Banyak rencana belum juga kulakukan karena menunggu keadaan membaik.
Semuanya kusimpan dengan hati-hati, seperti benih unggul yang harus dijauhkan
dari panas, hujan, serangga, dan segala kemungkinan buruk. Aku tidak ingin
menanamnya sembarangan. Sayang sekali kalau sesuatu yang bagus berakhir dengan
kegagalan hanya karena salah memilih waktu. Maka kutunggulah musim yang tepat.
Ketika hujan datang, tanah terlalu basah. Ketika matahari muncul, cuaca
terlalu panas. Saat langit cerah, angin bertiup cukup kencang untuk menimbulkan
kekhawatiran baru. Selalu ada sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menunda.
Alam rupanya punya banyak cara untuk menghalangi rencana, meskipun sebagian
besar hambatan itu baru muncul setelah aku selesai memikirkannya.
Sementara itu, benih-benih di dalam amplop tetap aman. Tidak kehujanan,
tidak kepanasan, tidak diganggu ulat. Mereka terlindungi dengan sangat baik
dari segala sesuatu yang bisa membuatnya tumbuh. Kalau keselamatan adalah
tujuan utama, kurasa aku pantas mendapat penghargaan. Belum pernah ada kebun
yang begitu berhasil menjaga benihnya tetap menjadi benih.
Masalahnya, aku tidak sedang mengumpulkan benih.
Aku ingin sesuatu tumbuh. Aku ingin melihat hasil dari rencana yang selama
ini kususun, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai harapan. Namun, keinginan
itu rupanya harus melewati pemeriksaan panjang. Aku ingin memastikan tanahnya
cocok, cuacanya mendukung, dan kemungkinan gagal sudah ditekan sampai angka
yang bisa kuterima. Kalau memungkinkan, aku juga ingin mengetahui apakah
tanaman itu akan menghasilkan buah yang manis sebelum repot-repot menanamnya.
Sebuah permintaan yang wajar, menurutku. Toh, siapa yang ingin bersusah
payah untuk sesuatu yang belum tentu berhasil? Hanya saja, kalau dipikir-pikir,
aku bahkan belum bersusah payah. Aku baru bersusah payah membayangkan
kemungkinan bersusah payah.
Waktu terus berjalan tanpa menunggu persetujuanku.
Hari berganti, musim bergeser, dan hal-hal yang dahulu terasa masih jauh
perlahan mendekat. Anehnya, aku tetap merasa belum terlambat. Masih ada waktu,
pikirku. Benihnya juga belum ke mana-mana. Aku selalu bisa memulai nanti,
ketika keadaan lebih bersahabat.
Lagi pula, selama disimpan baik-baik, mestinya benih itu tidak akan ke mana-mana. Aku cukup tenang memikirkan kemungkinan itu, sampai suatu hari teringat untuk memeriksa kembali persediaan yang selama ini kujaga dengan penuh tanggung jawab.
Lho, sudah expired ternyata!

0 Komentar