BETAH

 

Es Es - Ikon Blog

Keinginan untuk berubah sudah lama tinggal di kepala, menyewa sebuah kamar kecil tanpa membayar uang sewa, tetapi rajin mengeluh tentang keadaan. Sesekali ia mengetuk pintu kesadaran, mengingatkan bahwa hidup perlu diperbaiki. Anggukan pun diberikan dengan khidmat, seperti seorang pegawai yang baru saja menerima surat teguran. Besoknya, semuanya kembali bekerja seperti biasa: memelihara kebiasaan yang sama sambil berharap hasilnya berbeda.

Masalahnya, perubahan selalu datang bersama ancaman kehilangan. Aku ingin lebih disiplin, tetapi takut kehilangan kemewahan menunda pekerjaan. Aku ingin lebih berani, tetapi sayang pada berbagai alasan yang selama ini melindungiku dari kemungkinan gagal. Aku ingin hidup lebih sederhana, tetapi belum rela berpisah dengan keinginan-keinginan yang bahkan jarang kugunakan. Rupanya, aku bukan hanya memelihara keburukan. Aku juga memberinya fasilitas lengkap, termasuk tempat tidur yang nyaman dan alasan untuk tetap tinggal.

Kebiasaan buruk memang licik. Ia tidak pernah memperkenalkan diri sebagai musuh. Ia datang memakai sandal rumah, membawa secangkir kopi, lalu duduk di sebelahku seperti teman lama. Ketika aku mulai curiga, ia mengingatkan bahwa kami sudah melewati banyak hal bersama. Benar juga. Ia menemaniku ketika gagal, menghiburku ketika kecewa, bahkan memberiku pembenaran ketika aku tidak ingin berusaha. Sulit membenci sesuatu yang begitu berjasa membuatku betah menjadi diriku yang sekarang.

Barangkali itu sebabnya perubahan terasa seperti pindah rumah. Kita sudah muak dengan atap bocor, dinding lembap, dan keran yang selalu menetes. Namun, begitu hendak pergi, kita sibuk mengingat letak setiap sakelar. Rumah baru mungkin lebih layak, tetapi kita belum tahu apakah kasurnya senyaman ini. Kita pun bertahan, bukan karena rumah lama menyenangkan, melainkan karena penderitaannya sudah hafal jalan menuju tubuh kita.

Aku sering mengira keberanian adalah kemampuan meninggalkan sesuatu yang buruk. Ternyata, kadang-kadang aku bahkan tidak sanggup meninggalkan hal buruk yang sudah menjadi bagian dari jadwal harian. Ada kenyamanan aneh dalam ketidaknyamanan yang berulang. Setidaknya, aku tahu kapan harus kecewa, kapan harus menyesal, dan kapan harus berjanji akan memulai semuanya nanti. Kalender pun mungkin lelah melihat begitu banyak niat dititipkan tanpa pernah diambil kembali.

Yang paling menggelikan, aku ingin menjadi manusia baru tanpa kehilangan hak istimewa sebagai manusia lama. Aku ingin hasil yang berbeda dengan biaya perubahan seminimal mungkin. Kalau bisa, kebiasaan burukku cukup dipindahkan ke sudut ruangan, jangan dibuang. Siapa tahu suatu hari masih diperlukan.

Sampai sekarang, aku masih berdiri di ambang pintu. Di belakangku ada hal-hal yang tidak kusukai, tetapi sudah kukenal. Di depanku ada kemungkinan-kemungkinan baik yang belum tentu menyukaiku.

Aku belum tahu kapan akan pergi. Aku hanya mulai curiga, jangan-jangan selama ini yang kusebut takut kehilangan bukanlah kehilangan sesuatu yang berharga, melainkan kehilangan alasan untuk tetap tinggal.


back ------- next

Posting Komentar

0 Komentar