.
Di belakangnya, Ardea menyusul
dengan langkah hati-hati, tombaknya disorongkan ke depan. Tatapannya tajam,
gelisah, namun berusaha tetap stabil. Keduanya bertemu dengan Nadara di sebuah
lorong persimpangan sempit. Mereka kembali bertiga. Sementara Liora ….entahlah.
Nadara berjalan paling belakang, mencatat sesuatu cepat-cepat pada buku kecil
yang biasanya ia gunakan untuk mencatat pola dan simbol kuno.
Tapi malam itu… ada sesuatu yang
berbeda dari Nadara.
Dan Ravi merasakannya pertama kali
saat mereka berhenti di persimpangan lorong lainnya.
==========
“Ada belokan ke kiri dan ke kanan,”
Ravi menunjuk. “Simbolnya berbeda. Kiri simbol mata tertutup, kanan simbol mata
terbuka.”
Ardea mendekat. “Lorong mata terbuka
biasanya terhubung ke ruangan observasi… bukan ke inti.”
Nadara menyahut tanpa menoleh dari
bukunya, “Tapi simbol mata tertutup berarti ruang suar—ruang gema. Itu hanya
digunakan untuk pengujian mental.”
“Kenapa kamu terlihat yakin sekali?”
Ravi bertanya.
Untuk sepersekian detik, Nadara
berhenti menulis.
Gerakan kecil. Hampir tidak
terlihat. Tapi Ravi yang mengenalnya cukup lama langsung menangkapnya.
Nadara jarang berhenti bergerak
kecuali ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Nadara menutup bukunya dengan
tenang. “Karena… aku pernah melihat pola seperti ini. Sebelumnya?”
Ardea menatapnya datar. “Kamu
seorang peneliti Arka gelap?”
Nadara menahan napas. Bukan karena
kaget… tetapi karena kalimat itu mengenai sesuatu yang sensitif.
“Aku bukan peneliti. Aku Penjaga,”
Nadara menjawab tanpa menatap mereka. “Aku hanya mempelajari apa yang bisa
menjelaskan dunia ini.”
Namun nada dingin di ujung
kalimatnya membuat Ravi menoleh.
Ardea memperhatikan Ravi seolah
ingin menyampaikan sesuatu—tapi tidak mengatakan apa pun.
Retakan kecil pertama muncul.
==========
Mereka memilih jalan kiri—mata
tertutup—karena simbolnya paling mendekati pola pada peta resonansi yang mereka
temukan sebelumnya.
Lorong itu semakin gelap semakin
jauh mereka melangkah, hingga satu-satunya cahaya berasal dari prisma di tangan
Ravi.
Saat cahaya prisma menyorot
dinding-dindingnya, Ravi menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengeras.
Dinding di sepanjang lorong itu
dipenuhi ukiran tangan. Ratusan. Mungkin ribuan.
Tangan manusia.
Atau sesuatu yang mirip manusia.
Seolah dinding itu memaksa
orang-orang yang lewat untuk meninggalkan jejak, atau… menelan mereka.
Ardea mendekat, menempelkan
telinganya pada dinding. “Kalian dengar?”
Ravi menggeleng. “Apa?”
“Bisikan…” Adrea menghentikan
kalimatnya, menoleh pada Ravi. “Tapi mungkin hanya gema.”
Nadara tiba-tiba berbicara, suaranya
lebih rendah dari biasanya. “Bukan gema. Itu residu. Ruang seperti ini
menyimpan ingatan.”
Ardea berbalik cepat. “Bagaimana
kamu tahu?”
Nadara terlihat terpeleset. Ia
terlalu cepat menjawab.
“Hanya… teori.”
Ardea menatapnya lama. “Atau kamu
tahu lebih banyak dari yang kamu katakan?”
Nadara menggenggam pisau kecil di
pinggangnya, tetapi tidak mengeluarkannya.
“Bukankah kita semua begitu?”
jawabnya dingin.
Sekali lagi, Ravi merasakan sesuatu
merayap masuk ke dalam kelompok kecil mereka—ketidakpercayaan. Halus, tetapi
nyata.
Seperti racun yang baru diteteskan.
Setelah beberapa menit berjalan,
lorong itu terbuka menjadi ruangan bulat besar. Di tengahnya terdapat kolam
kecil dengan air setenang kaca. Di dasar air terlihat symbol berputar—lingkaran
yang terhubung seperti sebuah mekanisme.
Ravi mendekat.
Begitu ia menyentuh permukaan air,
ruangan gemetar halus.
Dan suara terdengar.
Suara yang sama seperti saat Arvun
muncul.
“Ravi…”
Ravi tersentak mundur, hampir
menjatuhkan prisma. “Kalian dengar itu?!”
Ardea mengejar dan memegang bahunya.
“Tidak. Apa yang kamu dengar?”
“Suara… memanggil namaku.”
Nadara memicingkan mata,
memperhatikan Ravi seperti seorang peneliti mengamati objek eksperimen.
“Suara laki-laki atau perempuan?”
tanya Nadara.
“Perempuan.” Ravi mengusap wajahnya.
“Tapi berat. Seperti suara yang datang dari dalam tanah.”
Ardea tampak resah. “Arvun sudah
memperingatkanmu. Suara-suara seperti ini—”
“—bisa memanipulasi,” Nadara
memotong cepat. “Atau menghibahkan pengetahuan. Kita tidak tahu mana.”
Nada suaranya… terlalu cepat.
Terlalu penuh kepastian.
Ravi menatap Nadara. “Kamu terdengar
seperti… kau ingin suara itu bicara padaku.”
Nadara membeku.
Ardea bergerak satu langkah ke
depan, tubuhnya sedikit menghalangi Ravi dari Nadara.
Gerakan kecil. Tidak mencolok.
Tetapi Ravi menangkapnya.
Mengapa Ardea tiba-tiba melindungi
Ravi dari Nadara?
Retakan kedua muncul.
==========
Mereka memutuskan meninggalkan
ruangan itu sebelum resonansi semakin kuat. Tapi saat mereka berjalan keluar,
Ravi melihat sesuatu dari ujung matanya.
Nadara berjalan sedikit terlalu
dekat pada dinding, dan ketika cahaya prisma menyentuh permukaan ukiran tangan
itu…
… bayangan Nadara memanjang.
Tidak seperti bayangan manusia.
Lebih seperti sesuatu yang terpisah dari tubuhnya.
Ravi menghentikan langkahnya.
“Nadara… bayanganmu barusan…”
Tapi Nadara sudah berjalan jauh,
tidak menoleh.
Atau mungkin tidak mau menoleh.
Ardea berbisik lirih saat mereka
menyusul. “Ada yang tidak beres dengannya.”
Ravi menatap Ardea. “Dengan Nadara…
atau dengan kamu?”
Ardea terdiam.
Dan Ravi merasa dadanya kembali
mengeras.
Retakan ketiga.
===========
Setelah beberapa jam menempuh
lorong-lorong yang semakin berubah menjadi kanal energi, mereka kembali bertemu
dengan Liora pada ruang persimpangan besar. Rambut Liora dipenuhi serpihan debu
cahaya. Matanya terlihat lebih liar, tetapi sadar.
“Ravi!” Liora berlari mendekat. “Kau
juga mendengarnya, kan? Suara itu!”
Ravi gemetar kecil. “Apa yang kamu
dengar?”
“Seseorang… atau sesuatu… memanggil
kita. Kamu, aku, dan seseorang lagi—aku belum tahu siapa.”
Nadara melangkah maju. “Apa suara
itu menyuruhmu kembali ke sumbermu?”
“Tidak,” Liora menjawab cepat.
“Suara itu memperingatkan. Suara itu memintaku menjauh dari seseorang.”
Matanya bergerak cepat. Ravi
mengikuti arah tatapannya.
Liora
sedang menatap Nadara.
Untuk pertama kalinya sejak mereka
bertemu kembali, Nadara terlihat gelisah. Ardea mengangkat tombaknya sedikit.
Dan Nadara—yang biasanya
tenang—memasang wajah yang benar-benar sulit dibaca.
==========
“Baik,” Ravi akhirnya berkata,
memecah ketegangan. “Kita sadar sedang diawasi. Suara-suara ini bukan
kebetulan. Dan Arvun—”
“—sudah memperingatkanmu,” Nadara
memotong dengan suara rendah. “Tentang kami.”
Suasana ruangan membeku.
“Nadara,” Ravi menatapnya tajam,
“apa maksudmu ‘kami’?”
Nadara tersenyum tipis.
Senyum pertama yang tidak hanya
aneh—tetapi membuat bulu kuduk Ravi berdiri.
“Aku hanya mengingatkan.”
Liora maju setengah langkah. “Kamu
menyembunyikan sesuatu.”
Ardea menurunkan tombaknya, tetapi
tubuhnya tegang seperti busur siap lepaskan anak panah.
Ravi menarik napas dalam.
“Tapi aku ingin semuanya jujur mulai
sekarang.”
Tidak ada yang menjawab.
Dan Ravi merasa seolah ia sedang
berdiri di tengah lingkaran yang perlahan retak.
==========
Saat mereka keluar dari ruang itu,
lorong menuju inti Arka terbuka lebar.
Gelombang energy semakin kuat,
seolah mengetahui bahwa kelompok kecil ini akhirnya memasuki wilayahnya.
Namun sesuatu berubah di langkah
terakhir mereka.
Liora menghentikan Ravi dengan
mendadak. “Tunggu.”
“Ada apa?” Ardea menegang.
Liora menatap ke arah lorong gelap
itu. “Ada sesuatu di dalam. Menunggu.”
Nadara akhirnya bicara.
Suara lirih, tetapi penuh kepastian.
“Ya.”
Mereka menoleh ke arahnya.
Nadara berdiri tegak, matanya gelap
seperti menyimpan badai.
“Aku juga bisa merasakannya.”
Ravi menelan ludah.
“Siapa?”
Dan Nadara menjawab:
“Orang yang selama ini kalian semua
cari.”
Keheningan itu terasa lebih berat
daripada suara apa pun.
Dan di kejauhan, lorong bergetar
kecil—seperti menyambut mereka masuk.

0 Komentar