Dua orang duduk berhadapan di sebuah kafe. Di atas meja terdapat dua cangkir
kopi, sepiring camilan, dan dua telepon genggam.
Salah seorang baru saja selesai bercerita tentang pekerjaannya.
“Sekarang pekerjaan makin banyak, tapi rasanya waktu malah makin sedikit,”
katanya.
Temannya mengangguk. Ia mengambil telepon genggam, melihat layarnya
sebentar, lalu meletakkannya kembali.
“Barangkali bukan waktunya yang
kurang. Kita saja yang makin banyak punya urusan.”
“Iya juga, ya.”
Mereka tersenyum. Percakapan berlanjut ke hal-hal ringan, sampai salah
seorang mulai bercerita tentang rekan kerjanya yang belakangan sering mengeluh.
“Aku kasihan sebenarnya. Dia kelihatannya punya banyak masalah, cuma kadang
cara bicaranya membuat orang lain ikut tidak nyaman.”
Temannya mendengarkan sampai cerita itu selesai. Ia mengangguk pelan, lalu
meraih telepon genggamnya. Jarinya bergerak di atas layar selama beberapa
detik.
“Kadang orang yang sedang punya masalah memang tidak tahu harus bercerita
kepada siapa. Mungkin dia cuma butuh didengarkan.”
“Benar juga. Aku belum memikirkan sampai ke situ.”
Ia mengaduk kopinya, meskipun tidak ada gula yang perlu dilarutkan.
“Kalau nanti dia cerita lagi, mungkin aku akan mencoba mendengarkan lebih
baik.”
“Bagus itu,” jawab temannya.
Mereka melanjutkan percakapan. Tentang harga kebutuhan sehari-hari, seorang
teman lama yang kabarnya akan pindah rumah, dan rencana bertemu lagi pada akhir
pekan.
Sampai akhirnya, salah seorang menghela napas.
“Padahal dulu kami dekat sekali. Sekarang kalau tidak aku yang menghubungi,
rasanya dia tidak pernah ingat.”
Temannya terdiam sebentar. Ia meraih telepon genggamnya, mengetik beberapa
kalimat, lalu kembali menatap lawan bicaranya.
“Barangkali dia sedang sibuk dengan kehidupannya sendiri. Kadang hubungan
memang berubah. Bukan berarti kita sudah tidak berarti bagi seseorang.”
Orang di hadapannya terdiam sesaat.
“Ya, mungkin juga.”
“Yang penting, kita tetap menjaga hubungan baik. Tidak perlu terlalu banyak
berharap, tapi juga jangan langsung berprasangka buruk.”
Temannya tersenyum.
“Setuju."
Pelayan datang membawa tagihan. Salah seorang merogoh saku, sementara
temannya memeriksa jumlah yang tertera. Mereka membagi pembayaran tanpa banyak
perdebatan.
“Kapan-kapan kita ngobrol lagi,” kata salah seorang.
Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Baru beberapa langkah meninggalkan kafe, salah seorang mengeluarkan telepon
genggamnya. Ia mengetik:
Bagaimana cara menanggapi teman yang baru saja memberikan nasihat dengan
baik agar hubungan tetap hangat dan alami ke depannya?
Ia membaca jawabannya sebentar, mengetik, lalu memasukkan
ponsel ke saku.
Di seberang jalan, temannya juga sedang melihat layar telepon genggam. Kedua
ibu jarinya bergerak cepat.
“Bagaimana cara memastikan teman yang tadi saya beri nasihat merasa benar-benar didengarkan, bukan hanya diberi jawaban basa-basi?”

0 Komentar