Keinginan untuk berubah sudah lama tinggal di
kepala, menyewa sebuah kamar kecil tanpa membayar uang sewa, tetapi rajin
mengeluh tentang keadaan. Sesekali ia mengetuk pintu kesadaran, mengingatkan
bahwa hidup perlu diperbaiki. Anggukan pun diberikan dengan khidmat, seperti
seorang pegawai yang baru saja menerima surat teguran. Besoknya, semuanya
kembali bekerja seperti biasa: memelihara kebiasaan yang sama sambil berharap
hasilnya berbeda.
Masalahnya, perubahan selalu datang bersama ancaman kehilangan. Aku ingin
lebih disiplin, tetapi takut kehilangan kemewahan menunda pekerjaan. Aku ingin
lebih berani, tetapi sayang pada berbagai alasan yang selama ini melindungiku
dari kemungkinan gagal. Aku ingin hidup lebih sederhana, tetapi belum rela
berpisah dengan keinginan-keinginan yang bahkan jarang kugunakan. Rupanya, aku
bukan hanya memelihara keburukan. Aku juga memberinya fasilitas lengkap,
termasuk tempat tidur yang nyaman dan alasan untuk tetap tinggal.
Kebiasaan buruk memang licik. Ia tidak pernah memperkenalkan diri sebagai
musuh. Ia datang memakai sandal rumah, membawa secangkir kopi, lalu duduk di
sebelahku seperti teman lama. Ketika aku mulai curiga, ia mengingatkan bahwa
kami sudah melewati banyak hal bersama. Benar juga. Ia menemaniku ketika gagal,
menghiburku ketika kecewa, bahkan memberiku pembenaran ketika aku tidak ingin
berusaha. Sulit membenci sesuatu yang begitu berjasa membuatku betah menjadi
diriku yang sekarang.
Barangkali itu sebabnya perubahan terasa seperti pindah rumah. Kita sudah
muak dengan atap bocor, dinding lembap, dan keran yang selalu menetes. Namun,
begitu hendak pergi, kita sibuk mengingat letak setiap sakelar. Rumah baru
mungkin lebih layak, tetapi kita belum tahu apakah kasurnya senyaman ini. Kita
pun bertahan, bukan karena rumah lama menyenangkan, melainkan karena
penderitaannya sudah hafal jalan menuju tubuh kita.
Aku sering mengira keberanian adalah kemampuan meninggalkan sesuatu yang
buruk. Ternyata, kadang-kadang aku bahkan tidak sanggup meninggalkan hal buruk
yang sudah menjadi bagian dari jadwal harian. Ada kenyamanan aneh dalam
ketidaknyamanan yang berulang. Setidaknya, aku tahu kapan harus kecewa, kapan
harus menyesal, dan kapan harus berjanji akan memulai semuanya nanti. Kalender
pun mungkin lelah melihat begitu banyak niat dititipkan tanpa pernah diambil
kembali.
Yang paling menggelikan, aku ingin menjadi manusia baru tanpa kehilangan hak
istimewa sebagai manusia lama. Aku ingin hasil yang berbeda dengan biaya
perubahan seminimal mungkin. Kalau bisa, kebiasaan burukku cukup dipindahkan ke
sudut ruangan, jangan dibuang. Siapa tahu suatu hari masih diperlukan.
Sampai sekarang, aku masih berdiri di ambang pintu. Di belakangku ada
hal-hal yang tidak kusukai, tetapi sudah kukenal. Di depanku ada
kemungkinan-kemungkinan baik yang belum tentu menyukaiku.
Aku belum tahu kapan akan pergi. Aku hanya mulai curiga, jangan-jangan
selama ini yang kusebut takut kehilangan bukanlah kehilangan sesuatu yang
berharga, melainkan kehilangan alasan untuk tetap tinggal.

0 Komentar